Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026

Image
Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...

Review Film Ave Maryam


Salah satu alasan kami akhirnya memutuskan pergi ke bioskop menonton film Ave Maryam adalah lokasi syuting yang digunakan. Ya, Kota Semarang. Beberapa lokasinya bahkan memang sering digunakan untuk syuting. Lalu, seperti apa gambar yang ditampilkan?

Filmnya hanya berdurasi 73 menit. Namun membuat kami merasa waktu begitu lama. Rasa penasaran yang sudah dipendam sebelum masuk teater, sudah hilang. Oh tidak, ini bukan film yang selama ini biasa kami nonton. Sangat lambat, tidak banyak dialog dan harus berpikir lebih keras.

Datang dari kelas film festival Internasional

Langkah film dari sutradara Robby Ertanto sangat meyakinkan untuk pemilik bioskop menerima film yang mengusung genre drama ini. Karena menurut kami, tidak mudah film yang diputar di Semarang akan masuk dalam daftar.

Namun seiring waktu, beberapa film yang kurang lebih sama seperti Ave Maryam, bisa tembus juga. Ini menariknya. Penonton Semarang yang bukan datang dari pemetaan pemasaran film yang biasa kami pikirkan, generasi Z, bisa merasakan film-film yang diputar di kota lain, bisa diputar di Semarang.

Apalagi, setelah melihat poster dan kepo beberapa referensi, film yang dibintangi Maudy Koesnaedi dan Chicco Jericho ini diputar pada gelaran film festival. Seperti Hanoi International Film Festival , dan Hong Kong Asian Film Festival. (Ada pembuka video trailer)


Ada semacam prestasi yang menjadi garansi untuk pemilik gedung bioskop di Semarang mau menaruhnya di layar mereka. Bahkan hingga tulisan ini kami buat, sudah satu pekan film ini bertahan dari rilis resminya di bioskop tanggal 11 April 2019. Bisa bertahan 3 hari aja, udah syukur.

Alasan menonton, Semarang yang jadi latar

Jika biasanya melihat sosok Joko Anwar dibalik layar, maka film ini kami melihatnya sebagai salah satu pemain dan berperan sebagai pastor. Apakah ini kejutan? Entahlah.

Ceritanya film Ave Maryam sendiri sudah sangat banyak diulas. Pada intinya, Suster yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi jatuh cinta pada pastor baru yang datang ke gereja, tempat si Maudy. Pastor yang diperankan Chicco ini menarik perhatian Suster.

Dalam balutan kisah keduanya yang akhirnya dapat mengeluarkan rasa saling sukanya, Kota Lama Semarang menjadi bagian pentingnya.

Ada Gereja Blenduk, gedung Spigel, jalanan dan yang paling banyak mendapatkan sorotan adalah Geraja Gedangan. Tahun 2017, kami pernah masuk ke dalam dan melihat langsung ruangan di sana.

Gereja yang dibangun sejak tahun 1808 ini memang sangat menarik. Kamu yang penasaran, bisa melihat beberapa gambar yang kami ambil saat berkunjung dalam rangka tour Kota Lama. Klik di sini.

Selain kawasan Kota Lama yang kami tangkap selama menonton, ada stasiun Tawang yang juga menjadi bagian penting dalam sebuah adegan perpisahan di dalam film.

Film Idealis


Bagi kami yang datang dari sisi penonton biasa, film semacam Ave Maryam memang unik. Tidak seperti film komersil lainnya yang bisa kami komentarin. Ini jual tampang, ini judulnya menjual dan sebagainya.

Banyak memasukkan sisi agama dalam film,  memang bisa dikatakan sensitif buat sebagian penonton nantinya. Tapi buat yang ingin menikmati sebuah karya, film idealis seperti ini, memang harus dicoba sendiri.

...

Saat cinta datang, perasaan siapa pun yang merasakannya, tidak akan terbendung. Normalnya berpikir sebagai insan manusia biasa. Tapi ketika Suster dan Pastor mencoba menghubungkan perasaan itu. Banyak tantangan yang harus dihadapi.

Dilema dengan diri sendiri. Aturan yang harus ditaati, dan pilihan yang harus dihormati. Jalan yang benar bagi sebagian orang, belum tentu benar buat yang merasakan.

Pernah berkunjung ke Semarang? Pernah ke tempat-tempat yang ada di film?

Artikel terkait :
Informasi Kerjasama
Hubungi lewat email dotsemarang@gmail.com
Atau klik DI SINI untuk detail lebih lengkap

Comments

Popular posts from this blog

📱 Hari Media Sosial 2026: Antara FOMO Mal 23 & Gramedia Jalma, Serta Gagapnya Manajemen Krisis Digital

⚽️ Berburu Lokasi Nobar Resmi Piala Dunia 2026 di Kota Semarang: Siasat Hotel "Ganti Baju" hingga Markas Instansi

🏃‍♂️ Catatan Hari Kedua The Spark of Healthy Life 2026: Mengulas Cedera Olahraga Bersama Para Ahli

🎡 Agenda Jateng Fair 2026: Kembali Hadir 10 Hari dengan Tiket Masuk Gratis, Apa yang Baru?

🚲 Gowes ke Mal 23 Semarang: Di Mana Tempat Parkir Sepedanya?