📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Saat pertama kali mengitari deretan menu yang siap dihidangkan, pandangan kami sempat terhenti pada sebuah stall sederhana. Namanya Nasi Glewo. Awalnya terlihat biasa saja, namun setelah mendapatkan penjelasan dari pihak hotel, kami langsung bergegas mengambil piring. Oh, jadi begini penampakannya. Pernahkah terpikir ada kuliner Semarang yang sekilas mirip dengan Nasi Gandul khas Pati?
Jujur saja, dalam dunia perkulineran kami merasa masih cukup awam. Namun jika bicara soal rekomendasi kuliner di Semarang, mungkin beberapa arsip artikel yang sudah kami tulis bisa menjadi referensi. Menariknya, Nasi Glewo belum pernah sekalipun mampir dalam postingan blog kami. Perjumpaan di Hotel Horison Nindya Semarang ini resmi menambah daftar panjang kekayaan rasa lokal yang patut kami rekomendasikan, meski untuk saat ini, lokasi yang baru bisa kami temukan adalah di hotel ini saja.
Rasa penasaran membawa kami menelusuri jejaknya di jagat maya. Berbeda dengan Tahu Gimbal atau Lunpia yang menjamur di setiap sudut jalan, Nasi Glewo kini masuk kategori kuliner langka. Dahulu, menu ini lazim dijajakan oleh pedagang keliling atau mengisi sudut-sudut pasar tradisional di Kota Atlas.
Kini, Horison Nindya menghadirkannya kembali untuk memperkaya deretan menu buka puasa bertajuk "Pasar Ambyar". Langkah pihak hotel ini bukan sekadar menangkap momen Ramadan, melainkan sebuah bentuk apresiasi untuk menghidupkan kembali memori kolektif warga Semarang terhadap cita rasa masa lalu.
Nama "Glewo" konon merujuk pada tekstur kuahnya. Secara tradisional, kuah Nasi Glewo menggunakan santan yang dimasak cukup lama hingga menghasilkan konsistensi gurih dan sedikit berminyak. Bumbunya didominasi rempah putih dan kuning seperti kemiri, bawang, serta kunyit, memberikan sensasi rasa yang lembut namun tetap kaya di lidah.
Ciri khas utama yang membedakannya dengan nasi gandul atau opor adalah penggunaan koyor (urat sapi) atau potongan jeroan sapi seperti babat dan iso. Untuk menjaga keotentikannya, Nasi Glewo biasanya disantap dengan taburan bawang goreng yang melimpah serta pendamping wajib berupa emping melinjo atau kerupuk udang.
Bagi yang awam, Nasi Glewo sering disalahpahami sebagai Nasi Gandul. Padahal ada perbedaan mendasar:
Warna & Rasa: Nasi Gandul cenderung lebih cokelat karena penggunaan kecap dan memiliki profil rasa yang lebih manis.
Aroma: Nasi Glewo lebih menonjolkan aroma rempah segar dengan gurih santan yang lebih light, terutama jika dinikmati saat masih panas.
Namun, ada satu "tragedi" kecil yang kami alami. Di samping kuali Nasi Glewo yang mengepul, sebenarnya tersedia toples berisi emping melinjo. Karena terlalu asyik memotret dan terpesona aromanya, kami justru melewatkan emping tersebut dan langsung melahap nasinya begitu saja.
Kami baru menyadari belakangan bahwa emping adalah "jodoh" wajib Nasi Glewo. Rasa sedikit pahit-gurih dari emping berfungsi sebagai penyeimbang lemak santan agar lidah tidak cepat merasa enek. Pelajaran penting bagi kami: jika nanti bertemu menu ini lagi di Pasar Ambyar, jangan biarkan empingnya kesepian di dalam toples.
...
Meski tanpa kehadiran emping, eksekusi Nasi Glewo di Horison Nindya Semarang ini patut diacungi jempol. Tekstur koyornya pas, bumbunya meresap, dan penggunaan piring bermotif klasik memberikan kesan homey yang sangat kuat.
Bagi yang ingin bernostalgia atau sekadar penasaran dengan rasa kuliner Semarang yang mulai langka, menu ini bisa jadi pilihan menarik untuk agenda buka puasa nanti. Tapi ingat pesan kami: jangan lupa ambil empingnya!
📝 Catatan: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi saat menghadiri launching menu Ramadan dan bukan merupakan konten kerja sama atau berbayar.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment