📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juni 2026
Meninggalkan bulan Mei, kami teringat akan dua momen banjir di lokasi yang sama yang sempat kami alami. Menariknya, kedua momen ini seperti memiliki ikatan tersendiri karena terjadi pada tanggal yang sama-sama memiliki unsur angka 2. Momen pertama terjadi saat kami pulang meliput kemeriahan Semarang Night Carnival (SNC), dan momen kedua ketika kami sedang menuju sebuah acara di Rumah Sakit Telogorejo (SMC).
Jika tidak mengalaminya secara langsung, kami mungkin tidak akan pernah tahu kalau ruas Jalan Kartini—mulai dari tikungan Jalan MT Haryono hingga sebelum jembatan Kartini—termasuk wilayah yang rawan tergenang air apabila hujan deras mengguyur dalam durasi yang lumayan lama.
Kejadian ini seolah kembali memperkuat branding "Semarang Kota Banjir", sebuah topik yang pada musim penghujan kemarin begitu santer dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Padahal, jika ditarik benang merahnya, Jalan Kartini dan genangan air merupakan cerita klasik yang terus berulang di Kota Semarang setiap kali intensitas hujan meninggi.
Apesnya bagi kami, kenapa momen banjir ini harus datang tepat saat kami sedang gowes, baik itu waktu pulang dari acara maupun saat berangkat. Masalah di lapangan menjadi kian runyam kala kemudahan bersepeda yang kami harapkan justru harus berbenturan dengan kendala teknis: rantai sepeda copot saat tengah mengayuh di tengah genangan. Sebuah kondisi yang benar-benar mirip pepatah kuno, sudah jatuh tertimpa tangga.
Momen pertama ini kami rasakan pada malam hari tanggal 2 Mei. Nuansa ironi begitu kental terasa di sini. Baru saja kamera dan mata kami dimanjakan oleh gemerlap kemeriahan kostum serta lampu-lampu di Semarang Night Carnival (SNC), perjalanan pulang kami justru langsung disambut oleh genangan air yang cukup tinggi di kawasan Jalan Kartini.
Hujan deras yang mengguyur secara mendadak dan bertahan lama sukses mengubah suasana jalanan menjadi gelap, ditambah riak gelombang air yang tercipta dari kendaraan bermotor yang nekat melintas.
Di tengah kondisi fisik yang sudah terkuras habis setelah berdiri berjam-jam selama liputan, ego bersepeda kami benar-benar diuji malam itu. Kayuhan pedal terasa ekstra berat karena harus membelah genangan air yang menenggelamkan ban sepeda di bawah pekatnya malam.
Sebenarnya, tanda-tanda air mulai naik sudah terlihat sejak kami melintasi Jalan Mayor Jenderal D.I. Panjaitan. Namun, titik terparah dengan genangan paling dalam baru benar-benar kami rasakan saat memasuki Jalan Kartini.
Momen kedua kami dapati pada siang hari tanggal 22 Mei. Pola cuacanya bisa dibilang hampir mirip dengan kejadian di awal Mei, yaitu hujan deras yang tiba-tiba turun dengan durasi yang cukup lama. Saat itu, kami sedang berpacu dengan waktu, bersepeda menuju sebuah acara di Rumah Sakit Telogorejo atau Semarang Medical Center (SMC).
Jika pada malam hari suasana banjir terasa lebih mencekam, momen siang hari ini menyajikan pemandangan realita yang jauh lebih gamblang. Air tampak menutup permukaan aspal dengan cukup merata, terutama di area depan kuliner Bebek & Ayam Kampung Mas Budi.
Akibat genangan ini, aktivitas lalu lintas mendadak melambat. Beberapa pengendara motor memilih untuk menepi demi menyelamatkan mesin mereka, sementara sejumlah warga terpaksa berjalan kaki menerobos air. Lagi-lagi, ban sepeda kami harus rela "menyelam" di rute yang sama agar kami tidak terlambat menghadiri agenda acara di rumah sakit.
Dua tanggal yang berbeda, suasana siang dan malam yang kontras, namun Jalan Kartini tetap menyuguhkan tantangan yang serupa bagi para pelaju jalan kota. Di balik repotnya menerobos banjir dengan sepeda dan drama rantai copot, selalu ada ruang untuk mengapresiasi ketangguhan warga sekitar serta pengguna jalan yang tetap sabar menghadapi rutinitas musiman ini.
Tentu saja, harapan besar tetap kami gantungkan agar sistem drainase di kawasan Jalan Kartini bisa semakin dioptimalkan ke depannya. Dengan begitu, cerita yang tersisa dari salah satu urat nadi kota ini adalah tentang kelancaran berkendara, bukan lagi kisah tentang ban sepeda yang kelelep.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment