📌 Agenda Kota Semarang Bulan Januari 2026
Melintas di atas Jembatan Kartini pada awal Januari 2026, pandangan kami tertuju pada kerumunan warga di bantaran sungai. Di sela langit yang mulai sering mendung, pemandangan orang-orang yang masih asyik bermain layang-layang menarik perhatian kami.
Fenomena ini sebenarnya biasa, namun terasa langka mengingat Semarang sudah masuk musim penghujan. Gambar di atas yang kami ambil 5 Januari kemarin tersebut sekaligus memicu ingatan kami pada sebuah agenda besar yang sempat heboh namun kini seolah hilang ditelan angin.
Pernah mendengar rencana Kota Semarang menjadi tuan rumah Festival Layang-Layang Internasional? Kami sempat memasukkan acara ini dalam daftar event wajib pantau di bulan Agustus 2025. Seharusnya, festival ini menjadi bagian dari kemeriahan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah. Namun, mendekati hari H, gembar-gembornya mendadak senyap.
Informasi terakhir yang kami dapatkan, acara digeser ke tanggal 12-13 Oktober 2025 dengan lokasi di Awann Costa (POJ City). Alasannya cukup teknis: cuaca di bulan Agustus dianggap kurang ideal untuk menerbangkan layang-layang raksasa milik peserta internasional.
Selain itu, ada kendala sinkronisasi jadwal dengan peserta dari 13 negara yang sedang mengikuti kegiatan serupa di Sri Lanka. Namun, setelah melewati Oktober, informasinya kembali sunyi senyap. Apakah benar-benar batal?
Kami menaruh harapan besar pada festival ini. Maklum, ini bakal jadi kali pertama Semarang menggelar festival layang-layang dengan skala internasional. Dari sisi pariwisata, tentu ini menjadi amunisi promosi yang luar biasa sekaligus pendongkrak nilai ekonomi lokal.
Sayangnya, hingga awal 2026, jejak kemeriahannya sulit ditemukan di portal berita manapun. Kami menduga ada beberapa faktor yang membuat agenda ini akhirnya gagal lepas landas:
Logistik Peserta Internasional: Mengatur ulang kedatangan delegasi dari 13 negara bukanlah perkara mudah setelah jadwal pertama meleset.
Kehilangan Momentum: Di bulan Oktober, fokus publik sudah terbagi dengan berbagai event akhir tahun dan festival budaya lainnya di Semarang.
Kendala Teknis & Cuaca: Bermain layang-layang di bibir pantai sangat bergantung pada stabilitas angin. Memasuki bulan Oktober hingga Maret, Semarang sudah mulai rutin diguyur hujan, faktor alam yang sulit dilawan oleh penyelenggara manapun.
Jika penyelenggara masih berambisi menghidupkan kembali acara ini di masa depan, mungkin bisa melirik kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) sebagai alternatif lokasi. Tanpa perlu label internasional atau panggung megah, BKT sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 ini telah menjadi rumah bagi para pecinta layangan.
Di sini, "festival" itu terjadi secara organik setiap sore. Ada yang serius menarik ulur benang, ada penonton setia di atas motor, hingga anak-anak yang antusias mengejar layangan putus. Ironis memang melihat agenda besar yang diumumkan masif harus berakhir tanpa kejelasan, sementara warga menunjukkan bahwa mereka hanya butuh ruang publik yang pas untuk berekspresi.
![]() |
| Foto bulan Juli 2025, baca artikelnya di sini |
...
Pada akhirnya, kegagalan Festival Layang-Layang Internasional di Awann Costa memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa sebuah acara besar tak hanya butuh promosi masif, tapi juga perhitungan matang terhadap ritme alam dan kesiapan logistik yang lebih solid.
Sembari menunggu ada pihak yang berani memboyong kembali peserta internasional ke langit Semarang, kami rasa menikmati senja sambil melihat layangan kertas warga di bantaran BKT sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan. Sehat selalu dan selamat menerbangkan mimpi!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment