📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026
Sudah cukup lama kami tidak ikut serta dalam kegiatan walking tour sejarah di Kota Semarang. Jadi, begitu ada ajakan masuk, kami langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Kebetulan sekali, pemandunya adalah sosok yang sudah kami kenal baik. Kali ini, tujuannya adalah melihat sisi lain Kota Lama dari dimensi yang berbeda.
Kami tidak terlalu ambil pusing apakah tur ini merupakan bagian resmi dari rangkaian pameran temporer "Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos" yang tengah berlangsung di Gedung Oudetrap, atau memang agenda mandiri. Yang jelas, ajakan dari Mas Arry—sosok yang memang rajin mengajak kami keliling Semarang—selalu sayang untuk dilewatkan.
Nostalgia Lewat Selembar Kartu Pos
Jumat pagi (26/12/25), kami sudah merapat ke kawasan Kota Lama. Titik kumpulnya berada di dalam Gedung Oudetrap, tempat pameran kartu pos jadul yang sudah digelar sejak 19 Desember lalu. Sebelum melangkahkan kaki ke luar, kami menyempatkan diri mengitari koleksi yang dipamerkan sembari mendengarkan arahan singkat.
Fokus utama tur kali ini cukup unik: mencoba memotret ulang sudut-sudut kota yang terekam dalam kartu pos koleksi tahun 70-80an, atau bahkan mungkin lebih tua. Melihat gambar Gereja Blenduk tempo dulu di atas selembar kertas lusuh rasanya seperti diajak menaiki mesin waktu.
Tantangannya adalah membandingkan kondisi riil saat ini dengan apa yang ada di gambar tersebut. Rupanya, merekonstruksi sudut pandang yang sama di masa sekarang tidak semudah yang dibayangkan. Hampir semua elemen pendukung di sekitarnya sudah berubah, menyisakan bangunan-bangunan megah yang masih kokoh berdiri sebagai saksi bisu.
Menyelami Jejak Gambar di Tengah Keramaian
Suasana Kota Lama hari itu tergolong cukup ramai. Namun, rombongan kami tetap antusias berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Mas Arry dengan sigap mempresentasikan gambar-gambar kartu pos melalui tablet yang ia bawa. Perangkat digital ini memudahkan kami membandingkan langsung visual masa lalu dengan fisik bangunan yang ada di depan mata.
Sebagai pemandu bersertifikat, Mas Arry tak hanya menunjukkan gambar, tapi juga memperkaya wawasan kami dengan sejarah mendalam di balik tiap fasad bangunan. Bahkan, kami baru menyadari keberadaan barcode atau QR Code informatif di beberapa sudut bangunan justru berkat aktivitas tur ini.
| Lihat di sini artikel tentang barcode di Kota Lama |
Beberapa peserta tampak sangat gigih mencoba mendapatkan sudut foto yang persis sama dengan kartu pos. Namun, perubahan tata letak kota, penambahan taman, hingga papan reklame modern membuat upaya "reka ulang" tersebut menjadi pengalaman yang menantang sekaligus seru.
Cerita di Balik Profesi Pemandu
Menjelang waktu salat Jumat, kami kembali ke Gedung Oudetrap. Ruang pameran yang semula tenang berubah menjadi ruang diskusi yang hangat. Di sini, Mas Arry berbagi banyak pengalaman menariknya selama menjadi pemandu di Semarang.
| Hubungi beliau di Instagramnya |
Ada cerita tentang tur privat di mana kliennya hanya ingin mencari jejak seseorang di Semarang, hingga pengalamannya membawa turis mancanegara. Menariknya, bagi wisatawan asing, kualitas seorang pemandu justru dinilai dari seberapa kaya narasi dan cerita yang disampaikan. Semakin banyak cerita, semakin tinggi nilai apresiasinya.
Bagi rekan-rekan yang ingin mengeksplorasi sejarah Kota Lama dengan narasi yang mendalam, jasa pemandu seperti beliau sangat kami rekomendasikan. Silakan intip aktivitasnya di Instagram @arry.awan.
...
Menelusuri jejak gambar kartu pos jadul ternyata memberikan perspektif baru. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi ada diskusi menarik tentang perubahan wajah kota, perkembangan teknologi kamera, hingga perdebatan kecil tentang kapan sebuah taman mulai dibangun. Menyenangkan bisa kembali terlibat dalam kegiatan yang menghargai setiap sudut sejarah kota ini.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment