Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
[Review] Hotel Garuda Kopeng
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Hotel yang berada diantara gunung Telomoyo ini bisa jadi alternatif buat kamu yang ingin menginap. Harga satu malamnya berkisar 190 ribuan hingga 380 ribu rupiah. Berencana menaklukkan puncak gunung Telomoyo yang memiliki ketinggian 1.894 mdpl?
Kamis siang (20/2), kami mendapatkan kesempatan menginap satu hari di hotel Garuda Kopeng. Kedatangan kami dalam rangka kegiatan yang bertajuk 'Live in di Hotel' dari Disporapar Jateng.
Setelah tiba, kami hanya diberi kesempatan untuk menaruh barang-barang dahulu. Jangan membayangkan tempat menginap kami malam ini di sini seperti hotel pada umumnya. Yang ada, malah kebayang hotel Plaza Semarang dengan suasana menginap ala wisma. Maklum tiap peserta berbeda penempatan kamar.
Jumlah kamar
Kami baru bisa beristirahat setelah selesai semua acara yang berlangsung hingga malam. Kebenaran kali ini kami mendapatkan kamar yang berada di bagian tengah. Kalau kamu menggunakan kendaraan ke sini, kamu bisa menaruhnya di depan kamar.
Jumlah kamar hotel Garuda Kopeng sendiri berjumlah 32 kamar yang terdiri dari :
8 kamar VIP twin bed
6 kamar twin bed dengan kapasitas hunian 12 orang
16 kamar single bed
2 kamar triple bed dengan kapasitas hunian 6 orang.
Karena letaknya yang berada disekitar pegunungan, kamar di sini tanpa menggunakan AC. Bagusnya itu menghemat listrik buat pengelola. Tapi buat tamu yang tidak siap (pakaian seperti jaket), bersiap kedinginan.
Selimut yang kami gunakan tidak mampu menahan dingin yang menusuk tubuh. Bahkan menginjakkan lantai benar-benar sangat dingin.
Fasilitas hotel
Untuk kamu ketahui, hotel Garuda Kopeng dikelola langsung oleh Pemprov Jateng. Kami baru tahu ada yang beginian. Maka tidak heran, hotel ini fasilitasnya tidak selengkap hotel yang dikelola manajemen hotel yang profesional.
Sejarahnya sendiri, awalnya hotel Garuda dikelola oleh Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah yang pada saat itu hanya 5 kamar. Kemudian tahun 1996 sampa 2002 dikelola oleh KPBD Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah kamar sebanyak 5 kamar.
Dan tahun 2002 sampai tahun 2016, hotel dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebelum sekarang berganti menjadi Disporapar Jawa Tengah.
Di kamar sendiri, fasilitas kamar yang tersedia sebenarnya lebih dari cukup. Sudah ada televisi, meski kanalnya tidak lengkap. Colokan listrik tersedia, tapi sangat terbatas. Jangan lupa bawa sambungan colokan, biar bisa gunakan banyak.
Kamar mandinya lumayan dan sudah ada air panas. Kami pikir tanpa air panas, kami nggak kebayangkan bagaimana kami mandi di sini. Handuk dan sabun sudah ada. Untuk pasta gigi dan sikat gigi, sebaiknya kamu bawa sendiri dari rumah.
Lemari penyimpanan pakain tersedia, namun jangan berharap mencari sendal hotel. Di sini tidak ada. Untuk akses internet semacam wifi, ini juga terbatas jaraknya. Karena kami sedikit jauh dari kamar yang berada satu gedung dengan lobi, akses internet hanya dapat mengandalkan jaringan seluler.
Beruntung jaringan seluler lancar jaya di sini. Untuk sarapan, kami tidak mengerti apakah ada atau tidak. Ini mengingat karena adanya kegiatan kunjungan, sarapan yang disediakan ini hanya untuk peserta seperti kami atau sebagai tamu.
Bangunan dari jaman kolonial
Kami tak punya banyak waktu untuk menjelajah hotel secara keseluruhan seperti tur hotel pada umumnya yang beberapa kali kami lakukan di Semarang dengan melihat tiap kamar. Apalagi di sini sangat banyak dan beda ruangan.
Gambar yang tanpa watermark adalah milik @nyipenengah
Sebelum kami pergi dari hotel, hari kepulangan, kami menyempatkan diri berbincang dengan Bapak Yosis Ariyanto yang bertanggung jawab sebagai koordinator hotel.
Bangunan ini masih asli, menunjuk bangunan yang digunakan sebagai lobi. Bangunan ini peninggalan Belanda. Beliau tidak mengetahi secara detail tahun berapa.
Hanya menurut cerita, dulunya ini adalah wisma Garuda yang merujuk dari kata Garuda dengan singkatannya 'Gabungan Buruh Dagang' yang pada waktu itu masih ada kolonial di sini.
Dulunya bangunan ini atapnya menggunakan sirap, bukan genteng seperti yang kamu lihat. Di sini banyak transaksi dagang yang dilakukan oleh para pedagang untuk bertukar barang dan menjadi pasar.
Pak Yosis yang masuk tahun 2002 juga menjelaskan bahwa tempat ini dibuka secara umum tahun 1990-an. Sebelumnya, tempat ini hanya dipakai orang-orang dari kantor Gubenuran. Semisalnya ada kegiatan, tempat ini digunakan.
Tarif hotel Garuda Kopeng
Hotel Garuda sudah dilengkapi kamera pengawas atau CCTV. Dan juga, ada bangunan baru (lebih modern) yang dibangun pada tahun 2013 dengan tipe bangunan 2 lantai yang diberi nama Elang.
Tamu yang menginap di sini biasanya dari kalangan mahasiswa dan tamu yang berkeluarga. Bila ingin gunakan ruang meeting, di sini juga tersedia.
Tipe tarif kamar hotel :
Elang 1-2 - Rp 385.000
Elang 3-18 - Rp192.000
Rajawali 1-8 - Rp 220.000
Garuda 1,2,5 - Rp 330.000
Garuda 3,4 - Rp 297.000
Garuda 6 - Rp 220.000
Fasilitas TV, air panas
* Tambah kasur Rp 75.000/malam
* Tambah orang Rp 35.000/malam
*Data harga ini dapat berubah sewaktu-waktu bila pihak hotel mengubahnya.
Gedung Pertemuan (Merbabu)
4 Jam - Rp 350.000
6 Jam - Rp. 400.000
12 jam - Rp. 600.000
Standar meeting
Wisata menarik disekitar Hotel Garuda Kopeng
Kami sudah di bis dan dalam perjalanan menuju lokasi wisata di sekitar hotel. Salah satu wisata yang menarik, awal kedatangan kami, yang dekat hotel adalah Puncak Telomoyo. Menggunakan Jip, kami beserta rombongan dari hotel menuju lokasi. Nanti kami ceritakan keseruannya.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dotsemarang (@dotsemarang) pada
Tempat lainnya adalah yang kami kunjungi pagi hari sebelum sarapan pagi, yaitu Desa Menarik. Desa ini pernah kami kunjungi. Lihat di sini halaman yang sudah dipublish. Ada beberapa info baru dari desa menari, nanti juga kami ceritakan.
Dan terakhir, ada Top Selfie Pinusan Kragilan yang memanfaatkan rindangnya pepohonan Pinus. Oh ya, Ketep Volcano Centre yang kami kunjungi dalam perjalanan kembali pulang ke Semarang juga alternatif lokasi wisata sekitar hotel.
Info hotel
Beralamat di jalan Raya Salatiga - Magelang KM 14 Kopeng, Kabupaten Semarang, hotel berada pada jalur wisata Kopeng - Ketep. Hanya 500 meter dari lokasi. Untuk menghubungi hotel, bisa lewat telepon 0298 318178.
...
Dengan keterbatasan fasilitas, hotel Garuda Kopeng tetaplah salah satu rekomendasi penginapan yang berada di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
Pemandangan pagi hari Gunung Merbarbu sangat indah untuk dilewatkan. Tips kami, bawalah jaket yang tebal dan sendal. Takutnya kamu tidak kuat dengan cuaca dingin seperti kami. Jadi ingat tahun 2013 saat menginap di Wonosobo, penginapannya dingin juga.
Fenomena ini sejatinya adalah strategi influencer marketing lapis kedua yang digerakkan oleh agensi. Alih-alih menggelontorkan anggaran besar hanya untuk segelintir mega-influencer , mereka memilih menebar jala ke banyak akun kreator melalui sistem crowdsourcing . Syaratnya pun bervariasi, biasanya menyasar akun-akun dengan minimal followers di angka tertentu, misalnya 1.000 pengikut. Dengan mengerahkan puluhan hingga ratusan kreator secara serentak beberapa hari sebelum film rilis, terciptalah ilusi masif bahwa film tersebut sedang menjadi pusat perbincangan. Dari sudut pandang pemasaran, model ini memang sangat efektif mendongkrak awareness dalam waktu singkat. Begitu kami mencoba masuk ke dalamnya, kami biasanya ditarik ke dalam grup koordinasi—yang belakangan kami sadari isinya bukan cuma soal film, tapi juga berbagai penawaran kampanye lain dengan pola serupa. Dari pengalaman pribadi kemarin, perjalanannya ternyata cukup menguras energi hingga akhirnya kami memilih mundur karen...
Niat awalnya sebenarnya cuma mau mengecek info operasional terkait penutupan sementara area Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang pertengahan Juli kemarin. Tapi saat tiba di lokasi, perhatian kami justru teralih pada hal lain yang selama ini terlewatkan: keberadaan akses Wi-Fi gratis milik Pemkot Semarang. Minggu pagi (19/7), usai melipir sejenak menikmati suasana Car Free Day (CFD) di Simpang Lima, setang sepeda langsung kami arahkan menuju kawasan GOR Tri Lomba Juang. Begitu sampai dan merogoh gawai untuk memastikan kabar penutupan kawasan tersebut, kami baru menyadari smartphone sudah otomatis terhubung ke jaringan internet nirkabel. Jaringannya tampaknya terintegrasi dengan akses Wi-Fi publik di Simpang Lima, sehingga gawai yang pernah terkoneksi akan langsung masuk tanpa perlu repot melakukan login ulang. Spot Duduk yang Nyaman dan Teduh Sambil bersiap mengetes kualitas koneksinya, kami mengamati suasana sekitar selasar. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik duduk santai...
Sebagai pengelola blog yang porsinya lebih sering berkelana menyoroti dinamika ruang kota ketimbang mendalami isi piring, urusan kuliner terkadang jadi ranah yang penuh kejutan bagi kami. Seperti Nasi Glewo yang sempat kami ulas sebelumnya, perkenalan kami dengan Petis Kangkung juga berawal dari lini masa media sosial beberapa bulan lalu. Rasa penasaran itu akhirnya membimbing kami secara tidak sengaja ke sebuah kios kecil di Jalan Jolotundo: Warung Pecel & Gudangan Bu Joko . Siapa sangka, di balik kesederhanaan warungnya, tersimpan salah satu kuliner legendaris khas Semarang yang masih eksis merawat lidah warganya. Kejutan Rasa dan Sensasi Pedas yang "Nempel" Porsi petis kangkung yang dihidangkan tampak sederhana di atas piring lidi beralaskan kertas minyak. Kangkung rebus yang masih bertekstur renyah dipadu tauge segar, lalu diguyur bumbu petis udang khas Semarang yang pekat, gurih, dan manis. Namun, ada pelajaran berharga ketika memesan menu ini: jangan anggap remeh p...
Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Festival Kota Lama (FKL) Semarang resmi menginjak usianya yang ke-15 tahun pada penyelenggaraannya tahun ini. Digelar lebih panjang hingga 17 hari (4–20 September 2026) demi menyambut perhelatan akbar MTQ Nasional, hajatan budaya ini kembali menyedot perhatian publik sejak malam pembukaannya yang megah. Namun, di balik kemilau panggung utama dan ramainya Pasar Malam Sentiling yang berkolaborasi dengan pasar malam tradisional, ada kontras menarik yang luput dari pandangan mata. Siapa pun yang mampir ke kawasan heritage sejak pagi menjelang siang hari—jauh sebelum gerbang area utama dibuka atau car free night dimulai—mendapati suasana yang berjalan normal seperti hari biasa. Kawasan tampak "hampa atribut" karena aturan ketat konservasi sejarah, ditambah kontras telak gema branding-nya yang seolah tenggelam di bawah bayang-bayang gegap gempita MTQ Nasional. Bagaimana rupa festival di usianya yang ke-15 ini jika diamati dari dinamika kunjungan harian di luar jam operasional ut...
Comments
Post a Comment