📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Tahun ini, kami memutuskan untuk mengambil sudut pandang yang berbeda. Jika biasanya ciri khas Dugderan yang kami incar adalah keriuhan arak-arakan di jalanan, kali ini fokus kami beralih ke titik akhir prosesi: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Siapa sangka, suasananya ternyata tidak kalah ramai dan punya magnet tersendiri.
Senin sore (16/2), ruas Jalan Gajah Raya tampak lebih padat dari biasanya. Kemacetan mulai mengular, terutama di akses masuk lingkungan MAJT. Semua mata tertuju pada kedatangan rombongan Wali Kota Semarang yang akan menutup tradisi Dugderan sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan.
Sebenarnya, kami jarang memilih menunggu di MAJT. Bagi kami, momentum paling menarik biasanya tetaplah arak-arakan yang menempuh rute dari Balai Kota menuju Masjid Agung Semarang (Kauman). Namun, ada kalanya kami ingin ganti suasana.
Selain alasan mencari perspektif baru, jujur saja, kami lagi malas harus ikut berdesak-desakan di pinggir jalan raya. Di MAJT, rasanya sedikit lebih tenang dan tertata, meski pada akhirnya kami tetap disambut oleh pemandangan lautan manusia yang luar biasa.
Kami lupa kapan terakhir kali mengikuti prosesi Dugderan hingga tuntas di MAJT. Yang pasti pernah, tapi baru kali ini kami melihat sesi puncak di sini dikemas dengan panggung hiburan yang cukup niat. Acaranya bahkan sudah dimulai sejak pagi hari.
Padahal, jika masyarakat tahu inti acaranya baru berlangsung sore hari, rasanya kecil kemungkinan mereka mau menunggu di sini sampai menjelang Magrib. Namun, kami senang melihat bagaimana prosesi di MAJT kini dikemas lebih menarik. Saat kami tiba, deretan booth dari lingkungan pemerintahan hingga pelaku usaha (UMKM) tampak memenuhi area, memberikan ruang bagi pedagang kecil untuk ikut meraup rezeki.
Pemandangan menarik terlihat saat kami mulai memasuki area masjid; warga mulai menyemut di bawah menara Al Husna. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 4 sore. Kami membayangkan, akan sepadat apa saat rombongan utama tiba nanti. Beruntung, masyarakat yang menunggu disuguhi berbagai penampilan seni yang apik:
Seni Tradisional: Penampilan Kuda Lumping Turangga Langgend Budaya dari Gunungpati dan Topeng Ireng Manunggal Sekti dari Temanggung.
Akulturasi Budaya: Aksi Barongsai Naga Angin dari Getasan yang seolah menegaskan bahwa Dugderan adalah milik semua golongan.
Energi Pelajar: Semangat dari Drumband SMKN Jateng dan Karawitan Smanda Laras yang menjaga mood penonton tetap terjaga.
Akhirnya, yang dinanti tiba juga. Rombongan Wali Kota memasuki area dengan bus kebanggaan, termasuk armada bus listrik terbaru Trans Semarang yang tampak mencolok. Seperti dugaan kami, masyarakat langsung mengerubungi rombongan yang menuju masjid untuk pembacaan Suhuf.
Kami sendiri memilih posisi strategis di dekat paviliun beduk pelataran. Inilah momen yang paling kami nantikan. Setelah jeda beberapa menit, rombongan tiba di paviliun. Suara yang ditunggu-tunggu itu pun pecah; setiap pukulan beduk (Dug) langsung disusul oleh dentuman meriam (Der).
Di bawah langit senja MAJT yang mulai syahdu, suara tersebut bukan sekadar bunyi. Getarannya terasa hingga ke ulu hati—sebuah penanda resmi bahwa bulan puasa sudah di depan mata.
Setelah prosesi selesai, hiruk-pikuk itu berangsur-angsur mereda. Masyarakat mulai meninggalkan MAJT, meninggalkan kesunyian yang mendadak. Kini, tinggal menunggu keputusan resmi Pemerintah Pusat melalui Kementerian Agama untuk memulai puasa pertama.
Kami pun bergegas pulang. Langkah kami terasa ringan menuju sepeda yang sengaja kami parkir di luar area MAJT demi menghindari kemacetan massal saat bubaran. Sambil berjalan, kami merenungkan perbedaan pengalaman tahun lalu di Jalan Pemuda dengan tahun ini di MAJT.
Arak-arakan di Jalan Pemuda adalah tentang perayaan. Di situlah nilai jual utamanya, di mana warga berinteraksi langsung dengan kemeriahan pawai. Tanpa arak-arakan, Dugderan kehilangan kemeriahannya.
Namun, prosesi di MAJT adalah tentang pengumuman. Meski terasa lebih statis dan penuh penantian, tanpa dentuman meriam dan pukulan beduk di sini, Dugderan akan kehilangan "gong" atau sakralitasnya.
Dugderan 2026 di MAJT berhasil membuktikan bahwa tradisi bisa dikemas rapi tanpa melunturkan antusiasme rakyat. Sampai jumpa di Dugderan tahun depan—entah kembali mengejar pawai di jalanan atau menikmati syahdunya lesehan di masjid lagi!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment