Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Suara April dan Filmnya Sudah Tersedia di Youtube
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film Suara April dirilis tanggal 15 Maret 2019 dengan durasi 1 jam 30 menit. Film yang tayang sangat terbatas ini diperuntukkan sebagai bagian dari kampanye Pemilu agar masyarakat hadir pada tanggal 17 April 2019. Jadi, film ini tidak masuk dalam daftar film seperti yang biasa kami buat.
Hari ini, Kamis (25/4/2019), tidak ada satu pun film Indonesia yang rilis yang biasa tiap kami. Kehadiran film Avengers: Endgame sangat-sangat mempengaruhi daftar film rilis dipekan terakhir bulan April.
Isu pendidikan hingga skeptis Pemilu
Berlatar sebuah desa, musik dangdut di sana dianggap lebih menarik ketimbang Pemilu. Menariknya, tiap diadakan hajatan Dangdut, masyarakat lebih mudah berkumpul dan di sana sebenarnya kampanye promosi yang bisa disusupi.
Diawal film, penonton langsung diberikan konflik tentang profesi guru yang dianggap kurang menarik dari Ayah si tokoh utama perempuan (guru). Maunya si Ayah, putrinya memilih karir musik Dangdut binaan sanggarnya ketimbang jadi guru.
Ayah yang diperankan Almarhum Torro Margens merupakan sosok berpengaruh di desa dan memiliki pertunjukkan Dangdut yang berpengalaman. Bahkan Kepala Desa sangat segan sama beliau.
Tidak menunggu lama, tokoh pria utama yang diperankan Bio One datang ke Desa si Guru yang diperankan Amanda Manopo untuk sosialisasi Pemilu.
Bisa dikatakan pemain pria ini adalah pahlawan yang harus melawan bagaimana caranya meluluhkan masyarakat di Desa yang didatangi untuk bisa ikut menyoblos pada hari Pemilu.
Saat isu pendidikan terus diangkat karena Yayasan sudah kehabisan duit untuk mempertahankan Sekolah, si Guru ikut berjuang bersama dengan si penyuluh.
Satu sisi bagaimana mempertahankan murid dan Sekolah agar tetap ada. Dan satu sisi lagi, menghadapi Si Ayah yang tidak ingi mendengar adanya Pemilu di Desa.
Isu Pileg
Desa yang sudah sangat tenang karena dijaga dari informasi tentang kampanye Pemilu dari luar, rupanya memiliki motif sendiri sebagai alasan mengapa itu dilarang di Desa
Salah satu penyanyi yang lahir dari Desa tersebut dan sukses, pergi ke Kota untuk menjadi artis dan kini mengikuti pemilihan. Semacam kacang lupa kulitnya.
Kaitannya sangat erat dengan si Ayah dari Guru yang mencoba berjuang. Masa lalu tersebut yang menjadi alasan damainya desa dan hanya suguhan Dangdut yang terus ramai.
Saat semua sedang berjuang agar dapat jalan memberikan sosialisasi, termasuk masuk ke Sekolah dan akhirnya ditentang, dua calon Legislatif saling beradu.
Saling mengklaim lebih baik, membuat suasana semakin kacau. Salah satu calon Legislatif diperankan Dewi Gita yang merupakan penyanyi terkenal di Desa yang sekarang tidak mau datang ke Desanya lagi.
Berakhir indah
Film ini bisa dikatakan film yang mengikuti alur skenario yang sudah diatur sedemikian rupa. Maksud kami itu seperti dari A lalu ke B, kemudian ke C dan selesai di Z. Sangat terstruktur. Hasilnya, memberi tontonan yang mudah dimengerti. Tapi juga mudah ditebak.
Si penyuluh KPU berhasil dengan tugasnya mensosialisasikan Pemilu kepada masyarakat. Si Guru juga berhasil mempertahankan Sekolah. Dan konflik si Ayah dengan penyanyi lamanya yang menjadi Caleg juga berakhir damai dari rasa salah dan dendam.
Film Suara April di Youtube
Bila kamu penasaran atau punya waktu luang, film Suara April tersedia di Youtube. Kami membawanya berikut ini. Kapan lagi ada film Indonesia yang dirilis secara resmi dan ditaruh di Youtube.
