Maret 2026 dibuka dengan sapaan cuaca cerah di hari Minggu, setelah semalam sebelumnya Semarang diguyur "hujan mewah" yang menyisakan genangan di beberapa ruas jalan. Memasuki bulan ketiga ini, intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi hingga akhir bulan. Jadi, sedia payung sebelum hujan tetap menjadi saran paling realistis, meski teriknya matahari Semarang juga siap menemani aktivitas Anda. Momen Puncak: Mudik dan Lebaran 1447 H Ramadan yang masih berlangsung dan berlanjut hingga pertengahan Maret membuat persiapan menjelang Idulfitri kian sibuk. Puncaknya, Idulfitri 1447 H diprediksi jatuh pada sekitar tanggal 20 Maret 2026. Bagi warga lokal, bersiaplah menghadapi "aspal ibu kota" yang semakin padat seiring kedatangan para pejuang rejeki dari perantauan. Bertemu sanak saudara memang menyenangkan, namun saat harus keluar rumah untuk liburan di tengah kemacetan kota, itulah tantangan sesungguhnya. Bagi Anda yang berencana mudik keluar Semarang, manfaatkan progra...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Hari pertama kegiatan Jateng On The Spot, Jumat (13/12), adalah berkunjung ke salah satu Kota Kreatif Dunia di bidang kerajinan dan seni rakyat, yaitu Pekalongan. Di tujuan awal, para peserta diajak membuat batik dengan teknik cap. Seperti apa suasananya?
Ini adalah kunjungan kali kedua kami ke Museum Batik Pekalongan yang buka setiap hari mulai jam 8 pagi hingga jam 3 sore. Tahun 2015, kami pernah ke sini dengan kegiatan yang kurang lebih sama.
Menawarkan pengalaman
Apakah kamu menyukai batik? Bila punya kesempatan, mampirlah ke sini untuk melihat beragam koleksi batik yang tentu saja menambah wawasanmu. Tiap tahun, museum punya tema yang dijadikan konsep besar dalam pameran yang diselenggarakan di 3 ruangan yang ada di dalam museum.
Tahun ini, Museum Batik Pekalongan mengangkat tema 'Satu Dekade Pengakuan Batik Indonesia Sebagai Warisan Budaya Dunia'. Beragam batik, bahkan alat-alat yang digunakan, dihadirkan di sini.
Sebelum melihat ruangan dengan beragam tema batik yang membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia, kami beserta rombongan menuju ruang workshop terlebih dahulu.
Ya, datang ke sini bukan saja mendapatkan banyak informasi, tapi juga menawarkan pengalaman yang bakal tidak terlupakan. Kami diajak membuat batik dengan teknik cap. Semua sudah dipersiapkan dari pihak museum.
Sangat mudah dan menyenangkan
Tidak mudah juga maksudnya untuk orang yang baru pertama kali. Tapi dengan bantuan pihak museum yang memberikan pelatihan, kami hanya mengikuti intruksi saja seperti yang dilakukan.
Kain putih yang sudah tersedia tinggal diberi cap batik yang bahannya tersedia di sebelah meja yang akan kami beri cap. Beberapa rekan bloger ada yang percaya diri melakukannya, beberapa lainnya ada yang sangat serius dan juga, selalu tersenyum ketika kami godain.
Setelah proses pencap-an selesai, kami disuruh menunggu karena proses akhirnya akan dilakukan pihak museum, yaitu pewarnaan dari seluruh kain. Kain putih yang sudah dicap akan direndam dengan pewarna dan dijemur biar hasilnya terlihat.
Sambil menunggu, kami diajak melihat ruang pameran. Namun karena kami datang hari Jumat, waktunya buat salat Jumat, kegiatan tur batik dihentikan sejenak.
Masjid yang berada di sebelah Museum adalah sesuatu yang tak kami pikirkan sebelumnya. Untuk bagian tur batik, kami akan buatkan di halaman berikutnya. Cerita untuk sesi ini, kami akhiri sampai di sini dulu. Ditunggu lanjutannya.
...
Museum Batik Pekalongan sebagai institusi pelestarian batik memang menjadi tempat konservasi koleksi kain batik dan menjadi pusat penelitian mengenai batik.
Ketika tujuan kunjunganmu ke Pekalongan, mampirlah. Hanya dengan tiket masuk 5 ribu rupiah untuk dewasa, dan seribu rupiah untuk anak-anak atau pelajar, di sini kita bisa berwisata edukasi dan sejarah.
Tidak perlu khawatir tentang koneksi internet di sini, karena diantara fasilitas Museum Batik Pekalongan, salah satunya tersedia free wifi.
Saat menggulir linimasa Threads , kami tertarik dengan sebuah unggahan yang menyoroti tren kekinian pada tempat-tempat baru di Kota Semarang, seperti coffee shop atau restoran. Apa yang disampaikan terasa menarik, karena dari sekian banyak sudut pandang yang kami temui, pemikiran akun ini cukup berbeda. Rasa penasaran membawa kami menelusuri tanggapan pengguna lainnya, dan inilah hasilnya. Adalah akun @dharmaputpra yang mengunggah sebuah utas pada Rabu, 11 Maret 2026. Dalam postingannya, ia menuliskan sebuah realita yang cukup tajam: "Sekarang Coffee Shop/Restoran baru buka di Semarang sudah nggak perlu KOL untuk promosi. Mereka baru buka 1-2 hari sudah jadi bahan rebutan content creator buat bahan media sosialnya." Membaca kolom komentar di utas tersebut, kami menemukan validasi dari para pelakunya langsung. Beberapa kreator justru merasa apa yang mereka kerjakan bukanlah sebuah "pekerjaan", melainkan cara untuk bersenang-senang. Era Mandiri: Bayaran dalam Bentuk...
