📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Pasar Rakyat Dugderan atau yang akrab kita sebut Pasar Dugder akhirnya kembali menyapa. Secara konsep, nuansanya mungkin masih terasa serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada narasi menarik yang ingin kami bagikan bagi kamu yang mampir ke halaman ini; sebuah cerita tentang harmoni yang jarang terjadi.
Dugderan bukan sekadar pasar malam tahunan. Ia adalah denyut nadi Kota Semarang dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tahun 2026 ini terasa sangat istimewa bagi kami. Bagaimana tidak? Di saat pembukaan resmi Dugderan berlangsung pada Sabtu malam (7/2), di pagi harinya kami masih khusyuk mengikuti prosesi di Klenteng Tay Kak Sie dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.
Tabrakan Budaya yang Indah
Bayangkan sebuah momen 'tabrakan budaya' yang begitu selaras. Jarang-jarang kalender lunar dan hijriah berdekatan seperti ini. Kota Semarang seolah mengajak warganya merayakan dua tradisi besar dalam satu tarikan napas.
Keputusan untuk memajukan gelaran Dugderan mulai 7 Februari merupakan langkah cerdas. Hal ini seolah memberi ruang agar kemeriahan Imlek dan atmosfer menuju Ramadan bisa dinikmati warga secara bergantian tanpa harus merasa 'saling sikut'. Tidak ada sekat, semua melebur dalam ruang publik yang sama.
Titik Lokasi dan Panggung Utama
Jika tahun lalu kamu mengikuti catatan di blog ini, maka titik lokasinya kurang lebih masih sama. Area kemeriahan berpusat di sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo (mulai dari simpang Hotel Metro hingga jembatan Kali Semarang), serta meluas ke arah Alun-alun Barat di sisi utara Masjid Agung Semarang (Kauman).
Jujur saja, kami baru menyadari keberadaan panggung megah untuk pembukaan tahun ini usai menghadiri acara Doa Bersama dan Ketuk Pintu di Tay Kak Sie. Andai kami tak menyempatkan mampir di siang harinya, mungkin catatan kami akan terasa sama saja dengan versi 2025.
Ternyata, panggung tersebut bukan sekadar hiasan seremoni. Ada penampilan musik "Dangdut Jadoel" dari OM Lorenza yang sukses membawa memori lama, ditambah atraksi Rampak Bedug serta penampilan gagah Drumband dari PIP Semarang. Sepertinya tahun ini Pemerintah Kota Semarang memang ingin tampil 'jor-joran' dan lebih kolosal.
Gratis Retribusi: Pesta Rakyat Sebenarnya
Satu informasi menarik yang kami himpun di lapangan adalah mengenai kebijakan retribusi. Kabarnya, para pedagang tahun ini tidak dikenai biaya retribusi alias gratis. Tujuannya mulia: agar harga jajanan dan mainan tradisional tetap terjangkau bagi warga. Jadi, saat kamu membeli kapal otok-otok atau telur mimi, setidaknya kita tahu uang tersebut berputar maksimal untuk menggerakkan ekonomi para pedagang kecil.
Misi Warisan Budaya Nasional
Di balik keriuhan komidi putar dan aroma kuliner, ada misi besar yang sedang diusung. Pemkot Semarang tengah mengupayakan agar Festival Dugderan resmi diakui sebagai Warisan Budaya Nasional. Inilah alasan mengapa kemasan acara dibuat lebih rapi dengan durasi 10 hari penuh (7-16 Februari).
Dugderan kini bukan hanya tentang pasar rakyat, tapi sebuah representasi identitas kota. Meski kami tak sempat hadir saat seremoni pembukaan karena faktor kelelahan fisik—maklum, dua acara besar dalam sehari cukup menguras energi—kami tetap mengapresiasi tinggi upaya penataan tahun ini.
Kondisi Lapangan Saat Ini
Visual yang bisa kami tampilkan kali ini mungkin belum terlalu banyak. Saat kami mampir, para pedagang masih tampak sibuk menata lapak dan mempersiapkan dagangan mereka. Namun, gerbang utamanya sudah berdiri kokoh dengan desain mencolok yang dihiasi wajah Ibu Wali Kota Semarang.
Secara keseluruhan, Dugderan 2026 memberikan aura "Pesta Rakyat" yang jauh lebih terasa. Selamat berbelanja, selamat jajan telur mimi, dan mari merayakan momen setahun sekali ini. Siapa tahu, di tengah riuhnya pasar, kamu bisa menemukan kembali memori masa kecil yang ingin kamu kenang lagi dan lagi.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment