📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Tentu senang sekali ketika kembali menerima undangan dari Hotel Horison Nindya Semarang untuk prosesi launching menu baru buka puasa tahun 2026. Buat yang masih bingung cari tempat bukber di area Semarang Timur, sepertinya tulisan ini datang di waktu yang tepat.
Jalan Majapahit sore itu seperti biasa: padat dan dinamis. Namun, ada yang berbeda dengan cara kami menikmatinya kali ini. Bukan dari balik kaca mobil atau helm motor, melainkan dari atas sadel sepeda. Ya, kami memutuskan untuk gowes dari rumah menuju Hotel Horison Nindya Semarang demi memenuhi undangan pada hari Jumat, 13 Februari 2026 kemarin.
Ini adalah tahun kedua kami diundang secara resmi, meski jika ditotal, ini adalah kali ketiga kami menginjakkan kaki di sini untuk urusan kuliner Ramadan. Ada semacam ikatan emosional (dan keringat yang bercucuran) saat akhirnya sampai di lobi hotel.
Pasar Ambyar yang Bikin Penasaran
Tahun ini, Horison Nindya mengusung tema yang cukup unik: Pasar Ambyar Nusantara. Begitu masuk ke Santan Restaurant, suasananya memang diset layaknya pasar tradisional dengan ragam kuliner yang sangat melimpah—mereka mengklaim ada 80+ Kuliner Nusantara di sini.
Sebagai pengunjung "veteran", kami melihat ada usaha keras dari tim hotel untuk tetap relevan. Di saat harga bahan pokok sedang naik-naiknya, mereka justru berani melempar harga Rp97.000,- nett/pax untuk Early Booking (maksimal H-3). Kalau datang langsung (On The Spot), harganya menjadi Rp127.000,- nett/pax. Untuk anak-anak usia 5-12 tahun, cukup bayar Rp64.999,-.
Acara dibuka secara resmi oleh General Manager Hotel Horison Nindya, Pak Kukuh. Tema kali ini membawa pesan besar bagi generasi Gen Z agar kembali mengenal masakan Nusantara dengan konsep yang lebih back to nature.
Pengalaman Rasa: Dari Nasi Glewo Hingga Kopi Pasir
Meski pulang tidak membawa buah tangan atau "amplop" (curhat sedikit boleh ya?), rasa lelah gowes terbayar dengan variasi menunya. Konsep All You Can Eat-nya membebaskan kami untuk keliling dari satu stall ke stall lain, persis seperti sedang blusukan di pasar.
Yang paling mencuri perhatian di antara deretan menu adalah Nasi Glewo Semarang. Kuliner khas Semarang yang sudah langka ini sengaja disajikan oleh pihak hotel. Jika Nasi Gandul punya Pati dan Nasi Liwet punya Solo, maka Nasi Glewo adalah "harta karun" lokal asli Semarang yang sayangnya mulai jarang ditemui dibanding Nasi Koyor. Teksturnya yang khas benar-benar mengobati rindu.
Selain itu, hidangan wajib seperti soto ayam tetap tersedia. Kami juga mencicipi menu kerang-kerangan yang rasanya sangat gurih dan segar. Pantesan saja teman satu meja kami sampai mengambil porsi kerang yang cukup banyak. Menu lain yang sempat kami coba adalah Mie Goreng Aceh dan ikan bakar yang bumbunya meresap sampai ke dalam alias maknyus.
Kami menutup sesi santap sore itu dengan Turkish Coffee. Aroma dan sensasinya mengingatkan kami pada kopi Arab khas Masjid Layur Semarang. Uniknya, kopi ini dimasak di atas pasir dan kami diberi tips khusus untuk menikmatinya: tambahkan kurma. Meski disajikan dalam gelas kecil, rasanya memang mantap!
Pilihan Realistis di Semarang Timur
Bagi kami, Horison Nindya tetap menjadi pilihan realistis bagi warga Semarang Timur yang ingin buka bersama tanpa harus terjebak macet lebih jauh ke arah pusat kota. Apalagi jam operasionalnya cukup panjang, mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB.
Catatan Akhir
Untuk kawan-kawan yang mau mencoba, promo ini berlaku mulai 18 Februari sampai 19 Maret 2026. Saran kami? Manfaatkan harga Early Bird supaya kantong tidak ikut "ambyar". Jangan lupa, ada juga promo Beli 10 Gratis 1 untuk yang berencana datang rombongan.
Kalau mau lebih sehat, coba sesekali ke sini naik sepeda seperti kami—meski ya itu, pastikan perut benar-benar siap menampung puluhan jenis makanan setelah kalori terkuras di jalan! Kami akhirnya tiba kembali di rumah dengan perut yang mendadak lapar lagi. Sayang sekali, memang tidak ada makanan yang bisa dibungkus untuk dibawa pulang dari sana.
...
Suka dengan gaya ulasan kami yang apa adanya? Dukung kami untuk tetap independen dan terus bercerita tentang Semarang dengan cara mentraktir segelas kopi atau 'tambal ban sepeda' dengan mengklik tombol merah di bawah ini. Setiap dukungan membantu kami tetap mengayuh pedal dan merangkai kata!"
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment