Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026

Image
Selamat Tahun Baru 2026! Suara dar-dir-dor di langit Kota Semarang semalam menjadi penanda dimulainya perjalanan baru yang siap kita hadapi. Mari persiapkan segalanya dan jangan lupa simpan halaman ini sebagai kompas untuk mengarungi bulan Januari. Saat tulisan ini kami susun, langit Semarang tampak cerah merona. Kondisi yang berbanding terbalik dengan hari sebelumnya yang terus-menerus diselimuti mendung sejak pagi dan diguyur hujan dari siang hingga malam. Semoga ini menjadi pertanda baik, bahwa hal-hal sulit akan segera berganti dengan kebaikan di tahun yang baru. Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026 Agenda nasional, khususnya jadwal hari libur, tentu akan sangat memengaruhi ritme event di Kota Semarang. Kabarnya, tahun 2026 ini kita punya modal 17 hari libur nasional dan 8 hari cuti bersama . Dengan banyaknya tanggal merah, rencana liburan atau sekadar staycation di dalam kota sudah harus ditentukan dari sekarang. Apalagi tahun ini bulan puasa datang lebih awal. Silakan atur d...

🥤 Catatan Semarang IP Summit 2025: Saat Materi "Daging" Beradu dengan Rasa Haus yang Melanda

Ada satu pengalaman yang ingin kami sampaikan dan mungkin bisa jadi pembelajaran bersama. Sederhana sebenarnya, namun cukup membuat kami sedikit frustrasi di tengah kemegahan acara. Kesan mendalam yang kami rasakan saat menghadiri Semarang IP Summit 2025 seakan meninggalkan "lubang menganga" yang mengusik kenyamanan.

Masih ingat dengan ulasan Semarang IP Summit 2025 yang kami posting di blog bulan November lalu? Jika belum sempat baca, silakan mampir ke tautan ini.

Kami sangat tertarik hadir karena sesi talkshow-nya yang berbobot dan penuh "daging". Mulai dari tema comic & cartoon, film & animation, hingga game & AI-Tech. Meski harus diakui, pembahasan soal AI tidak sempat dieksplorasi lebih dalam karena keterbatasan waktu yang tersedia.

Dilema 3 Jam Tanpa Seteguk Air

Permasalahan muncul di sini. Kami sangat paham bahwa SOP di Radjawali Semarang Cultural Center (RSCC) terbilang sangat ketat. Mirip seperti saat hendak masuk ke bioskop, tas pengunjung akan diperiksa. Alhasil, botol minum yang sudah kami siapkan dari rumah terpaksa "tertahan" dan dilarang dibawa masuk ke dalam hall performance.

Awalnya kami merasa baik-baik saja karena antusiasme mendengarkan para pembicara jauh lebih besar. Informasi yang mengalir begitu padat membuat kami tak ingin melewatkan satu kalimat pun.

Sesi talkshow pertama berjalan mulus. Sesi kedua dan ketiga pun demikian. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan botol minum yang disediakan panitia di meja para pembicara mulai mengusik pandangan mata sekaligus kerongkongan kami.

Bayangkan, hampir 3 jam duduk tanpa jeda di dalam ruangan dingin tanpa menyentuh air minum sedikit pun. Melihat para pembicara dengan leluasa melepas dahaga di depan sana memberikan sensasi "iri" yang nyata bagi kami yang duduk di deretan kursi penonton.

Kehilangan Momentum vs Dehidrasi

Mungkin ada yang berujar, "Kan bisa keluar sebentar kalau haus?"

Nah, di sinilah letak dilemanya. Keluar dari hall utama RSCC itu bukan perkara "selangkah-dua langkah". Kami harus keluar lewat pintu atas, lalu berjuang melalui tangga atau lift hanya untuk menjangkau tempat botol minum tadi dititipkan. Proses "mendaki gunung melewati lembah" ini setidaknya memakan waktu 3 hingga 8 menit.

Apalagi ritme acara Semarang IP Summit kemarin sangat fast-paced. Selesai satu sesi diskusi, panitia langsung "tancap gas" ke sesi berikutnya. Jeda antar sesi yang sangat singkat membuat pilihan untuk keluar ruangan terasa seperti perjudian: berhasil dapat air, tapi harus rela kehilangan momentum atau poin penting dari pembicara.

Catatan Evaluasi untuk Penyelenggara

Berada selama tiga jam tanpa asupan air di ruangan ber-AC yang dingin tentu sangat menantang fokus. Harapannya, untuk event berdurasi panjang ke depannya, sisi kenyamanan audiens atau User Experience (UX) bisa lebih diperhatikan lagi oleh penyelenggara.

Mungkin bisa disediakan jeda coffee break yang lebih manusiawi, atau setidaknya ada solusi tengah agar penonton tidak perlu kehilangan momen berharga hanya untuk sekadar membasahi kerongkongan yang kering.

Secara keseluruhan, Semarang IP Summit 2025 tetaplah acara yang luar biasa dan sukses memotret potensi IP lokal secara apik. Namun, pelajaran berharga dari pengalaman ini adalah: materi yang "bergizi" di panggung akan jauh lebih nikmat diserap jika kondisi fisik audiensnya tetap terjaga (dan tentu saja, tidak kehausan).

...

Nah, kalau kalian sendiri gimana? Pernah nggak punya pengalaman serupa saat menghadiri event besar di Semarang atau tempat lainnya? Antara mau keluar ruangan tapi takut ketinggalan momen penting, atau malah punya tips sendiri biar tetap 'survive' di tengah durasi acara yang panjang? Yuk, bagikan cerita atau pendapat kalian di kolom komentar bawah ini!

Artikel terkait :

Comments