Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026

Image
Memasuki bulan Februari 2026, atmosfer Kota Semarang terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Bukan sekadar rutinitas awal bulan, tapi ada semacam "tabrakan budaya" yang unik. Jika biasanya event besar datang bergantian, tahun ini warga Semarang seolah diajak merayakan semuanya sekaligus: menyambut Tahun Baru Imlek sekaligus mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadan. Hari ini, tepat tanggal 1 Februari yang jatuh pada hari Minggu, cuaca di Kota Semarang tampak cerah merona dari pagi hingga menjelang sore. Meskipun begitu, bulan Februari disebut-sebut masih menjadi puncak musim penghujan. Cuaca memang masih sulit diprediksi; bisa saja terik di siang hari, namun seketika hujan lebat saat malam menyapa. Dua Hajatan Besar dalam Satu Pekan Bulan ini, Ibu Kota Jawa Tengah punya dua agenda besar yang waktunya saling berhimpitan. Ada Pasar Imlek Semawis yang menjadi ruh perayaan Tahun Baru Imlek di Pecinan, dan ada Dugderan yang menjadi tradisi wajib warga Semarang menyambut bula...

🥣 Menghidupkan Kembali Nasi Glewo, Kuliner Langka Semarang di Pasar Ambyar Horison Nindya

Saat pertama kali mengitari deretan menu yang siap dihidangkan, pandangan kami sempat terhenti pada sebuah stall sederhana. Namanya Nasi Glewo. Awalnya terlihat biasa saja, namun setelah mendapatkan penjelasan dari pihak hotel, kami langsung bergegas mengambil piring. Oh, jadi begini penampakannya. Pernahkah terpikir ada kuliner Semarang yang sekilas mirip dengan Nasi Gandul khas Pati?

Jujur saja, dalam dunia perkulineran kami merasa masih cukup awam. Namun jika bicara soal rekomendasi kuliner di Semarang, mungkin beberapa arsip artikel yang sudah kami tulis bisa menjadi referensi. Menariknya, Nasi Glewo belum pernah sekalipun mampir dalam postingan blog kami. Perjumpaan di Hotel Horison Nindya Semarang ini resmi menambah daftar panjang kekayaan rasa lokal yang patut kami rekomendasikan, meski untuk saat ini, lokasi yang baru bisa kami temukan adalah di hotel ini saja.

Kuliner Legendaris yang Kian Langka

Rasa penasaran membawa kami menelusuri jejaknya di jagat maya. Berbeda dengan Tahu Gimbal atau Lunpia yang menjamur di setiap sudut jalan, Nasi Glewo kini masuk kategori kuliner langka. Dahulu, menu ini lazim dijajakan oleh pedagang keliling atau mengisi sudut-sudut pasar tradisional di Kota Atlas.

Kini, Horison Nindya menghadirkannya kembali untuk memperkaya deretan menu buka puasa bertajuk "Pasar Ambyar". Langkah pihak hotel ini bukan sekadar menangkap momen Ramadan, melainkan sebuah bentuk apresiasi untuk menghidupkan kembali memori kolektif warga Semarang terhadap cita rasa masa lalu.

Glewo: Gurihnya Santan dan Rempah Pilihan

Nama "Glewo" konon merujuk pada tekstur kuahnya. Secara tradisional, kuah Nasi Glewo menggunakan santan yang dimasak cukup lama hingga menghasilkan konsistensi gurih dan sedikit berminyak. Bumbunya didominasi rempah putih dan kuning seperti kemiri, bawang, serta kunyit, memberikan sensasi rasa yang lembut namun tetap kaya di lidah.

Ciri khas utama yang membedakannya dengan nasi gandul atau opor adalah penggunaan koyor (urat sapi) atau potongan jeroan sapi seperti babat dan iso. Untuk menjaga keotentikannya, Nasi Glewo biasanya disantap dengan taburan bawang goreng yang melimpah serta pendamping wajib berupa emping melinjo atau kerupuk udang.

Mirip Tapi Tak Sama dengan Nasi Gandul

Bagi yang awam, Nasi Glewo sering disalahpahami sebagai Nasi Gandul. Padahal ada perbedaan mendasar:

  • Warna & Rasa: Nasi Gandul cenderung lebih cokelat karena penggunaan kecap dan memiliki profil rasa yang lebih manis.

  • Aroma: Nasi Glewo lebih menonjolkan aroma rempah segar dengan gurih santan yang lebih light, terutama jika dinikmati saat masih panas.

Penyesalan yang Tertinggal di Dalam Toples

Namun, ada satu "tragedi" kecil yang kami alami. Di samping kuali Nasi Glewo yang mengepul, sebenarnya tersedia toples berisi emping melinjo. Karena terlalu asyik memotret dan terpesona aromanya, kami justru melewatkan emping tersebut dan langsung melahap nasinya begitu saja.

Kami baru menyadari belakangan bahwa emping adalah "jodoh" wajib Nasi Glewo. Rasa sedikit pahit-gurih dari emping berfungsi sebagai penyeimbang lemak santan agar lidah tidak cepat merasa enek. Pelajaran penting bagi kami: jika nanti bertemu menu ini lagi di Pasar Ambyar, jangan biarkan empingnya kesepian di dalam toples.

...

Meski tanpa kehadiran emping, eksekusi Nasi Glewo di Horison Nindya Semarang ini patut diacungi jempol. Tekstur koyornya pas, bumbunya meresap, dan penggunaan piring bermotif klasik memberikan kesan homey yang sangat kuat.

Bagi yang ingin bernostalgia atau sekadar penasaran dengan rasa kuliner Semarang yang mulai langka, menu ini bisa jadi pilihan menarik untuk agenda buka puasa nanti. Tapi ingat pesan kami: jangan lupa ambil empingnya!

📝 Catatan: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi saat menghadiri launching menu Ramadan dan bukan merupakan konten kerja sama atau berbayar.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

Agenda Jateng Fair 2018

🚲 Mengayuh Pedal ke Pasar Ambyar Nusantara di Hotel Horison Nindya Semarang

Fitur Pro TikTok, Pengguna Bisa Tingkatkan Kualitas Konten

🚗 Strategi Mal 23 Semarang Menjual "Debu Proyek" Lewat Komunitas Otomotif

📰 Menelusuri Jejak Tinta di Pecinan Semarang: Dari Rumah PoHan hingga Gang Pinggir (Bagian 1)