📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026
Kami melepaskan satu kesempatan menarik saat berkunjung ke Hotel Tentrem Yogyakarta bulan Agustus 2025 lalu. Alasannya sebenarnya sangat sederhana dan manusiawi: faktor kelelahan. Tiba di lokasi pada pagi hari setelah perjalanan panjang, fokus kami saat itu hanyalah mencari tempat duduk nyaman untuk sekadar bersantai sejenak.
Persis di depan area kami duduk, sebuah galeri dengan fasad elegan berbingkai hitam minimalis berdiri dengan anggunnya. Dari luar, pandangan kami hanya menangkap deretan busana batik yang dipajang rapi pada manekin. Jujur saja, saat itu kami hanya menikmatinya dari kejauhan. Apalagi, kehadiran staf yang ramah di sana seolah menambah suasana "adem" di tengah kemegahan lobi hotel.
Bagi Anda yang mengikuti linimasa kami, tentu tahu agenda utama kami di sana adalah menghadiri undangan acara ASUS Indonesia. Meski tidak menginap, Hotel Tentrem memberikan banyak impresi mendalam bagi kami. Selain keseruan event tersebut, fasilitas hotelnya pun luar biasa—bahkan kami sempat memposting tentang toiletnya yang sangat mewah hingga memiliki ruang sofa di dalamnya.
Setelah kembali ke rumah dan melakukan penelusuran lebih lanjut, barulah muncul rasa sesal karena tidak melangkahkan kaki masuk ke galeri tersebut. Ternyata, tempat yang kami pandangi itu bernama Galeri Sido Muncul.
Bukan sekadar toko suvenir hotel biasa, galeri ini merupakan etalase "diplomasi" jamu yang digagas oleh Irwan Hidayat (Bos Sido Muncul). Di sinilah Sido Muncul berhasil menaikkan derajat jamu yang biasanya identik dengan pasar tradisional menjadi sesuatu yang tampil eksklusif di hotel bintang lima. Sebuah langkah branding cerdas yang menyandingkan warisan lokal dengan kemewahan modern.
Di balik dinding kacanya, galeri ini ternyata berfungsi sebagai museum pribadi keluarga Hidayat. Pengunjung bisa menemukan alat penggiling jamu tradisional yang asli dan sudah berusia sangat tua. Selain itu, terdapat deretan foto dokumentasi masa awal pabrik mereka berdiri, memberikan kesan realistis bahwa raksasa industri jamu ini memiliki awal perjuangan yang luar biasa.
Salah satu ikon yang menarik perhatian (yang sayangnya hanya bisa kami pelajari lewat literasi kemudian) adalah keberadaan sepeda onthel tua di salah satu sudutnya. Sepeda ini menjadi simbol perjalanan distribusi jamu dari kampung ke kampung di masa lalu, jauh sebelum Sido Muncul memiliki armada logistik yang masif.
| Di tempat duduk di sana kami menunggu dan depannya ada galeri |
Sesuai fungsinya sebagai galeri, Sido Muncul juga memamerkan lini bisnis kain dan batik premium mereka. Batik-batik bermotif klasik dengan potongan modern ini sengaja dihadirkan untuk menarik minat tamu hotel, termasuk wisatawan mancanegara.
Produk kesehatan yang ditawarkan pun tergolong limited edition. Di sini, pengunjung bisa menemukan paket hampers kayu eksklusif atau varian produk kesehatan kelas atas yang jarang ditemukan di minimarket biasa. Segmentasinya memang khusus, sehingga harga yang ditawarkan pun sebanding dengan nilai eksklusivitasnya.
Untuk melengkapi pengalaman tulisan ini agar lebih mendalam, kami tambahkan video dari kanal YouTube Ivon Sariza yang diunggah dua tahun lalu. Semoga video ini bisa memberikan perspektif tambahan bagi Anda yang ingin melihat suasana bagian dalamnya secara lebih detail.
Saat menulis artikel ini, rasa "bersalah" karena hanya melihat dari luar benar-benar terasa nyata. Semoga halaman ini bisa menebus kesalahan yang kami buat, sekaligus menjadi pengingat bagi Anda: jika mampir ke Hotel Tentrem Jogja, jangan hanya duduk di depannya saja. Masuklah, dan rasakan sendiri bagaimana sejarah lokal bisa tampil begitu gagah.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment