Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026

Image
Maret 2026 dibuka dengan sapaan cuaca cerah di hari Minggu, setelah semalam sebelumnya Semarang diguyur "hujan mewah" yang menyisakan genangan di beberapa ruas jalan. Memasuki bulan ketiga ini, intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi hingga akhir bulan. Jadi, sedia payung sebelum hujan tetap menjadi saran paling realistis, meski teriknya matahari Semarang juga siap menemani aktivitas Anda. Momen Puncak: Mudik dan Lebaran 1447 H Ramadan yang masih berlangsung dan berlanjut hingga pertengahan Maret membuat persiapan menjelang Idulfitri kian sibuk. Puncaknya, Idulfitri 1447 H diprediksi jatuh pada sekitar tanggal 20 Maret 2026. Bagi warga lokal, bersiaplah menghadapi "aspal ibu kota" yang semakin padat seiring kedatangan para pejuang rejeki dari perantauan. Bertemu sanak saudara memang menyenangkan, namun saat harus keluar rumah untuk liburan di tengah kemacetan kota, itulah tantangan sesungguhnya. Bagi Anda yang berencana mudik keluar Semarang, manfaatkan progra...

🏙️ Nostalgia di Oudetrap: Mengintip Wajah "Samarangh" Lewat Selembar Kartu Pos

Sebenarnya, kami tidak berencana hadir di pameran temporer bertajuk "Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos" yang digelar di Kota Lama ini. Namun, karena ada ajakan tur yang merupakan bagian dari rangkaian acara tersebut, akhirnya kami melipir juga. Siapa sangka, sebuah "ketidaksengajaan" justru membawa kami melihat sejarah Kota Lama lewat perspektif yang berbeda: media kartu pos lama.

Acaranya sendiri berlangsung pada 19-26 Desember 2025 di Gedung Oudetrap. Karena titik kumpul tur berada di dalam ruang pameran, mau tidak mau kami pun hanyut dalam koleksi yang dipajang.

Bukan Sekadar Foto Biasa 

Pameran ini terasa istimewa. Kita diajak melihat bagaimana rupa Semarang (yang dulu akrab disapa Samarangh) di masa lalu. Mulai dari hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan hingga sudut-sudut jalanan era kolonial yang kini mungkin sudah berubah total fungsinya.

Momen ini juga menjadi saksi peluncuran buku sejarah "Kartu Pos Samarangh". Kabarnya, Semarang terpilih menjadi salah satu kota awal dalam proyek besar dokumentasi memori visual kota-kota besar di Indonesia, bersanding dengan Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. 

Tak heran jika Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, hadir langsung saat pembukaan (19/12/2025). Sebagai kolektor benda bersejarah, kehadiran beliau seolah menegaskan betapa berharganya 198 kartu pos asli yang berhasil dihimpun dalam proyek ini.

Suasana di Bawah Atap Oudetrap 

Memasuki ruang pameran di lantai atas Gedung Oudetrap, kita disambut kontras yang apik. Struktur atap kayu orisinal yang gagah seolah memayungi kepingan sejarah di bawahnya. Ruangannya lapang, memberi jeda bagi pengunjung untuk meresapi setiap detil tanpa harus berdesakan.

Di dinding putih, kartu pos raksasa dipajang—sebuah pilihan cerdas agar detail kecil yang dulunya hanya seukuran telapak tangan kini bisa dinikmati utuh. Sementara di tengah ruangan, vitrin kaca berjajar rapi menyimpan koleksi kartu pos asli. 

Pencahayaan soft dari lampu sorot menciptakan atmosfer tenang, membuat pengunjung terdiam lama, mungkin sedang mencoba melakukan rephotography di dalam pikiran mereka; membandingkan jalanan yang mereka lalui tadi pagi dengan apa yang terekam ratusan tahun lalu.

Sajian Utama: Napak Tilas Visual 

Waktu yang dinanti tiba. Seluruh peserta tur diajak berkeliling menuju lokasi ikonik seperti Gereja Blenduk, Gedung Marba, dan sudut lainnya yang tercatat dalam kartu pos. Di sinilah keseruannya. Kami ditantang untuk melakukan rephotography—memotret ulang sudut yang sama dengan panduan kartu pos lama.

Tentu saja, mendapatkan sudut yang presisi seperti dokumentasi abad ke-19 tidaklah mudah. Ada banyak perubahan fisik kota yang terjadi, meski bangunannya tetap sama. Namun, di situlah letak seninya. Kami seakan diajak naik mesin waktu, melihat bagaimana zaman mengikis atau justru mempercantik wajah Kota Lama.

...

Niat awal hanya mengikuti tur, nyatanya kami malah kepincut dengan pamerannya. Pengalaman ini mengingatkan kami bahwa sejarah tidak selalu kaku di buku teks; ia bisa terasa sangat dekat melalui selembar kartu pos yang diprint besar di dinding gedung tua. Kota Lama hari ini adalah hasil perjalanan panjang, dan pameran ini berhasil mengabadikan transisi itu dengan sangat manis.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

🚲 Car Free Day Semarang Libur Selama Ramadan 2026, Kapan Aktif Lagi?

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026

🥣 Menghidupkan Kembali Nasi Glewo, Kuliner Langka Semarang di Pasar Ambyar Horison Nindya

📌 Dugderan Semarang 2026: Menikmati "Gong" Terakhir di Pelataran MAJT

🌙 Branding "Kurma" MAJT: Wajah Baru Program Ngabuburit yang Lebih Estetik dan Digital