Kami tidak menyangka bisa menikmati segelas kopi khas ala Turki ini secara langsung di Semarang. Biasanya, pemandangan unik ini hanya bisa kami saksikan melalui layar media sosial atau video pendek yang berseliweran di timeline . Namun, tambahan topping kurma di atasnya membawa cita rasa yang benar-benar di luar ekspektasi. Pengalaman ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kami ke Hotel Horison Nindya Semarang pada pertengahan Februari kemarin. Pihak hotel mengundang kami untuk mencicipi paket menu buka puasa yang mereka siapkan sebagai sajian spesial menyambut bulan Ramadan tahun ini. Sebagai penikmat kopi—meski bukan level fanatik—apa yang dihadirkan Horison Nindya tentu memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi pengunjung. Kapan lagi bisa melihat atraksi panci kecil yang digeser-geser secara ritmis di atas pasir panas? Uapnya mengepul pelan, menebarkan aroma kopi yang sangat kuat, pekat, dan berkarakter. Setelah proses seduh dirasa matang, karyawan yang bertugas menawark...
Tahun 2026 rupanya membawa persaingan operator seluler ke level yang cukup mencengangkan. Jika dulu kita merasa 10 GB masa aktif 3 hari sudah cukup besar, kini trennya bergeser ke angka yang lebih masif. Kami baru saja memantau aplikasi Bima+ milik Tri, dan jujur saja, daftar paket yang ditawarkan cukup membuat dahi berkerit. Bayangkan saja, ada pilihan 20 GB seharga 20 ribu untuk 3 hari , 30 GB seharga 30 ribu untuk 5 hari , hingga yang paling ekstrem: 75 GB seharga 50 ribu dengan masa aktif hanya 7 hari . Angka-angka ini memicu pertanyaan kritis bagi kami; apakah ini benar-benar inovasi yang memihak konsumen, atau sekadar strategi untuk menguras kuota dalam waktu singkat? Strategi "Hajatan" Data dalam Waktu Singkat Kami harus mengakui bahwa angka 75 GB dengan harga 50 ribu Rupiah adalah penawaran yang secara matematis sangat murah. Per gigabyte-nya tidak sampai seribu Rupiah. Namun, yang menjadi ganjalan adalah masa aktifnya yang hanya satu minggu. Bagi pengguna rumahan ata...
Alasan kuat mengapa kami setiap tahun selalu menyempatkan diri berbuka puasa di Masjid Layur (Masjid Menara) adalah ritual Kopi Arab -nya yang melegenda. Sensasi ikonik ini setara dengan bubur India di Masjid Pekojan; sebuah tradisi yang seolah menjadi menu wajib saat Ramadan di Semarang. Selain cita rasanya, suasana di dalam masjid ini memang selalu membuat candu. Rasa lelah mengayuh sepeda dari kediaman kami yang lumayan jauh seketika luruh begitu ban sepeda menyentuh area parkir masjid di kawasan Kampung Melayu ini. Suasana Syahdu di Kampung Melayu Selasa sore ( 24/2/2026 ), kami memilih waktu yang agak santai. Beruntung bukan Senin atau Kamis yang biasanya jadwal kami bertabrakan dengan hobi main bola di lapangan mini soccer . Sore itu, Kampung Melayu kembali membuktikan dirinya sebagai destinasi wisata religi yang kuat, terutama dengan sejarah masjidnya yang kini telah genap berusia 224 tahun . Bagi yang rutin mengikuti postingan kami, mungkin tidak ada yang terlalu "spesial...
Cuaca di Kota Semarang beberapa hari terakhir memang lagi hobi bercanda. Pagi sampai siang panasnya minta ampun, eh, menjelang sore mendadak guyur hujan. Tapi di tengah ketidakteraturan cuaca itu, sebuah notifikasi masuk ke kotak surel kami dan memberikan kejutan yang menyegarkan: Konfirmasi akun Trakteer kami resmi terverifikasi alias centang biru! Jujur saja, kami sempat dibuat kaget. Tidak ada pengajuan khusus, tidak ada pula penawaran yang kami tindaklanjuti sebelumnya. Tahu-tahu, lencana biru itu sudah nangkring di profil. Kami menduga, apresiasi ini muncul setelah kami sempat mengulas bagaimana Trakteer kini telah berevolusi. Dari yang awalnya sekadar platform "titip kopi" atau apresiasi digital transaksional, kini menjelma menjadi media sosial khusus bagi para kreator konten untuk membangun ekosistemnya sendiri. Apa Saja Keuntungan Akun Terverifikasi? Email yang mendarat di inbox kami pada 12 Maret 2026 kemarin bukan sekadar ucapan selamat biasa. Ada beberapa fitur e...
Comments
Post a Comment