📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026
Sebenarnya, kami tidak berencana hadir di pameran temporer bertajuk "Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos" yang digelar di Kota Lama ini. Namun, karena ada ajakan tur yang merupakan bagian dari rangkaian acara tersebut, akhirnya kami melipir juga. Siapa sangka, sebuah "ketidaksengajaan" justru membawa kami melihat sejarah Kota Lama lewat perspektif yang berbeda: media kartu pos lama.
Acaranya sendiri berlangsung pada 19-26 Desember 2025 di Gedung Oudetrap. Karena titik kumpul tur berada di dalam ruang pameran, mau tidak mau kami pun hanyut dalam koleksi yang dipajang.
Bukan Sekadar Foto Biasa
Pameran ini terasa istimewa. Kita diajak melihat bagaimana rupa Semarang (yang dulu akrab disapa Samarangh) di masa lalu. Mulai dari hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan hingga sudut-sudut jalanan era kolonial yang kini mungkin sudah berubah total fungsinya.
Momen ini juga menjadi saksi peluncuran buku sejarah "Kartu Pos Samarangh". Kabarnya, Semarang terpilih menjadi salah satu kota awal dalam proyek besar dokumentasi memori visual kota-kota besar di Indonesia, bersanding dengan Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.
Tak heran jika Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, hadir langsung saat pembukaan (19/12/2025). Sebagai kolektor benda bersejarah, kehadiran beliau seolah menegaskan betapa berharganya 198 kartu pos asli yang berhasil dihimpun dalam proyek ini.
Suasana di Bawah Atap Oudetrap
Memasuki ruang pameran di lantai atas Gedung Oudetrap, kita disambut kontras yang apik. Struktur atap kayu orisinal yang gagah seolah memayungi kepingan sejarah di bawahnya. Ruangannya lapang, memberi jeda bagi pengunjung untuk meresapi setiap detil tanpa harus berdesakan.
Di dinding putih, kartu pos raksasa dipajang—sebuah pilihan cerdas agar detail kecil yang dulunya hanya seukuran telapak tangan kini bisa dinikmati utuh. Sementara di tengah ruangan, vitrin kaca berjajar rapi menyimpan koleksi kartu pos asli.
Pencahayaan soft dari lampu sorot menciptakan atmosfer tenang, membuat pengunjung terdiam lama, mungkin sedang mencoba melakukan rephotography di dalam pikiran mereka; membandingkan jalanan yang mereka lalui tadi pagi dengan apa yang terekam ratusan tahun lalu.
Sajian Utama: Napak Tilas Visual
Waktu yang dinanti tiba. Seluruh peserta tur diajak berkeliling menuju lokasi ikonik seperti Gereja Blenduk, Gedung Marba, dan sudut lainnya yang tercatat dalam kartu pos. Di sinilah keseruannya. Kami ditantang untuk melakukan rephotography—memotret ulang sudut yang sama dengan panduan kartu pos lama.
Tentu saja, mendapatkan sudut yang presisi seperti dokumentasi abad ke-19 tidaklah mudah. Ada banyak perubahan fisik kota yang terjadi, meski bangunannya tetap sama. Namun, di situlah letak seninya. Kami seakan diajak naik mesin waktu, melihat bagaimana zaman mengikis atau justru mempercantik wajah Kota Lama.
...
Niat awal hanya mengikuti tur, nyatanya kami malah kepincut dengan pamerannya. Pengalaman ini mengingatkan kami bahwa sejarah tidak selalu kaku di buku teks; ia bisa terasa sangat dekat melalui selembar kartu pos yang diprint besar di dinding gedung tua. Kota Lama hari ini adalah hasil perjalanan panjang, dan pameran ini berhasil mengabadikan transisi itu dengan sangat manis.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment