📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026
Kami tidak menyangka bisa menikmati segelas kopi khas ala Turki ini secara langsung di Semarang. Biasanya, pemandangan unik ini hanya bisa kami saksikan melalui layar media sosial atau video pendek yang berseliweran di timeline. Namun, tambahan topping kurma di atasnya membawa cita rasa yang benar-benar di luar ekspektasi.
Pengalaman ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kami ke Hotel Horison Nindya Semarang pada pertengahan Februari kemarin. Pihak hotel mengundang kami untuk mencicipi paket menu buka puasa yang mereka siapkan sebagai sajian spesial menyambut bulan Ramadan tahun ini.
Sebagai penikmat kopi—meski bukan level fanatik—apa yang dihadirkan Horison Nindya tentu memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi pengunjung. Kapan lagi bisa melihat atraksi panci kecil yang digeser-geser secara ritmis di atas pasir panas? Uapnya mengepul pelan, menebarkan aroma kopi yang sangat kuat, pekat, dan berkarakter.
Setelah proses seduh dirasa matang, karyawan yang bertugas menawarkan sesuatu yang unik: apakah ingin diberi tambahan topping kurma? Tanpa ragu kami mengiyakan. Kami sudah terlanjur terpesona dengan presentasi kopi ala Turki yang estetik ini.
Sebagai orang awam, tentu muncul rasa penasaran. Mengapa harus menggunakan media pasir? Apakah ini hanya sekadar teknik visual untuk menarik perhatian pengunjung?
Setelah menelusuri lebih dalam, kami menemukan bahwa metode pasir atau yang dikenal sebagai Sand Coffee ini memiliki fungsi teknis yang krusial. Pasir berfungsi sebagai penghantar panas yang sangat merata ke seluruh sisi cezve (panci kecil tembaga atau sering disebut ibrik).
Metode ini memungkinkan kopi berbuih perlahan tanpa benar-benar mendidih hingga "pecah". Hal ini sangat penting untuk menjaga kualitas rasa serta mempertahankan aroma minyak alami kopi agar tetap utuh hingga sampai ke meja tamu.
Ada fakta yang membuat kami semakin respek terhadap minuman ini. Sejak tahun 2013, UNESCO telah menetapkan Turkish Coffee sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Penetapan ini bukan tanpa alasan; tradisi, simbolisme, hingga interaksi sosial yang tercipta di balik setiap cangkirnya dianggap sebagai identitas budaya yang sangat kuat dan mendunia.
Jujur saja, meski disajikan dalam gelas kecil, setelah mencicipi Turkish Coffee ini, kopi sachet yang biasa kami konsumsi terasa jauh tertinggal. Ada tekstur halus yang tertinggal di lidah—karakter khas kopi tanpa filter—yang membuat setiap sesapannya terasa lebih berbobot dan "mahal".
Beruntung, kami baru mencicipi kopi ini setelah tuntas menyantap hidangan utama. Sebuah catatan penting bagi rekan-rekan yang memiliki riwayat lambung kurang bersahabat: sebaiknya tahan diri dulu. Jangan membiarkan kopi sepekat ini langsung masuk saat perut masih kosong agar momen berbuka tetap nyaman.
Hadirnya Turkish Coffee di Horison Nindya Semarang ini seolah membuktikan bahwa hotel tidak harus selalu bermain aman dengan mesin kopi otomatis. Terkadang, kembali ke cara tradisional yang butuh kesabaran justru memberikan kesan mendalam yang sulit dilupakan.
...
Apakah Anda tertarik mencoba kopi pasir ini untuk menu buka puasa nanti? Beri tahu kami di kolom komentar ya!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment