📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026
Jika tahun lalu perhatian kami pada penggunaan QR Code lebih banyak tertuju pada urusan finansial—seiring masifnya pelaku UMKM yang menggunakan QRIS—kali ini ceritanya berbeda. Fokus kami beralih pada dinding-dinding bangunan cagar budaya di Kota Lama Semarang. Sebuah langkah cerdas dari Pemerintah Kota Semarang untuk mendigitalkan narasi sejarah. Mari kita telusuri lebih dalam.
Meluruskan Mitos "Tak Ada Pemandu" di Kota Lama
Beberapa waktu lalu, sempat ramai sebuah unggahan di Threads yang mengeluhkan bahwa berwisata di Kota Lama itu sepi pemandu. Keluhan ini mungkin ada benarnya, terutama jika kita datang secara dadakan. Perlu dipahami, karakter wisata di Kota Lama memang berbeda dengan Lawang Sewu yang memiliki pemandu yang selalu standby di lokasi.
Di Kota Lama, kita perlu melakukan booking atau memesan jasa pemandu jauh-jauh hari. Hal ini wajar karena konsep wisatanya adalah kawasan terbuka yang bisa diakses secara cuma-cuma (free access), berbeda dengan Lawang Sewu yang merupakan objek wisata berbayar dengan manajemen pintu masuk yang ketat. Jadi, perencanaan memang kunci jika ingin menggali sejarah lebih dalam lewat jasa pemandu manusia.
QR Code: "Pemandu Digital" yang Setia Menunggu
Namun jangan khawatir, Pemkot Semarang sudah menyiapkan solusi bagi wisatawan yang datang tanpa rencana matang. Bangunan-bangunan cagar budaya di sini kini telah dilengkapi dengan kode QR atau barcode. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk melakukan tur mandiri, entah itu saat sedang jalan-jalan santai bersama keluarga, pasangan, rekan kerja, maupun teman.
Jika kita jeli memperhatikan plakat hitam penanda status Cagar Budaya—misalnya pada gedung Marba yang ikonik—kita akan menemukan sebuah kode QR kecil yang bersanding manis di sana. Kami sendiri baru menyadari keberadaannya saat mengikuti kegiatan tur dalam rangkaian pameran temporer pada akhir Desember lalu.
Kami pun sudah mencoba memindainya dan berhasil. Cukup arahkan kamera ponsel ke barcode tersebut, dan kita akan langsung diarahkan ke laman web yang memuat informasi lengkap; mulai dari sejarah bangunan, tahun berdiri, fungsi aslinya di era kolonial, hingga detail arsitekturnya. Menariknya, aktivitas ini seringkali memicu diskusi kecil yang hangat antar peserta jalan-jalan, membuat perjalanan terasa lebih hidup.
Realitas dan Tantangan di Lapangan
Meski teknologi ini sangat memudahkan, namanya juga fasilitas publik, tantangan tetap saja ada. Berdasarkan pantauan kami di lapangan, tidak semua proses pemindaian berjalan mulus. Ada kalanya kode sulit terbaca akibat pantulan cahaya matahari yang terlalu terik pada material plakat yang mengkilap.
Selain itu, faktor perangkat juga berpengaruh. Ada rekan yang lancar sekali memindai, namun ada juga yang harus berjuang ekstra karena faktor usia ponsel. Namun yang paling menyedihkan adalah cerita dari pemandu yang kami temui Desember lalu: ada saja tangan-tangan jahil yang nekat mencuri atau merusak plakat kode QR ini. Sungguh miris, padahal nilai utamanya bukan pada kepingan materialnya, melainkan pada "jendela ilmu" yang coba dibuka untuk setiap pengunjung.
Yuk, Jadi Wisatawan Cerdas!
Kehadiran kode QR ini mengajak kita untuk naik kelas, menjadi lebih dari sekadar pemburu konten estetik atau foto OOTD. Kita diajak untuk kembali menghargai narasi dan rekam jejak sejarah yang membuat bangunan-bangunan tua di Kota Lama ini tetap berdiri megah hingga hari ini.
Jadi, kalau besok mampir ke Kota Lama lagi, sempatkanlah untuk mendekat ke dinding gedungnya. Temukan kodenya, pindai, dan biarkan bangunan tua itu "bercerita" langsung ke genggamanmu. Selamat berwisata mandiri!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment