📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Sekitar satu minggu yang lalu, feed Instagram kami sempat dilewati oleh postingan dari akun @gramedia.jalma. Karena ada nama Semarang disebut di sana, kami langsung tertarik dan tak tahan untuk ikut berkomentar: “Oh, ini alasan kenapa Gramedia Pandanaran direnovasi.”
Jika kamu sempat melintas di Jalan Pandanaran belakangan ini, pemandangan toko buku legendaris itu memang masih tertutup rapat oleh pagar seng. Proyek renovasi yang sedang berjalan di sana seolah menyimpan rahasia besar tentang akan jadi seperti apa wajah literasi Semarang ke depan. Kami sendiri bahkan sempat mengabadikan momen pengerjaannya di akhir tahun 2025 lalu melalui blog galeri foto, dengan harapan bisa memberi informasi sekaligus mengikuti perkembangannya.
Rasa penasaran kami terhadap kata "Jalma" akhirnya terjawab setelah menelusuri maknanya lebih dalam. Secara harfiah, Jalma (atau Jelema) diambil dari bahasa Sunda dan Jawa yang berarti "Manusia" atau "Orang". Sebuah pemilihan nama yang filosofis, karena Gramedia nampaknya ingin menandakan perubahan fokus mereka: dari sekadar toko ritel yang menjual benda (buku), menjadi ruang yang lebih fokus pada manusianya.
| Gambar : Instagram Gramedia Jalma, lihat di sini postingannya. |
Konsep Jalma sendiri sebelumnya sudah sukses menyita perhatian di Blok M, Jakarta. Bagi penyuka buku di Semarang, kabar hadirnya konsep ini tentu menjadi sesuatu yang sangat dinanti. Meski kami masih meraba-raba eksekusi finalnya nanti, ada beberapa detail menarik yang bisa kita harapkan dari wajah baru di Pandanaran:
"Third Space" (Ruang Ketiga): Jalma didesain sebagai ruang ketiga setelah rumah dan kantor. Tempat di mana kita bisa nongkrong, bekerja (remote working), atau sekadar melamun dengan estetik tanpa merasa asing.
Boleh Baca di Tempat: Ini yang paling dinanti. Berbeda dengan toko buku konvensional yang terkadang membuat kita segan membaca terlalu lama, Jalma justru menyediakan banyak seating area yang nyaman dengan pencahayaan warm (hangat) yang lebih bersahabat di mata.
Koleksi Lebih Terkurasi: Rak bukunya tidak akan setinggi dan sepadat biasanya. Fokusnya lebih ke buku-buku pilihan, karya penulis lokal, hingga area lifestyle dengan produk yang lebih unik dan premium.
Integrasi Kafe: Suasananya bakal lebih menyerupai kafe besar yang dipenuhi buku. Aroma kopi dan kertas akan menjadi kawan akrab saat kita berkunjung nanti.
Kami pikir memang sudah waktunya Gramedia Pandanaran berbenah. Terlepas dari lokasinya yang sangat strategis, bangunan ini memiliki nilai sejarah (heritage) tersendiri sebagai salah satu toko buku tertua di Semarang. Mengubahnya menjadi konsep Jalma adalah langkah berani untuk menarik kembali minat anak muda Semarang yang mungkin selama ini lebih memilih nongkrong di kafe daripada menyambangi toko buku yang terkesan "jadul".
Awalnya, kami sempat mengira renovasi ini hanyalah perluasan bangunan agar lebih modern, mirip dengan apa yang dilakukan di Gramedia Majapahit. Namun ternyata, Gramedia memilih jalan yang lebih apresiatif terhadap loyalitas pengunjungnya. Ini adalah cara mereka mendengar "curhatan" para pelanggan setianya selama ini.
Kehadiran Jalma seolah mengonfirmasi bahwa toko buku fisik di Semarang sedang berevolusi. Ia bukan lagi sekadar tempat transaksi, tapi menjelma menjadi ruang perjumpaan—tempat ide-ide baru bisa lahir sambil menyesap kopi.
Tentu kita masih harus bersabar sedikit lagi sampai pagar seng itu dibuka sepenuhnya pada 2026 nanti. Namun melihat semangat yang dibawa, sepertinya Pandanaran bakal punya magnet baru yang tidak hanya bicara soal bandeng atau lumpia, tapi tentang perjumpaan manusia yang lebih bermakna.
![]() |
| Gambar ini diambil 8 Februari kemarin (termasuk cover) |
Kira-kira, buku apa yang bakal pertama kali kamu baca saat nanti pintu Jalma resmi dibuka untuk kita semua?
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment