Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Hari pertama kegiatan Jateng On The Spot, Jumat (13/12), adalah berkunjung ke salah satu Kota Kreatif Dunia di bidang kerajinan dan seni rakyat, yaitu Pekalongan. Di tujuan awal, para peserta diajak membuat batik dengan teknik cap. Seperti apa suasananya?
Ini adalah kunjungan kali kedua kami ke Museum Batik Pekalongan yang buka setiap hari mulai jam 8 pagi hingga jam 3 sore. Tahun 2015, kami pernah ke sini dengan kegiatan yang kurang lebih sama.
Menawarkan pengalaman
Apakah kamu menyukai batik? Bila punya kesempatan, mampirlah ke sini untuk melihat beragam koleksi batik yang tentu saja menambah wawasanmu. Tiap tahun, museum punya tema yang dijadikan konsep besar dalam pameran yang diselenggarakan di 3 ruangan yang ada di dalam museum.
Tahun ini, Museum Batik Pekalongan mengangkat tema 'Satu Dekade Pengakuan Batik Indonesia Sebagai Warisan Budaya Dunia'. Beragam batik, bahkan alat-alat yang digunakan, dihadirkan di sini.
Sebelum melihat ruangan dengan beragam tema batik yang membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia, kami beserta rombongan menuju ruang workshop terlebih dahulu.
Ya, datang ke sini bukan saja mendapatkan banyak informasi, tapi juga menawarkan pengalaman yang bakal tidak terlupakan. Kami diajak membuat batik dengan teknik cap. Semua sudah dipersiapkan dari pihak museum.
Sangat mudah dan menyenangkan
Tidak mudah juga maksudnya untuk orang yang baru pertama kali. Tapi dengan bantuan pihak museum yang memberikan pelatihan, kami hanya mengikuti intruksi saja seperti yang dilakukan.
Kain putih yang sudah tersedia tinggal diberi cap batik yang bahannya tersedia di sebelah meja yang akan kami beri cap. Beberapa rekan bloger ada yang percaya diri melakukannya, beberapa lainnya ada yang sangat serius dan juga, selalu tersenyum ketika kami godain.
Setelah proses pencap-an selesai, kami disuruh menunggu karena proses akhirnya akan dilakukan pihak museum, yaitu pewarnaan dari seluruh kain. Kain putih yang sudah dicap akan direndam dengan pewarna dan dijemur biar hasilnya terlihat.
Sambil menunggu, kami diajak melihat ruang pameran. Namun karena kami datang hari Jumat, waktunya buat salat Jumat, kegiatan tur batik dihentikan sejenak.
Masjid yang berada di sebelah Museum adalah sesuatu yang tak kami pikirkan sebelumnya. Untuk bagian tur batik, kami akan buatkan di halaman berikutnya. Cerita untuk sesi ini, kami akhiri sampai di sini dulu. Ditunggu lanjutannya.
...
Museum Batik Pekalongan sebagai institusi pelestarian batik memang menjadi tempat konservasi koleksi kain batik dan menjadi pusat penelitian mengenai batik.
Ketika tujuan kunjunganmu ke Pekalongan, mampirlah. Hanya dengan tiket masuk 5 ribu rupiah untuk dewasa, dan seribu rupiah untuk anak-anak atau pelajar, di sini kita bisa berwisata edukasi dan sejarah.
Tidak perlu khawatir tentang koneksi internet di sini, karena diantara fasilitas Museum Batik Pekalongan, salah satunya tersedia free wifi.
Sore itu, lini masa kami tak sengaja terpapar unggahan dari akun Instagram @kawisata tentang peluncuran Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026. Jujur saja, ini sebuah kejutan yang menyenangkan. Mengetahui gelaran malam peluncurannya dilaksanakan langsung di pelataran Lawang Sewu dengan gegap gempita, atmosfernya terasa begitu magis dan masif. Festival film pendek ini kembali menyapa setelah edisi pertamanya di tahun 2025 lalu sukses kami dokumentasikan di blog. Jika tahun lalu malam puncaknya berlokasi di Gedung Baru Ki Narto Sabdo, Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), tahun ini LOFF mengambil langkah berani dengan menempati ikon sejarah paling populer di Kota Atlas. Malam pembukaan yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026 kemarin pun tidak main-main. Agenda yang sebenarnya sudah masuk dalam radar kalender acara kami ini kembali dihadiri langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, serta turut dimeriahkan oleh kehadiran aktris nasional sekelas Nirina Zubir. Sebagai p...
