Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Bali: Beats of Paradise, Film Kelima yang Tidak Tayang di Bioskop Semarang Tahun 2019
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film Bali: Beats of Paradise dirilis tanggal 22 Agustus 2019. Film karya sutradara Livi Zheng ini tayang terbatas di bioskop tanah air. Semarang, salah satu kota yang tidak memutar film berdurasi kurang 1 jam ini (56 menit).
Saat film Bumi Manusia jadi film berdurasi panjang tahun 2019, film Bali: Beats of Paradise datang dengan durasi film pendek dari daftar film Indonesia yang tayang tahun ini.
Cerita film Bali Beats of Paradise
Film yang diproduksi PT. Negara Agung Film ini menceritakan tentang kisah nyata perjalanan hidup seorang penari sekaligus seniman bernama I Nyoman Wenten yang juga sebagai dosen di University of California (UCLA) Los Angeles.
Dalam film juga dikisahkan tentang kolaborasi antara Wenten dengan musisi dunia Judith Hill yang menghasilkan lagu Queen of the Hill. Film ini sudah dikerjakan selama satu tahun yang mengambil lokasi di Bali dan Los Angeles.
Sutradara yang berkarir di Hollywood
Bicara film Bali Beats of Paradise, pasti bicara nama Livi Zheng yang namanya jadi perbincangan karena berasal dari Indonesia namun berkarir di Hollywood. Tidak mudah tentunya untuk menjadi sutradara di negeri Paman Sam tersebut.
Film yang berkategori penonton semua umur (SU) ini adalah buatannya. Tentu sangat wajar, orang-orang ingin melihat seperti apa film garapannya yang juga ditonton banyak pejabat tanah air.
Film Brush With Danger yang diproduksi tahun 2012 merupakan titik awal bagaimana perhatian terhadap sutradara ini mulai ramai diperbincangkan. Bukan hanya tayang di bioskop-bioskop Amerika, filmnya juga pernah ditayangkan di bioskop tanah air pada tahun 2015.
Banyak Mendapatkan Apresiasi
Sebelum film ini dirilis di bioskop tanah air, Livi Zheng membawa film yang bermuatan budaya dan wisata ke beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Dalam perjalanan untuk promosi film, baik di dalam negeri maupun luar, Livi Zheng banyak mendapatkan apresiasi.
Mengutip situs poskotanews.com (15/8), dari dalam negeri, Livi mendapat penghargaan Tourism Marketeers of The Year 2019 bidang pariwisata dan kebudayaan serta diganjar sebagai Ikon Pancasila oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.
Sedang dari luar negeri, Livi mendapat penghargaan Culture Ambassador Award Unforgettable Gala di Amerika Serikat, Pride of Southeast Asia Filipina. Unforgettable Gala adalah acara penghargaan tertua yang paling bergengsi di Amerika yang diberikan untuk tokoh-tokoh Asia.
Tentang film Bali: Beats of Paradise
Film ini berjenis drama dengan penulisnya adalah Ken Zheng. Daftar pemainnya, ada Judith Hill, Nyoman Wenten, Livi Zheng, Nanik Wenten, Balawan. Berikut videonya.
...
Sebelum film layar lebar Bali: Beats of Paradise yang tidak tayang di Semarang, beberapa film sebelumnya yang juga tidak tayang adalah
Mendadak saja muncul konten tentang ASUS Chromebook CM32 Detachable (CM3206) di radar kami setelah mengaktifkan Google Alert dengan kata kunci 'Chromebook'. Saat ditelusuri lebih lanjut, perangkat ini ternyata sudah dipamerkan di ajang CES 2026 . Sebagai penggemar ekosistem ChromeOS, kami merasa bergairah untuk membawanya ke blog. Mari bahas jika penasaran. Sejak mulai menekuni laptop berbasis ChromeOS pada tahun 2024, kami beberapa kali beruntung mendapatkan pinjaman perangkat langsung dari ASUS Indonesia. Namun, momentum yang benar-benar membuat kami jatuh cinta pada sistem operasi ini adalah saat meminang Chromebook Flip C100 (rilis 2015) dengan uang sendiri. Saat itu, kami butuh perangkat praktis untuk mengelola blog, dan C100 menjadi penyelamat yang andal. Menepis Stigma Chromebook di Indonesia Harus diakui, Chromebook di Indonesia memang kurang populer bagi pengguna umum. Belakangan, perbincangan mengenainya justru lebih banyak dikaitkan dengan kasus di dunia pendidika...
Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Memasuki bulan April ini, ada sedikit cerita kurang mengenakkan soal koneksi internet yang kami gunakan sehari-hari. Jaringan Smartfren yang biasanya setia menemani aktivitas blogging kami, belakangan ini sering sekali mengalami kendala. Namun, sebelum membahas lebih jauh, kami perlu memberikan catatan bahwa gangguan yang kami rasakan ini bersifat kasuistik di wilayah kami. Belum tentu di wilayah atau titik lain mengalami hal yang sama. Sinyal Mendadak "Lari" Ide menulis ini muncul begitu saja saat kami kembali mengalami gangguan pada pagi hari. Internet kami mendadak mati total, yang ditandai dengan bar sinyal yang benar-benar kosong alias no service , seperti yang terlihat pada tangkapan layar di bawah. Awalnya kami pikir hanya gangguan sesaat, namun intensitasnya mulai mengusik kenyamanan. Jika hanya terjadi sekali atau dua kali, tentu kami tidak akan membagikannya di sini. Masalahnya, fenomena sinyal hilang ini sudah terjadi selama hampir satu minggu, terutama saat jam-j...
Menjaga penampilan dan kesehatan kulit kini semakin mudah, apalagi di pusat Kota Semarang. Sejak tahun lalu, warga Semarang telah menyambut kehadiran Natasha Skin Clinic Center yang secara resmi membuka cabangnya di DP Mall Semarang . Halaman ini terinspirasi dari kerja sama yang baru saja kami lakukan. Jadi, ini bukan karena undangan liputan khusus seperti saat kami mengunjungi Cardea Semarang bulan Maret kemarin. Tulisan ini murni lahir dari ketulusan kami untuk mengulas fasilitas yang ada. Nama Natasha Skin Clinic sebenarnya sudah sangat familiar bagi kami, terutama karena beberapa kali pernah mengantar kerabat untuk perawatan. Namun, mengenai pembukaan cabang mereka di DP Mall, jujur saja kami baru mengetahuinya belakangan ini. Saat kami telusuri lebih lanjut, rupanya mereka sudah melakukan opening sejak 12 Juli 2025 . Ternyata sudah hampir satu tahun berjalan. Pembukaannya waktu itu terasa sangat spesial karena berbarengan dengan perayaan besar 30 Tahun Natasha Skincarenya Indo...
Kami tidak menyangka rumah tua yang berdiri anggun di Jalan Ahmad Yani ini mendadak kembali bersolek. Setelah sebelumnya sempat digunakan untuk bisnis kuliner dan kemudian tutup, bangunan ini mulai menunjukkan tanda-tanda renovasi sejak Februari 2026. Siapa sangka, bangunan ikonik ini kini bertransformasi menjadi tempat ngopi dari merek lokal yang sudah mendunia. Resmi dibuka pada pertengahan Maret kemarin, kehadiran simbol hati merah besar di atas fasad putihnya seolah membawa optimisme baru. Simbol khas Kopi Kenangan - Ahmad Yani Semarang ini seakan menegaskan bahwa tempat ngopi baru tersebut siap mengukir cerita yang berbeda dari pendahulunya, apalagi dengan lokasinya yang sangat strategis—hanya selemparan batu dari Simpang Lima yang merupakan jantung Kota Semarang. Peta Persaingan di Jalur Segitiga Emas Jalan Ahmad Yani sebenarnya bukan tanpa kedai kopi. Jalur ini sudah lebih dulu dihuni oleh nama-nama besar dengan reputasi kuat seperti Antarakata Coffee dan Eastman Coffee House. B...
Comments
Post a Comment