Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 rilis di bioskop tanggap 8 Desember 2016. Membawa durasi 106 menit, film ini lanjutan dari film sebelumnya yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika. Berikut reviewnya.
Tidak heran film keduanya yang disutradarai Rizal Mantovani ini masih dikerubuti penonton di Semarang hingga hari ini (19/12). Kesuksesan film terdahulunya menjadi kunci bagaimana kursi-kursi di dalam teater 1 hingga bawah dipenuhi penonton. Terutama generasi muslim muda yang didominasi perempuan.
Cerita film
Saya masih ingat pengalaman teman saya yang sudah menonton film ini, ia kecewa dengan ceritanya yang tidak sesuai harapan. Karena hal tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk menontonnya sendiri. Hasilnya? Iya, benaran ternyata. Cerita filmnya terlalu banyak sehingga tidak fokus dengan cerita utamanya.
Film ini punya 3 cerita yang dikemas menjadi satu kesatuan. Ada Hanum (Acha Septriasa) dengan cerita mirip detektif yang ingin mengungkapkan sejarah dan harta karun yang berhubungan dengan Islam (judul). Ditemani sang suami, Rangga (Abimana), ia berada ditengah konflik antara menyelesaikan misi atau berdamai dengan suami.
Lalu, ada Azima (Rianti) yang dihadapkan pada masalah keluarga. Pertentangan keluarganya di awal film ini diputar bakalan lebih menarik dari cerita Hanum. Azhima yang tinggal bersama anaknya harus mendapatkan kata maaf dari ibunya.
Dan terakhir, cerita yang menghidupkan suasana yaitu kisah si Stefan (Nino) yang sedang berjuang untuk kembali mendapatkan cintanya dari Jasmine (Hannah Al Rashid). Lumayan buat ketawa.
Kesemua tokoh dipertemukan dalam 1 kota yaitu San Fransisco, mungkin yang suka cinta bisa mengikuti kisah si Stefan. Kalau penonton perempuan yang kali ini mendominasi kursi mungkin suka dengan kisah Azhima, dan yang penasaran kelanjutan film Bulan Terbelah di Langit Amerika, cerita Hanum dan suami menjawab semua rasa penasaran tersebut.
Semua cerita menghadirkan rasa haru, tawa, dan bahagia. Meski pada akhirnya juga, kisah Hanum tidak menemukan apa-apa dan menutup film dengan sebuah kalimat panjang tentang makna perjalanannya. Kecewa? Semoga saja tidak.
Pemain film
Selain dihuni pemain utama, seperti yang sudah disebut sebelumnya. Film Produksi MAX Pictures ini bertabur pemain baru. Ada yang dari dalam negeri dan luar negeri.
Paling menarik buat saya adalah anak Sarah Hussein yang diperankan oleh Hailey Franco. Siapa Hailey Franco? Saya yang tidak menonton edisi pertamanya memang kebingungan dengan sosok yang ternyata sudah ada sebelumnya. Hailey merupakan aktris asal Amerika.
Kejutan lain datang dari Boy William yang turut ambil bagian sebagai Peter. Lalu, pemain lainnya ada Ira Wibowo sebagai ibu, Yeslin Wang (istri Delon), dsb.
...
Setting Amerika yang kental tentu sudah menjadi nilai tambah film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Apalagi buat Anda yang sudah mengikuti dari yang pertama sampai masih bernama 99 Cahaya di Langit Eropa.
Akhirnya terjawab sudah pertanyaan saya mengapa film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 begitu menarik, terutama di Semarang. Film ini merupakan sekuel dari sebelumnya. Tema yang diangkat pun masih menjadi daya pikat, khususnya generasi muslim yang saat ini sedang tren. Terakhir, sang penulis masih Hanum Salsabiela Rais. Wajar penonton masih penuh sesak dan bakalan bertahan hingga Januari menurut saya.
Soal cerita yang tidak fokus pada tujuan Hanum, mungkin jawabannya pada penonton yang belum menyaksikan film-film sebelumnya. Sehingga kehilangan inti cerita karena terlalu fokus pada judul yang super dasyat. Dilema memang sih dengan harapan tinggi itu, tapi setidaknya saya senang dengan antusias penonton akhir tahun ini.
Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...