Semarang tidak pernah kehabisan cerita tentang keberagaman. Di balik riuh rendah aktivitas kota bawah, kontur perbukitan Kota Atlas menyimpan sebuah pesona spiritual yang megah. Tempat ini bukan saja menjadi Pura terbesar di Kota Semarang, melainkan juga yang terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Berlokasi strategis di kawasan Jalan Sumbing, Pura Agung Giri Natha tidak hanya berdiri tegak sebagai pusat peribadatan suci, tetapi juga menjadi referensi kuat sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang ramah untuk dikunjungi masyarakat umum. Setelah sekian tahun berlalu, akhirnya kami kembali lagi melangkahkan kaki ke sini. Momentum kembalinya kami ke pura ini terasa pas karena bertepatan dengan adanya acara menarik dari rekan-rekan mahasiswa Universitas Semarang (USM). Melalui program studi kreatif mereka yang bertajuk 'Perjalanan Napak Tilas' , agenda tersebut sukses digelar pada hari Sabtu, 6 Juni 2026. Kunjungan kali ini sekaligus menjadi pengingat berharga akan memori masa lalu...
Cerita kali ini sedikit menggelitik sekaligus menjadi tamparan renyah bagi kami. Bagaimana tidak? Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang dari Uptown Mall BSB City menuju pusat Kota Semarang, kami selalu melakukan kesalahan konyol dalam memilih tempat menunggu bus. Kemana saja kami selama ini? Momen "Aha!" yang Mengubah Sudut Pandang Bagi pengelola blog yang sudah belasan tahun mengulas dinamika dan transportasi di Kota Semarang, menemukan hal baru di sudut kota yang sering dikunjungi itu rasanya magis. Namun, bagaimana jika momen penemuan itu sebenarnya adalah sebuah pengakuan dosa karena baru menyadari rute yang benar setelah bertahun-tahun keliru? Jujur, kami baru saja mengalaminya. Semua ini terungkap pada kunjungan kami ke Uptown Mall di kawasan BSB City pada tanggal 23 Mei kemarin. Kunjungan tersebut sebenarnya membawa misi lain, yaitu menonton film Keluarga Suami Adalah Hama di bioskop—sebuah ulasan film yang juga sudah kami bagikan di postingan sebelumnya. Namun, ...
Rasanya sudah biasa (normal), mal-mal sekarang hanya melayani pembayaran parkir kendaraan tanpa uang fisik. The Park Mall Semarang pun menerapkan hal yang sama. Namun meski begitu, pengguna kendaraan roda dua memiliki alternatif lain. Mari bicarakan itu nanti, fokus di pembayaran non tunai untuk kendaraan roda dua. Bagaimana dengan roda 4? Ya, sama saja. Pokoknya masuk ke bangunan parkir di The Park Mall, harus pakai pembayaran non tunai. Siapkan kartu pembayaran non-tunai Parkir di The Park Mall Semarang hanya melayani 2 kartu pembayaran non tunai, seperti Flazz BCA dan e-money. Oh, bukan 2 ternyata . Kartu Brizzi dari BRI juga bisa, termasuk Tap Cash dari BNI. Jadi, ada 4 kartu yang dapat dilayanin di sini. Karena pengalaman kami lebih untuk kendaraan roda dua, maka gambar yang kami tampilin di sini adalah suasana parkir roda dua. Yang belum tahu atau baru pertama kali ke The Park Mall menggunakan sepeda motor, parkirnya masuk sisi kiri. Cari saja arah masuk kendaraan masuk. Te...
Hari ini (12/6), kami mendadak terkejut melihat aktivitas Bitly yang tidak seperti biasanya. Karena penasaran, kami langsung memeriksa kotak masuk. Ternyata benar, ada pemberitahuan kabar terbaru yang datang ke email dotsemarang. Sepertinya kali ini kami harus pergi meninggalkan platform pemendek URL tersebut setelah bertahun-tahun setia menggunakannya. Ada yang mengalami hal serupa? Ini adalah nasib nyata yang harus diterima oleh para pengguna yang mengandalkan layanan gratisan. Tiba-tiba saja, platform mengubah kebijakannya secara sepihak. Sebuah langkah agresif yang tentu sangat berdampak bagi pengguna yang enggan atau belum siap beralih ke fitur berbayar. Bagi kami, sebagai blogger independen atau pembuat konten yang aktif membagikan tulisan di media sosial, Bitly sudah seperti menu sarapan harian. Platform dengan logo ikan ikonik ini selalu menjadi andalan utama untuk merapikan tautan panjang dari blog agar terlihat manis, ringkas, dan estetik saat disodorkan kepada pembaca. Namun...
Comments
Post a Comment