📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Ternyata sudah setahun berlalu sejak terakhir kali kami memperbarui kabar tentang Plasa Simpang Lima Semarang. Saat sedang menikmati suasana Car Free Day (CFD) Simpang Lima pada Minggu pagi, 11 Januari 2026, roda ban sepeda kami terhenti sejenak. Mata kami berpapasan dengan sebuah pemandangan yang memicu melankoli: sebuah spanduk yang membentang tepat di depan pintu masuk. Entah kenapa, ada rasa sedih yang menyelinap saat memperhatikannya lebih dalam.
Spanduk MMT berwarna oranye-kuning itu membentang di antara dua pilar marmer besar yang kokoh. Di tengah gempuran zaman, spanduk itu seolah menjadi satu-satunya 'suara' yang tersisa, mencoba berteriak kepada dunia luar bahwa di balik pintu kaca itu, denyut nadi jual-beli komputer dan ponsel masih berdenyut.
Melihat pemandangan ini, ada rasa haru yang menyelip. Kita semua tahu, pusat perbelanjaan legendaris di jantung Kota Semarang ini sedang bertarung hebat melawan waktu dan dominasi algoritma marketplace. Suasananya tak lagi seriuh satu dekade lalu, masa di mana orang-orang rela berdesakan demi sekadar mencari kepingan CD software, rakitan PC impian, atau sekadar melihat tren gadget terbaru.
Banyak kenangan yang pernah kami lalui di gedung ini. Mulai dari momen membeli laptop pertama, sekadar nongkrong memanfaatkan fasilitas Wi-Fi yang dulu terasa mewah, hingga berburu perangkat-perangkat unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Bagi kami, Plasa Simpang Lima bukan sekadar mal, tapi bagian dari perjalanan digital kami di Semarang.
Kini, yang tertangkap kamera hanyalah keteguhan para pedagang dan bapak-bapak penarik becak yang setia menunggu di depan pintu. Mereka seolah menjadi penjaga gerbang dari sebuah masa kejayaan yang mulai memudar. Namun, Simpang Lima Computer Center (SCC) bukan sekadar deretan toko yang sepi. Bagi kami, ia adalah simbol daya tahan (resilience).
Di tengah kepungan mal-mal baru di Semarang yang jauh lebih mengkilap dan modern, SCC tetap berdiri tegak. Ia menawarkan solusi fisik yang tidak bisa diberikan oleh layar ponsel: sebuah jabat tangan, proses tawar-menawar yang manusiawi, hingga keahlian tangan-tangan teknisi yang mampu menghidupkan kembali perangkat lama kita saat service center resmi sudah angkat tangan.
Mungkin spanduk oranye di pintu masuk itu memang terlihat lelah, tapi ia jelas belum menyerah. Pintu kaca di bawah pilar marmer itu masih terbuka lebar bagi siapa saja yang merindukan interaksi nyata di balik sebuah transaksi.
Akhirnya, SCC atau Plasa Simpang Lima bukan sekadar tempat untuk mencari barang murah. Ia adalah sisa-sisa ekosistem yang dulu membesarkan digitalisasi di kota ini. Sesekali, cobalah mampir kembali. Parkirlah motor sejenak, sapa bapak becak yang setia di depan gerbang, dan melangkahlah masuk. Barangkali, kabel data atau charger yang Anda butuhkan tersedia di salah satu etalase di sana—bisa langsung dibawa pulang tanpa perlu menunggu kurir datang esok lusa.
Karena terkadang, bentuk dukungan paling nyata bagi mereka yang sedang berjuang adalah dengan kehadiran kita untuk kembali meramaikan lorong-lorongnya. Sampai jumpa di Simpang Lima!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment