Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

Berkunjung Ke Pabrik Limun Oriental Pekalongan


Tujuan kami berikutnya adalah pabrik Limun. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, mengingat ini pertama kali, tempat yang dituju adalah rumah sederhana yang terlihat dari depan namun terdapat banyak generasi Z yang duduk bersama lingkaran pertemanan mereka sambil menikmati hidangan. Ini pabrik?

Usai mendapakan banyak informasi dari Museum Batik, langkah kami berlanjut ke Pabrik Limun yang dapat ditempuh hanya dengan jalan kaki. Kurang dari 5 menit jarak dari Museum ke lokasi berikutnya. 

Bayangan kami mendengar Limun adalah minuman biasa, dan kami akan bersenang-senang di sana dengan berbagai alat pabrik. Melihatnya lebih dekat bagaimana alat-alat digunakan dan aktivitas pekerjanya yang membuat.

Mengejutkan

Kesalahan besar kami datang ke sini adalah tidak menjelajah di mesin pencari tentang tempat yang kami kunjungi. Bayangan kami meleset, tapi ini suprise (kejutan).


Mungkin kaedah liputan yang biasa dilakukan berbeda dengan tujuan menjelajah seperti ini. Saat langkah kami tiba dan memasuki rumah tersebut, tempat ini seakan menjadi tempat nongkrong kaula muda.

Meja kasir dengan logo brand Oriental Cap Nyonya Silhuet Since 1920 memang benar, ini tempat yang kami jelajahi. Tapi kok banyak generasi Z muda dan tua yang sedang asyik makan siang di sini.

Selain itu, botol-botol Limun yang berwarna-warni di meja sana membuat suasana di sini yang digabungkan dengan rumah yang terlihat artistik ini memberi kesan kegembiraan. 

Lah, di mana pabriknya?

Bernostalgia

Ternyata pabrik berada di bagian bangunan lain yang masih satu bagian dari rumah Limun ini. Sebelum ke sana, kami makan siang dulu dan menyegarkan diri dengan Limun Oriental.


Kami jadi bernostalgia dengan minuman ini yang pernah kami rasakan waktu kecil. Mungkin kamu juga begitu? Harga per-botolnya sekitar 7 ribu dengan pilihan rasanya berjumlah 7 rasa.

Selain menyajikan minuman Limun, di sini terdapat menu makan siang ala-ala cepat saji. Sebuah kolaborasi dari pemilik tempat yang sudah menjadi generasi kelima semenjak pabrik berdiri dari tahun 1920.

Untuk minuman, kami menghabiskan dua botol dengan rasa yang berbeda. Plus, penyajian khusus khas Pekalongan, yaitu Soto Taoto. Entah apakah sudah kekenyangan, menu ini tidak kami habiskan.

Mari melihat pabrik 


Ini bagian penting yang sudah kami tunggu-tunggu. Limun Oriental sebagai pelopor pabrik rumahan yang memproduksi minuman bersoda khas memiliki fakta menarik, yaitu umur berdirinya lebih tua dibanding minuman merek Amerika Serikat, Coca Cola atau Sprite yang berdiri tahun 1944.

Mas Benardi (Tengah)

Saat kami memasuki pabrik, kami ditemani pemilik, Mas Benardi. Seperti ditulis sebelumnya, pabrik di sini adalah rumahan. Maka jangan membayangkan pabrik dengan ruangan besar. Ya, benar-benar rumah kosong yang diisi berbagai alat dan botol-botol.

Sayangnya, kunjungan kami tidak berjodoh dengan aktivitas pabrik yang saat itu sedang tidak bekerja.  Hari Jumat di Pekalongan adalah hari libur. Tidak ada proses pembuatan seperti mengolah gula yang katanya direbus dengan kayu bakar menggunakan loyang yang besar. Atau mesin untuk mencuci botol secara manual dan lainnya.

Dengan jumlah pekerja 13 orang dan mulai beraktivitas dari jam 8 pagi hingga 5 sore, produksinya sendiri mampu menghasilkan botol Limun Oriental sebanyak 500 dalam 1 jam. Sedangkan bagaimana botol-botol kosong ini digunakan, pemilik mengatakan bahwa ini dipesan dari Surabaya.

Kini, pemasaran Limun Oriental sudah tersebar ke mana-mana. Seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jakarta. Di Semarang sendiri juga sudah ada. Kami jadi ingin mencoba mencari Limun Oriental di Semarang yang katanya ada di Angkringan legend di jalan Wonodri Sendang Raya dan Cafe KYNZ di Banyumanik. 







...

Sebagai tempat tujuan wisata di Pekalongan, Limun Oriental yang punya sejarah panjang sangat menarik untuk direkomendasikan. Di tempatnya ini, ada pabrik yang dapat kita lihat langsung bagaimana proses pembuatannya dari awal hingga jadi.

Jangan datang hari Jumat seperti kami karena hari Jumat di Pekalongan adalah hari istimewa, maka jangan heran para pekerja pada libur di pabrik ini. 


Beberapa peninggalan sejarah juga disimpan rapi di sana. Tentu saja, jangan lupa menikmati minuman limun yang memiliki banyak rasa di sana. Atau bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh?

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

🍿 Selamat Datang Bioskop Ke-14, 23 Semarang XXI

👍 BYD Tech Culture Fest Semarang 2026, Mari Agendakan!

🧠 Mengenal Intel Core Ultra: Era Baru Laptop Berbasis AI untuk Kreator Mobile

🏗️ Realistis nan Futuristik: Menengok Kanopi Parkir Panel Surya Raksasa di Mal 23 Semarang

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026