Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Karnaval seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-ogoh 2018
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Salah satu event Semarang bertema karnaval tahun ini sudah selesai diselenggarakan. Ada cerita menarik kali ini dari kami yang mengikuti acara yang tidak dari awal karena cuaca tidak bersahabat. Sudah tahu?
Ya, hujan adalah cobaan kali ini yang mengguyur beberapa jam sebelum acara dimulai. Padahal pagi hari cuaca tampak terang benderang. Tapi, syukurlah. Acara tetap berjalan setelah hujan dirasa reda meski masih berbentuk rintik-rintik.
Terlambat
Acara yang dijadwalkan dimulai jam 2 siang, bergerak dari titik nol Kilometer Semarang menuju Balai Kota kali ini benar-benar tepat waktu.
Kami tiba jam 2 lebih di titik keberangkatan, yang ada tenda yang akan dibongkar. Sungguh ini pengalaman tidak terduga kami yang biasanya dapat melihat persiapan terlebih dahulu.
Antusias masyarakat
Saat kami coba mengejar arak-arakan yang masih berada di jalan Pemuda, antusias masyarakat seperti biasanya, selalu membludak. Karnaval memang menarik dari sisi event yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota Semarang.
Tahun ke-6 atau tahun ke-7?
Kami sedikit kebingungan mengolah informasi tentang jumlah keberapa acara ini sudah digelar. Menurut catatan kami tahun lalu (2017), acara ini sudah masuk tahun kelima. Ini berarti tahun 2018 masuk tahun keenam.
Namun saat ingin melengkapi postingan ini, beberapa media mencatat tahun 2018, pawai Ogoh-ogoh sudah berjalan ketujuh kali.
Balai Kota
Karena dirasa sudah banyak ketinggalan momen, kami memutuskan untuk mengambil titik akhir pawai Ogoh-ogoh ini berakhir, yaitu Balai Kota.
Sambutan dari panitia, menyebutkan bahwa acara pawai Ogoh-ogoh sebenarnya tidak berhubungan dengan peringatan Hari Raya Nyepi. Hanya saja waktunya memang dilangsungkan tidak beberapa lama dari peringatan tersebut.
Acara yang bekerjasama dengan Pemerintah kota dengan PHDI Semarang ini menekan bahwa pelaku utama acara ini lebih banyak diisi komunitas.
Acara yang berbentuk karnaval dan pawai ini selain sebagai bentuk dukungan pengembangan pariwisata Semarang agar wisatawan tertarik berkunjung, juga memantik pegiat seni untuk menciptakan inovasi budaya seni baru dan menambah bentuk-bentuk kesenian baru yang ada di kota Semarang.
Bedanya dengan di Bali
Ada 700 orang terlibat dalam pawai Ogoh-ogoh yang dilaksanakan hari Minggu siang (25/3/2018) ini. Pawai Ogoh-ogoh di Semarang berbeda dengan yang ada di Bali menurut Wali Kota Semarang. Lalu, apa bedanya? Lihat video berikut ini.
...
Untunglah kami cepat tiba di Balai Kota dan mendapatkan momen saat arak-arakan akhirnya tiba juga di sini. Intip seperti apa pawai yang berlangsung sebelum berhenti di Balai Kota di halaman berikutnya di sini.
Oh ya menutup postingan ini, tema pawai Ogoh-ogoh tahun 2018 adalah “Harmoni Dalam Keberagaman”. Dan saat kami tinggalkan, acara ini belum selesai dengan penampilan sendra tari Rahwana Galau.
Semenjak kembali menggunakan layanan internet operator dari XL Axiata bulan Juli kemarin , ada pertanyaan besar dipikiran kami tentang paket Xtra Combo Flex yang tidak tersedia di aplikasi MyXL. Apakah hanya kami saja yang kebingungan? Dikenalkan sejak bulan Maret 2022, paket Xtra Combo Flex ternyata sangat menarik dari sisi pembagian kuota, seperti bonus hingga gratis berlanggananan konten Vidio. Tidak ada di aplikasi Hanya saja, sebagai pengguna baru yang membeli kartu perdana yang langsung mendapatkan paket Xtra Combo Flex, kami agak bingung saat mencarinya di aplikasi MyXL. Apalagi bonus-bonus yang harus diklaim lewat aplikasi, mau tidak mau membuat kami harus menginstal aplikasinya ke smartphone. Di mana paket Xtra Combo Flex? Dari daftar paket utama pun tidak ada tersedia sama sekali. Sudah kami cari-cari dibeberapa menu lainnya, hasilnya tetap nihil. Paket yang tersedia di paket utama (lihat gambar) hanya ada Akrab, Akrab Mini, Xtra Combo Plus, Xtra Combo Mini, Xtra On dan ...
Membaca kabar mengenai Pemerintah Kota Semarang yang secara resmi telah meluncurkan rangkaian peringatan HUT ke-479 di Halaman Balai Kota baru-baru ini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal bagi kami. Bukan soal kemeriahan acaranya, melainkan soal logo HUT-nya! Tumben sekali kami sampai melewatkan informasinya, atau memang sengaja tahun ini hadir tanpa prosesi lomba desain logo Hari Jadi Kota (HJK)? Tahun 2026 ini, Kota Semarang menginjak usia ke-479. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu momen yang paling kami tunggu-tunggu sebagai pengelola blog ini adalah kemunculan visual identitas resmi Hari Jadi Kota Semarang (HJKS). Namun, ada yang terasa sangat berbeda kali ini. Jika biasanya sejak bulan Februari atau Maret lini masa media sosial sudah riuh dengan pengumuman lomba desain logo yang memancing kreativitas warga, tahun ini suasananya justru senyap. Tidak ada sayembara, tidak ada kompetisi ide, dan tentu saja tidak ada pengumuman pemenang seperti yang rutin kami dokumentasikan ...
Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Entah apa yang terjadi dengan semangat kami belakangan ini. Setelah sebelumnya melewatkan Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin , kami kembali harus menerima kenyataan gagal hadir secara fisik pada gelaran Karnaval Paskah Kota Semarang yang berlangsung tanggal 17 April 2026 kemarin. Padahal, suasana kemeriahannya sudah sangat terasa bahkan sebelum acara dimulai. Meski kali ini kami hanya bisa memantau dari kejauhan dan layar digital, ada satu hal yang sangat mencolok: skala acara tahun ini terasa jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan tahun 2025. Perasaan "lebih ramai" itu rupanya bukan sekadar asumsi, melainkan fakta yang tercermin dari data di lapangan. Lonjakan Peserta dan Kehadiran Mobil Karnaval Jika pada tahun 2025 jumlah peserta berada di angka sekitar 10.000 orang, tahun 2026 ini jumlahnya melonjak drastis hingga menyentuh angka 15.000 orang . Kenaikan sebesar 50% ini menjelaskan mengapa arus informasi dan dokumentasi di media sosial terasa jauh lebih masif. Salah sa...
Biasanya, pengalaman menikmati menu berbuka puasa yang mewah identik dengan undangan dari hotel-hotel berbintang di pusat kota. Namun, kali ini ceritanya berbeda. Cardea Semarang , yang baru saja meresmikan cabangnya di kawasan Jangli pada bulan Maret 2026 kemarin, menyuguhkan pengalaman kuliner yang tidak kalah berkelas. Bisa dibilang, menunya sebelas dua belas dengan hotel, lengkap dengan konsep all you can eat yang sangat terasa premiumnya. Kami sempat mengulas mengenai peresmian fasilitas kesehatan dan fisioterapi mereka sebelumnya. Namun, ada cerita di balik layar yang rasanya sayang jika dilewatkan, terutama mengenai bagaimana rencana besar terkadang harus berkompromi dengan alam. Ketika Langit Semarang Tak Merestui Agenda Lari Sejatinya, Cardea ingin menanamkan memori mendalam pada momen grand opening tersebut dengan mengadakan kegiatan lari. Secara konsep, misi ini sangat tepat sasaran mengingat lokasinya berada di jalur favorit para pegiat olahraga di Semarang. Namun sayang ...
Comments
Post a Comment