Semenjak kembali menggunakan layanan internet operator dari XL Axiata bulan Juli kemarin , ada pertanyaan besar dipikiran kami tentang paket Xtra Combo Flex yang tidak tersedia di aplikasi MyXL. Apakah hanya kami saja yang kebingungan? Dikenalkan sejak bulan Maret 2022, paket Xtra Combo Flex ternyata sangat menarik dari sisi pembagian kuota, seperti bonus hingga gratis berlanggananan konten Vidio. Tidak ada di aplikasi Hanya saja, sebagai pengguna baru yang membeli kartu perdana yang langsung mendapatkan paket Xtra Combo Flex, kami agak bingung saat mencarinya di aplikasi MyXL. Apalagi bonus-bonus yang harus diklaim lewat aplikasi, mau tidak mau membuat kami harus menginstal aplikasinya ke smartphone. Di mana paket Xtra Combo Flex? Dari daftar paket utama pun tidak ada tersedia sama sekali. Sudah kami cari-cari dibeberapa menu lainnya, hasilnya tetap nihil. Paket yang tersedia di paket utama (lihat gambar) hanya ada Akrab, Akrab Mini, Xtra Combo Plus, Xtra Combo Mini, Xtra On dan ...
Membaca kabar mengenai Pemerintah Kota Semarang yang secara resmi telah meluncurkan rangkaian peringatan HUT ke-479 di Halaman Balai Kota baru-baru ini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal bagi kami. Bukan soal kemeriahan acaranya, melainkan soal logo HUT-nya! Tumben sekali kami sampai melewatkan informasinya, atau memang sengaja tahun ini hadir tanpa prosesi lomba desain logo Hari Jadi Kota (HJK)? Tahun 2026 ini, Kota Semarang menginjak usia ke-479. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu momen yang paling kami tunggu-tunggu sebagai pengelola blog ini adalah kemunculan visual identitas resmi Hari Jadi Kota Semarang (HJKS). Namun, ada yang terasa sangat berbeda kali ini. Jika biasanya sejak bulan Februari atau Maret lini masa media sosial sudah riuh dengan pengumuman lomba desain logo yang memancing kreativitas warga, tahun ini suasananya justru senyap. Tidak ada sayembara, tidak ada kompetisi ide, dan tentu saja tidak ada pengumuman pemenang seperti yang rutin kami dokumentasikan ...
Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Entah apa yang terjadi dengan semangat kami belakangan ini. Setelah sebelumnya melewatkan Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin , kami kembali harus menerima kenyataan gagal hadir secara fisik pada gelaran Karnaval Paskah Kota Semarang yang berlangsung tanggal 17 April 2026 kemarin. Padahal, suasana kemeriahannya sudah sangat terasa bahkan sebelum acara dimulai. Meski kali ini kami hanya bisa memantau dari kejauhan dan layar digital, ada satu hal yang sangat mencolok: skala acara tahun ini terasa jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan tahun 2025. Perasaan "lebih ramai" itu rupanya bukan sekadar asumsi, melainkan fakta yang tercermin dari data di lapangan. Lonjakan Peserta dan Kehadiran Mobil Karnaval Jika pada tahun 2025 jumlah peserta berada di angka sekitar 10.000 orang, tahun 2026 ini jumlahnya melonjak drastis hingga menyentuh angka 15.000 orang . Kenaikan sebesar 50% ini menjelaskan mengapa arus informasi dan dokumentasi di media sosial terasa jauh lebih masif. Salah sa...
Ada hal unik yang kami sadari sejak setahun terakhir menggunakan laptop berbasis Chromebook, terutama jika dibandingkan dengan Windows atau Mac. Biasanya, pada menu tombol power (daya) di laptop Windows, kita akan dengan mudah menemukan opsi Sleep . Namun di Chromebook, opsi itu seolah hilang. Benarkah demikian? Bulan April ini menjadi kali kedua kami mengangkat topik Chromebook di blog. Akhir-akhir ini kami memang sedang bersemangat membagikan pengalaman seputar perangkat ini. Kali ini, kami ingin mengulas sesuatu yang sederhana namun krusial bagi calon pengguna. Filosofi "Instant-On" Bagi pengguna yang baru melirik Chromebook, ketiadaan tombol ini tentu memicu kebingungan. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya banyak di depan laptop dalam durasi lama. Mode sleep (tidur) sangat berguna agar laptop tidak perlu bolak-balik dimatikan melalui shutdown , yang tentunya lebih menghemat waktu. Sebenarnya, alasan utamanya bukan karena fiturnya tidak ada, melainkan adanya perubahan ...
Comments
Post a Comment