Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan November 2026

Image
Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...

📰 Menelusuri Jejak Tinta di Pecinan Semarang: Dari Rumah PoHan hingga Gang Pinggir (Bagian 1)

Kami sangat antusias ketika informasi acara ini mampir di lini masa Instagram. Awalnya, kami tidak menyadari jika tanggal pelaksanaannya, 9 Februari, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Sebuah kebetulan yang manis, bukan? Dengan tajuk 'Jejak Sejarah Pers di Pecinan Semarang', mari ikuti rangkuman perjalanannya.

Kesibukan kami kembali padat di awal Februari usai rentetan agenda di bulan Januari. Apalagi acara kali ini berlabel gratis namun kuotanya sangat terbatas. Sempat kami simpan saja informasinya, eh, malam harinya rekan sesama blogger menyodorkan formulir pendaftaran. Tanpa pikir panjang, langsung gaskan daftar saat itu juga.

Ditemani Gerimis di Kepodang

Seperti biasa, akses menuju lokasi di Jalan Kepodang, Kota Lama, yakni Rumah PoHan, kami tempuh dengan bersepeda. Kami tak menyangka pagi itu, Senin 9 Februari 2026, Semarang menyapa dengan gerimis yang mengundang. Namun, semangat kami tidak surut, apalagi setelah menyadari kaitan acara ini dengan HPN. Tambah semangat!

Karena acara ini diinisiasi secara lokal, jangan berharap mendapatkan goodie bag mewah. Penyelenggara sudah menginformasikan di grup WhatsApp bahwa peserta wajib mandiri: membawa air minum, jas hujan, topi, dan biaya parkir sendiri. Buat kami, instruksi itu bukan masalah. 

Satu-satunya ganjalan hanyalah mobilitas kami yang menggunakan sepeda, sementara rute tur kedua nantinya akan mengarah ke luar kawasan Pecinan. Tapi, pasrah saja, yang penting ikut dulu!

Nostalgia di Meja Redaksi Jadul

Bagi kami sebagai blogger, menelusuri sejarah pers memiliki keterikatan batin tersendiri. Aktivitasnya sama: membagikan informasi kepada khalayak. Setibanya di Rumah PoHan, kami langsung disuguhi pemandangan koran-koran jadul yang tertata rapi di atas meja kayu.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah lembaran asli Djawa Tengah edisi Sabtu, 11 Juni 1932. Di sana, jurnalisme terasa sangat "hidup" dengan rubrik modern seperti Fotos, Film & Sport. Bahkan, ada foto kucing berukuran cukup besar di halaman depan—sebuah bukti bahwa ketertarikan manusia pada hal-hal kecil yang manis sudah ada sejak hampir seabad lalu.

Akar Literasi dari Kota Lama ke Pecinan

Mbak Widya, sang pemandu dari Rumah PoHan, mulai membedah tujuan acara sekaligus membagikan buklet sejarah. Dari sini, kami baru menyadari betapa kuatnya akar literasi di Semarang:

  • 1837: Industri percetakan Belanda mulai merambah Semarang.

  • 1860: Lahir Selompret Melajoe, surat kabar bahasa Melayu huruf Latin pertama di Semarang yang terbit di bawah perusahaan G.C.T. van Dorp, Kota Lama.

  • Peran Peranakan: Komunitas Tionghoa peranakan kemudian mengambil peran besar dengan beralih dari aksara Jawi ke huruf Latin untuk berekspresi di ranah sosial dan informasi.

Visual Dulu dan Kini: Gang Pinggir

Setelah bergeser ke titik parkir di Klenteng Tay Kak Sie, perjalanan kaki dimulai menembus gerimis menuju Gang Pinggir, "pusat syaraf" pers Pecinan masa lalu.

Gambar sekarang (9/2/2026)

Koran Makmoer (Sekarang Bank Mayapada) 

Kami berhenti di Jalan Gang Pinggir No. 37. Visual masa kini adalah gedung modern KCP Bank Mayapada. Namun secara historis, di sinilah dulu Boekhandel Ho Kim Yoe berdiri. Pada 1936, mereka menerbitkan Koran Makmoer yang pada tahun kelimanya sukses mencetak 7.500 eksemplar untuk diedarkan ke seluruh Indonesia. Penerbit ini pula yang membidani buku legendaris "Riwajat Semarang 1416-1931".

Gedung Dua Narasi (Gang Pinggir No. 68) 

Tak jauh dari situ, ada gedung yang menyimpan dua nyawa media sekaligus. Antara tahun 1909 hingga 1937, gedung ini menjadi kantor pusat Djawa Tengah (yang versi Mandarin-nya bernama Lóngchuán Zhōngyāng Zhǎowā Rìbào) sebelum akhirnya pindah ke Gang Besen. Di lokasi yang sama, Soeara Semarang (1936-1940) juga pernah berkantor sebelum bangunan tersebut beralih fungsi menjadi Hotel Nan Yon.

Gambar sekarang (9/2/2026)

Berdiri di depan deretan gedung ini memberikan perspektif yang realistis: kota ini terus bersolek. Apa yang dulu menjadi dapur redaksi panas dengan isu perdagangan dan politik, kini telah bersulih rupa menjadi ruang perbankan yang dingin dengan pendingin udara. Namun, jejak-jejak itu tetap abadi bagi mereka yang mau berjalan dan membaca.

Karena perjalanan ini masih menyisakan 5 titik lagi dari total 8 lokasi di rute pertama, tulisan ini akan kami sambung kembali di bagian kedua. Masih ada kisah tentang "hijrahnya" redaksi ke Gang Besen dan labirin sejarah di Jalan Sidorejo.

Jadi, bersabar dulu ya!

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026

6 Alat Untuk Media Sosial

📝 Hari Blogger Nasional 2026: Merawat Rumah, Menjaga Ingatan

🎯 Kisah Oktober: Pas Paket XL Nonaktif, Google AI Plus Pun Ikut "Masuk Angin"

🎭 Karnaval Nostalgia Dugderan: Saat Tradisi Lokal Ikut Meriahkan Panggung MTQ Nasional di Kota Semarang