Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Karnaval seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-ogoh 2018
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Salah satu event Semarang bertema karnaval tahun ini sudah selesai diselenggarakan. Ada cerita menarik kali ini dari kami yang mengikuti acara yang tidak dari awal karena cuaca tidak bersahabat. Sudah tahu?
Ya, hujan adalah cobaan kali ini yang mengguyur beberapa jam sebelum acara dimulai. Padahal pagi hari cuaca tampak terang benderang. Tapi, syukurlah. Acara tetap berjalan setelah hujan dirasa reda meski masih berbentuk rintik-rintik.
Terlambat
Acara yang dijadwalkan dimulai jam 2 siang, bergerak dari titik nol Kilometer Semarang menuju Balai Kota kali ini benar-benar tepat waktu.
Kami tiba jam 2 lebih di titik keberangkatan, yang ada tenda yang akan dibongkar. Sungguh ini pengalaman tidak terduga kami yang biasanya dapat melihat persiapan terlebih dahulu.
Antusias masyarakat
Saat kami coba mengejar arak-arakan yang masih berada di jalan Pemuda, antusias masyarakat seperti biasanya, selalu membludak. Karnaval memang menarik dari sisi event yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota Semarang.
Tahun ke-6 atau tahun ke-7?
Kami sedikit kebingungan mengolah informasi tentang jumlah keberapa acara ini sudah digelar. Menurut catatan kami tahun lalu (2017), acara ini sudah masuk tahun kelima. Ini berarti tahun 2018 masuk tahun keenam.
Namun saat ingin melengkapi postingan ini, beberapa media mencatat tahun 2018, pawai Ogoh-ogoh sudah berjalan ketujuh kali.
Balai Kota
Karena dirasa sudah banyak ketinggalan momen, kami memutuskan untuk mengambil titik akhir pawai Ogoh-ogoh ini berakhir, yaitu Balai Kota.
Sambutan dari panitia, menyebutkan bahwa acara pawai Ogoh-ogoh sebenarnya tidak berhubungan dengan peringatan Hari Raya Nyepi. Hanya saja waktunya memang dilangsungkan tidak beberapa lama dari peringatan tersebut.
Acara yang bekerjasama dengan Pemerintah kota dengan PHDI Semarang ini menekan bahwa pelaku utama acara ini lebih banyak diisi komunitas.
Acara yang berbentuk karnaval dan pawai ini selain sebagai bentuk dukungan pengembangan pariwisata Semarang agar wisatawan tertarik berkunjung, juga memantik pegiat seni untuk menciptakan inovasi budaya seni baru dan menambah bentuk-bentuk kesenian baru yang ada di kota Semarang.
Bedanya dengan di Bali
Ada 700 orang terlibat dalam pawai Ogoh-ogoh yang dilaksanakan hari Minggu siang (25/3/2018) ini. Pawai Ogoh-ogoh di Semarang berbeda dengan yang ada di Bali menurut Wali Kota Semarang. Lalu, apa bedanya? Lihat video berikut ini.
...
Untunglah kami cepat tiba di Balai Kota dan mendapatkan momen saat arak-arakan akhirnya tiba juga di sini. Intip seperti apa pawai yang berlangsung sebelum berhenti di Balai Kota di halaman berikutnya di sini.
Oh ya menutup postingan ini, tema pawai Ogoh-ogoh tahun 2018 adalah “Harmoni Dalam Keberagaman”. Dan saat kami tinggalkan, acara ini belum selesai dengan penampilan sendra tari Rahwana Galau.