Ada kalanya semesta punya cara sendiri untuk merencanakan sesuatu. Awalnya, kami sama sekali tidak punya rencana untuk meremajakan smartphone tahun ini. Ponsel andalan yang lama terpaksa harus "pensiun" karena menemui ajalnya, sementara biaya perbaikannya terasa tidak masuk akal jika harus dikeluarkan. Sempat dipinjami ponsel cadangan oleh teman, tapi rasanya kurang leluasa karena perangkatnya sudah terlalu uzur. Singkat cerita, keputusan berat diambil untuk meminang perangkat baru. Pilihannya jatuh pada sebuah smartphone 5G terjangkau yang kebetulan mendarat di tangan: Motorola Moto G45 5G . Tentu saja ada alasan tersembunyi di balik pembelian yang agak dipaksakan ini. Apalagi kalau bukan rasa penasaran tingkat tinggi untuk menjajal langsung seberapa ngebut jaringan 5G di Kota Semarang, setelah operator seluler seperti XL Axiata resmi memperluas jaringannya. Maka, agenda uji coba pun dirancang. Lokasinya dipilih yang paling ikonik sekaligus paling padat di jantung Kota Se...
Awal bulan November, kami membuka tulisan tentang Chromebook yang sudah dirilis ASUS secara global tahun 2023. Memang sih perangkatnya sudah lawas, apalagi ketersediaannya bakal sulit dicari. Meski begitu, alasan kami membawanya ke blog karena salah satu fiturnya mirip dengan ExpertBook Ultra . Membayangkan laptop ini dari sisi harga tentu bak langit dan bumi. Pagi ini (3/11), sebelum menulis blog, kami membuka kotak masuk email seperti biasanya. Terakhir kali kami mengulas perangkat Chromebook adalah pada awal Februari lalu, dan setelah itu tidak banyak perangkat sejenis yang kami bawa ke blog. Kebetulan semangat kami lagi bagus pagi ini, hasilnya kami memutuskan untuk berkenalan dengan ASUS Chromebook CR11 Flip (CR1104F). Ini adalah perangkat konvertibel 2-in-1 yang dirancang khusus oleh ASUS untuk memenuhi kebutuhan digitalisasi sekolah. Setelah kami telusuri lebih dalam lewat penelusuran di internet, kami baru menyadari bahwa Chromebook tangguh ini ternyata memiliki nasib yang sam...
Rasanya sudah biasa (normal), mal-mal sekarang hanya melayani pembayaran parkir kendaraan tanpa uang fisik. The Park Mall Semarang pun menerapkan hal yang sama. Namun meski begitu, pengguna kendaraan roda dua memiliki alternatif lain. Mari bicarakan itu nanti, fokus di pembayaran non tunai untuk kendaraan roda dua. Bagaimana dengan roda 4? Ya, sama saja. Pokoknya masuk ke bangunan parkir di The Park Mall, harus pakai pembayaran non tunai. Siapkan kartu pembayaran non-tunai Parkir di The Park Mall Semarang hanya melayani 2 kartu pembayaran non tunai, seperti Flazz BCA dan e-money. Oh, bukan 2 ternyata . Kartu Brizzi dari BRI juga bisa, termasuk Tap Cash dari BNI. Jadi, ada 4 kartu yang dapat dilayanin di sini. Karena pengalaman kami lebih untuk kendaraan roda dua, maka gambar yang kami tampilin di sini adalah suasana parkir roda dua. Yang belum tahu atau baru pertama kali ke The Park Mall menggunakan sepeda motor, parkirnya masuk sisi kiri. Cari saja arah masuk kendaraan masuk. Te...
Masih ingat dengan ulasan kami pada Maret 2026 lalu saat melintas di kawasan Jalan K.H. Ahmad Dahlan? Waktu itu, bangunan bernomor 33 tersebut sempat santer dikira bakal mengusung brand Kotta GO, sebelum pihak manajemen akhirnya resmi memperkenalkan identitasnya sebagai Kotta KYŪ Hotel Semarang dengan konsep A New Calm. Rasa penasaran kami akhirnya terbayar beberapa waktu belakangan ini. Setiap kali kami mengayuh sepeda lipat pulang dari area Car Free Day (CFD) Simpang Lima, pemandangan di sudut Karangkidul tersebut terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi aktivitas konstruksi; bangunan tersebut kini sudah tampak hidup, elegan, dan siap menyambut para tamu yang lalu-lalang di pusat Kota Semarang. Setelah menanti beberapa bulan, hotel butik bergaya urban ini rupanya telah resmi beroperasi penuh. Kotta KYŪ memulai fase soft opening pada akhir Juni 2026 dan menyelenggaraan peresmian grand opening pada pertengahan Juli 2026 lalu. Gambar dipotret bulan September 2026 Sentuhan Nuansa Jepang M...
Comments
Post a Comment