Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026

Image
Maret 2026 dibuka dengan sapaan cuaca cerah di hari Minggu, setelah semalam sebelumnya Semarang diguyur "hujan mewah" yang menyisakan genangan di beberapa ruas jalan. Memasuki bulan ketiga ini, intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi hingga akhir bulan. Jadi, sedia payung sebelum hujan tetap menjadi saran paling realistis, meski teriknya matahari Semarang juga siap menemani aktivitas Anda. Momen Puncak: Mudik dan Lebaran 1447 H Ramadan yang masih berlangsung dan berlanjut hingga pertengahan Maret membuat persiapan menjelang Idulfitri kian sibuk. Puncaknya, Idulfitri 1447 H diprediksi jatuh pada sekitar tanggal 20 Maret 2026. Bagi warga lokal, bersiaplah menghadapi "aspal ibu kota" yang semakin padat seiring kedatangan para pejuang rejeki dari perantauan. Bertemu sanak saudara memang menyenangkan, namun saat harus keluar rumah untuk liburan di tengah kemacetan kota, itulah tantangan sesungguhnya. Bagi Anda yang berencana mudik keluar Semarang, manfaatkan progra...

🕌 Menjemput Maghrib di Jantung Kota: Tradisi Buka Puasa di Masjid Raya Baiturrahman Semarang

Tahun lalu, suasana buka puasa di Masjid Raya Baiturrahman Simpang Lima Semarang hanya kami dokumentasikan dalam bentuk galeri foto. Namun Ramadan kali ini, kami ingin menceritakannya lebih dalam di sini. Sebab, Baiturrahman lebih dari sekadar destinasi berburu takjil gratis; ia adalah ruang tamu paling inklusif di jantung Kota Semarang.

Rabu sore (25/2), stang sepeda kami arahkan menuju kawasan Simpang Lima. Masjid yang kini genap berusia 52 tahun ini adalah saksi bisu sejarah. Sejak diresmikan tahun 1974, ia telah melihat bagaimana Simpang Lima bertransformasi dari lapangan terbuka menjadi pusat gravitasi ekonomi dan sosial yang modern. Inilah alasan kuat mengapa kami memasukkan masjid ini ke dalam daftar kunjungan wajib Ramadan setelah MAJT, MAS, Pekojan, dan Layur.

Arsitektur Lokal di Tengah Modernitas

Keistimewaan Baiturrahman terletak pada lokasinya yang sangat strategis. Meski dikepung gedung tinggi, masjid ini tetap mempertahankan identitas lokal dengan atap limasan. Selain nilai estetika, bentuk ini sangat efektif untuk sirkulasi udara dan adaptasi terhadap iklim tropis Semarang yang lembap.

Pasca revitalisasi besar-besaran tahun 2021-2022, area publiknya terasa lebih luas dan terbuka. Hal ini juga berdampak pada fasilitas parkir. Jika tahun lalu kami sempat khawatir dan memilih parkir "nyempil" di dekat pos masuk, kali ini petugas justru mengarahkan kami ke deretan motor dekat taman yang lebih nyaman. Menariknya, untuk pengguna sepeda, kami tetap tidak dikenakan biaya parkir alias gratis.

Kajian Iftar Ramadhan: Literasi di Balik Marmer

Jika Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) punya program "KURMA", maka Masjid Raya Baiturrahman konsisten dengan nama Kajian Iftar Ramadhan. Program ini sebenarnya memiliki esensi yang sama, hanya saja dikemas dengan suasana yang berbeda.

Menunggu berbuka sambil mendengarkan kajian di dalam ruang utama yang megah selalu menyenangkan. Niat awal yang mungkin hanya ingin mencari tempat berbuka, justru berujung pada siraman rohani yang mengedukasi. Duduk di atas karpet hijau yang empuk dengan dinding marmer yang dingin memberikan ketenangan tersendiri di tengah hiruk-pikuk Simpang Lima di luar sana.

Sedikit catatan untuk tim media sosial masjid, kami sempat kesulitan mencari jadwal tema kajian harian. Informasi akhirnya kami temukan di akun Instagram resmi YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah (@mrb.jateng). Namun, akan lebih baik jika tema harian ditampilkan secara detail seperti yang dilakukan akun @majt_jateng agar jamaah bisa mengetahui topik apa yang akan dibahas setiap harinya.

Momen Berbuka yang Estetis

Usai kajian, momen yang ditunggu pun tiba. Masih konsisten dengan tradisi tahun-tahun sebelumnya, pihak masjid membagikan nasi kotak dan air mineral kepada jamaah saat kajian mendekati akhir.

Spot paling favorit untuk menyantap hidangan buka puasa adalah teras depan pintu masuk. Duduk di anak tangganya yang estetis sambil memandang wajah Simpang Lima dan lampu-lampu kota yang mulai menyala terasa sangat mewah bagi kami. Selain itu, lorong di sebelah pintu utama juga menjadi primadona; begitu azan berkumandang, area ini langsung penuh oleh jamaah.

Mereka yang berbuka di sini datang dari berbagai latar belakang; mulai dari mahasiswa rantau, pekerja kantoran yang tak sempat pulang, hingga musafir yang sedang transit. Termasuk kami, yang sengaja datang demi menuntaskan rindu pada suasana komunal di Baiturrahman.



...

Kami selalu bersyukur bahwa Masjid Baiturrahman tetap menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja, terutama di bulan suci yang penuh berkah ini. Di tengah modernisasi Semarang yang kian masif, tradisi buka bersama di sini tetap menjadi "jangkar" yang menjaga keseimbangan sisi religius dan sosial kota.

Sudah 52 tahun ia berdiri, dan semoga tahun depan kami masih diberi kesempatan untuk kembali berjumpa dalam harmoni yang sama.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

💻 Ngabuburit Produktif di SDK: Melunasi Janji dan Semangat Baru Coding Mum Semarang

👩‍💻 Hari Perempuan Sedunia 2026: Kabar Galau Gandjel Rel dan Estafet Semangat di SDK Semarang

📍 Melihat Wajah Baru Semarang Digital Kreatif (SDK) di GOR Tri Lomba Juang: Lebih Mungil, Tetap Gratis

Mengawinkan Modem M3Y dengan Kartu 4G Smartfren

📍 Cardea Semarang Resmi Buka di Jangli, Hadirkan Konsep Physio-Pilates Pertama