Fenomena ini sejatinya adalah strategi influencer marketing lapis kedua yang digerakkan oleh agensi. Alih-alih menggelontorkan anggaran besar hanya untuk segelintir mega-influencer , mereka memilih menebar jala ke banyak akun kreator melalui sistem crowdsourcing . Syaratnya pun bervariasi, biasanya menyasar akun-akun dengan minimal followers di angka tertentu, misalnya 1.000 pengikut. Dengan mengerahkan puluhan hingga ratusan kreator secara serentak beberapa hari sebelum film rilis, terciptalah ilusi masif bahwa film tersebut sedang menjadi pusat perbincangan. Dari sudut pandang pemasaran, model ini memang sangat efektif mendongkrak awareness dalam waktu singkat. Begitu kami mencoba masuk ke dalamnya, kami biasanya ditarik ke dalam grup koordinasi—yang belakangan kami sadari isinya bukan cuma soal film, tapi juga berbagai penawaran kampanye lain dengan pola serupa. Dari pengalaman pribadi kemarin, perjalanannya ternyata cukup menguras energi hingga akhirnya kami memilih mundur karen...
Niat awalnya sebenarnya cuma mau mengecek info operasional terkait penutupan sementara area Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang pertengahan Juli kemarin. Tapi saat tiba di lokasi, perhatian kami justru teralih pada hal lain yang selama ini terlewatkan: keberadaan akses Wi-Fi gratis milik Pemkot Semarang. Minggu pagi (19/7), usai melipir sejenak menikmati suasana Car Free Day (CFD) di Simpang Lima, setang sepeda langsung kami arahkan menuju kawasan GOR Tri Lomba Juang. Begitu sampai dan merogoh gawai untuk memastikan kabar penutupan kawasan tersebut, kami baru menyadari smartphone sudah otomatis terhubung ke jaringan internet nirkabel. Jaringannya tampaknya terintegrasi dengan akses Wi-Fi publik di Simpang Lima, sehingga gawai yang pernah terkoneksi akan langsung masuk tanpa perlu repot melakukan login ulang. Spot Duduk yang Nyaman dan Teduh Sambil bersiap mengetes kualitas koneksinya, kami mengamati suasana sekitar selasar. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik duduk santai...
Sebagai pengelola blog yang porsinya lebih sering berkelana menyoroti dinamika ruang kota ketimbang mendalami isi piring, urusan kuliner terkadang jadi ranah yang penuh kejutan bagi kami. Seperti Nasi Glewo yang sempat kami ulas sebelumnya, perkenalan kami dengan Petis Kangkung juga berawal dari lini masa media sosial beberapa bulan lalu. Rasa penasaran itu akhirnya membimbing kami secara tidak sengaja ke sebuah kios kecil di Jalan Jolotundo: Warung Pecel & Gudangan Bu Joko . Siapa sangka, di balik kesederhanaan warungnya, tersimpan salah satu kuliner legendaris khas Semarang yang masih eksis merawat lidah warganya. Kejutan Rasa dan Sensasi Pedas yang "Nempel" Porsi petis kangkung yang dihidangkan tampak sederhana di atas piring lidi beralaskan kertas minyak. Kangkung rebus yang masih bertekstur renyah dipadu tauge segar, lalu diguyur bumbu petis udang khas Semarang yang pekat, gurih, dan manis. Namun, ada pelajaran berharga ketika memesan menu ini: jangan anggap remeh p...
Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Festival Kota Lama (FKL) Semarang resmi menginjak usianya yang ke-15 tahun pada penyelenggaraannya tahun ini. Digelar lebih panjang hingga 17 hari (4–20 September 2026) demi menyambut perhelatan akbar MTQ Nasional, hajatan budaya ini kembali menyedot perhatian publik sejak malam pembukaannya yang megah. Namun, di balik kemilau panggung utama dan ramainya Pasar Malam Sentiling yang berkolaborasi dengan pasar malam tradisional, ada kontras menarik yang luput dari pandangan mata. Siapa pun yang mampir ke kawasan heritage sejak pagi menjelang siang hari—jauh sebelum gerbang area utama dibuka atau car free night dimulai—mendapati suasana yang berjalan normal seperti hari biasa. Kawasan tampak "hampa atribut" karena aturan ketat konservasi sejarah, ditambah kontras telak gema branding-nya yang seolah tenggelam di bawah bayang-bayang gegap gempita MTQ Nasional. Bagaimana rupa festival di usianya yang ke-15 ini jika diamati dari dinamika kunjungan harian di luar jam operasional ut...
Comments
Post a Comment