📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Sebenarnya kami tak berencana makan bubur ayam pagi itu. Namun, sebuah wajah yang tak asing seketika mengenali dan menyapa kami. Sebagai kawan lama, tentu kami membalas sapaan beliau dengan hangat. Alhasil, niat awal yang hanya sekadar lewat berubah menjadi momen untuk mencicipi bubur ayam yang beliau jajakan.
Dari kejauhan, gerobak ini mudah sekali dikenali berkat warna hijaunya yang mencolok—mungkin itu alasan di balik nama Bubur Ayam Ijo. Meski gerobaknya "ijo", tenang saja, buburnya sendiri tetap berwarna putih bersih dengan siraman kuah kuning yang gurih, bukan bubur pandan atau sejenisnya.
Kami bukan ahli kuliner atau blogger spesialis makanan yang paham istilah teknis dapur. Namun satu hal yang kami yakini: ketika rasa lapar sudah mendidih, kelezatan makanan pasti meningkat jadi 200 persen. Dan Bubur Ayam Ijo ini sukses mengeksekusi rasa lapar tersebut dengan baik.
Gambar yang kami sematkan dalam tulisan ini diambil menggunakan iPhone 5S. Meski tergolong ponsel jadul, kameranya terbukti masih mumpuni menangkap detail makanan, walau memang terasa sedikit lebih gelap dibandingkan hasil tangkapan Zenfone 5 milik kami.
Namun, detail di atas mangkuk tetap terlihat menggoda. Ada satu butir telur pindang utuh yang warnanya cokelat meresap, suwiran ayam, cakue, hingga taburan seledri. Tekstur buburnya lembut, menyatu pas dengan gurihnya kuah kuning yang melimpah. Bagi lidah kami, ini adalah perpaduan yang sangat pas untuk memulai hari di Semarang.
Untuk urusan kantong, ini yang menarik. Satu mangkuk bubur ayam lengkap dengan telur utuh tadi plus segelas teh hangat hanya dibanderol Rp15.000. Sebuah harga yang sangat bersahabat untuk ukuran Kota Semarang, mengingat kita sudah mendapatkan protein utuh dari telur pindang.
Hanya saja, perlu dicatat bahwa penjualnya belum menyediakan opsi pembayaran non-tunai alias QRIS. Karena faktor kenal, beliau tidak keberatan saat kami hampir "makan gratis" karena lupa membawa uang tunai. Tentu kami merasa tidak enak hati; dalam pikiran kami, segera setelah ini kami harus mencari minimarket terdekat untuk tarik tunai.
Di sepanjang Jalan Gajah Raya, memang ada banyak penjual bubur ayam yang berderet. Jika ditanya mana yang paling enak, kami mungkin tidak berani menjamin secara objektif. Namun, jika mencari salah satu rekomendasi yang layak dicoba dengan pelayanan yang ramah, Bubur Ayam Ijo ini adalah jawabannya.
Lokasi: Jalan Gajah Raya, dekat Pom Bensin (Seberang tempat pencucian mobil 'Two Points Car Wash').
Jam Buka: Mulai pagi hari sampai habis. Biasanya sekitar jam 10.00 atau 11.00 siang beliau sudah mulai berkemas.
Silakan mampir jika sedang melintas di area Gajah Raya. Kadang, hiburan terbaik di Semarang bukan hanya soal mencari tempat baru yang mewah, tapi tentang mengapresiasi rasa lokal yang jujur dan personal seperti ini.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment