Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026

Image
Memasuki bulan Februari 2026, atmosfer Kota Semarang terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Bukan sekadar rutinitas awal bulan, tapi ada semacam "tabrakan budaya" yang unik. Jika biasanya event besar datang bergantian, tahun ini warga Semarang seolah diajak merayakan semuanya sekaligus: menyambut Tahun Baru Imlek sekaligus mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadan. Hari ini, tepat tanggal 1 Februari yang jatuh pada hari Minggu, cuaca di Kota Semarang tampak cerah merona dari pagi hingga menjelang sore. Meskipun begitu, bulan Februari disebut-sebut masih menjadi puncak musim penghujan. Cuaca memang masih sulit diprediksi; bisa saja terik di siang hari, namun seketika hujan lebat saat malam menyapa. Dua Hajatan Besar dalam Satu Pekan Bulan ini, Ibu Kota Jawa Tengah punya dua agenda besar yang waktunya saling berhimpitan. Ada Pasar Imlek Semawis yang menjadi ruh perayaan Tahun Baru Imlek di Pecinan, dan ada Dugderan yang menjadi tradisi wajib warga Semarang menyambut bula...

Festival Komukino Ke-8, Ajak Generasi Muda Peduli Budaya


Kami senang melihat acara kampus dilakukan di Kawasan Kota Lama. Mungkin saja karena temanya juga yang cocok, kali ini acara datang dari Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang atau USM yang menggelar Festival Komukino yang sudah menginjak usia kedelapan. Ada apa saja di sana?

Cuma 1 hari saja acara mereka berlangsung yang digelar Jumat siang, tanggal 24 Januari 2020 di Gedung Oudetrap, yang berlokasi dekat Taman Srigunting dan Gereja Blenduk. Kami turut hadir setelah dikabarin untuk datang oleh salah satu panitia.

Tema yang diangkat adalah “Semarangan, Kas!” yang bertujuan mengajak generasi muda untuk peduli dengan budaya di Indonesia.

Beberapa komunitas dilibatkan untuk menambah kesan Semarangan yang kental. Ada Komunitas Diajeng, Komunitas Kampoeng Hompimpa dan Komunitas Kampung Jawi.




Lewat komunitas ini, pengunjung yang masuk ke dalam lokasi acara dapat melihat sebagian budaya yang ada di Kota Semarang. Itu pemikiran kami. Plus foto-foto yang dipajang saat melewati pintu masuk.

Seminar kebudayaan

Rasanya tidak afdol jika acara kampus yang mengusung festival tidak diisi dengan seminar. Untunglah saat kami tiba, acara seminar belum dimulai. Kebenaran juga, salah satu pembicaranya kami kenal.

Ruangan gedung Oudetrap memiliki ruangan khusus untuk menggelar acara seperti seminar. Daya tampungnya juga besar. Mungkin bisa mencapai 200 orang atau lebih.

Kiri kanan : Mas Tri, Nuno, Ibu Nik dan moderator

Ada 3 pembicara yang menduduki kursi yang sudah dipersiapkan panitia, Mas Tri Subekso, S.S, M.Hum, Ketua Gambang Semarang Art Company.

Kemudian ada Nuno Orange, Announcer dan Music Director Gajahmada FM sekaligus Founder @semarangjajanterus. Meski seorang penyiar, kehadirannya lebih banyak berbicara soal kuliner Semarangan.

Dan terakhir, Ibu Nik Sutiyani, S.T, M.T selaku Kepala  Bidang Pengawasan Dinas Penataan Ruang Kota Semarang. Bagian ini, beliau berbicara tentang kemajuan Kota dan peran anak muda.

Materi-materi perbincangan mereka, ada di catatan kami. Kami akan ceritakan di halaman lainnya. Yang pasti, seminar ini mengangkat tema “Capture my Culture” dengan materi peran pemerintah dan masyarakat dalam upaya pelestarian budaya di Kota Semarang.


Dalam rilis yang kami terima, jumlah peserta yang hadir 170 peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Kami lupa menghitung secara terperinci karena asyik mendengarkan pemateri.

Flashmob yang mencuri perhatian

Kami pikir acara telah dibuka secara resmi, rupanya belum. Kegiatan lain festival Komukino ke-8 ini diisi dengan workshop fotografi yang dihadiri oleh Andre Aprianto, Jurnalis Metro TV.  Kami tidak mengikuti kelas ini. Menurut rilis, materi yang disampaikan adalah dasar-dasar fotografi dan jurnalistik.


Sebelum kami pergi meninggalkan lokasi, ada kejutan yang dipersiapkan panitia. Oh ternyata ada flashmob yang sudah diatur sedemikian rupa. Yang menarik dari flashmob ini adalah kemasannya dan lokasi yang digunakan.

Para penari tidak melakukan di dalam ruangan, melainkan di luar ruangan. Bisa dilihat dari video yang sudah kami tampilkan di Instagram TV berikut ini.


Ini adalah pembukaan dari rangkaian acara Festival Komukino dengan tajuk “Semarang Menari”. Para penari yang berjumlah 9 ini diiringi alunan gamelan yang sebelumnya beberapa penyanyi membuka flashmob. Beberapa lagu khas Semarang yang terdengar Gado-Gado Semarang dan Semarang Hebat.

Dan acara ditutup oleh penampilan Band Soegi Bornean yang membawakan beberapa single hitsnya sebagai puncak acara. Maaf kami tidak mengikuti sampai akhir.


Festival Komukino ke-8 adalah sebuah persembahan dari program studi Ilmu Komunikasi bagi kota Semarang untuk memperkuat rasa cinta masyarakat akan ragam budaya lokal yang ada di kota Semarang. 

Melalui festival ini diharapkan masyarakat khususnya generasi muda dapat memberikan sumbangsih gagasan dan peran untuk melestarikan budaya sekaligus membangun kota Semarang secara bersama-sama”, Timotius Andre, perwakilan mahasiswa Ilmu Komunikasi, USM dan penyelenggara festival Komukino.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

Kenapa Paket Xtra Combo Flex Tidak Ada di Aplikasi MyXL ?

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026

Mengawinkan Modem M3Y dengan Kartu 4G Smartfren

📱 Dilema Resolusi 5G di Semarang dan Kabar Vakumnya ASUS Smartphone Tahun 2026

🏃‍♂️ 23 Semarang BTS Run: Strategi Jenius Memasarkan "Debu Proyek" Menjadi Gaya Hidup