📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Kawasan Car Free Day (CFD) yang biasanya identik dengan aktivitas olahraga santai atau sekadar berburu kuliner, belakangan ini menunjukkan wajah yang berbeda. Ada pemandangan yang mencuri perhatian di jantung Kota Semarang, tepatnya di sepanjang Jalan Pahlawan. Bukan deru mesin, melainkan deru ban tipis dari puluhan anak-anak yang menyulap jalanan depan kantor Gubernuran menjadi ajang balapan sepeda.
Sebagai kawasan CFD terbesar di Kota Semarang, Simpang Lima memang punya daya tarik luar biasa. Penutupan akses jalan yang meluas hingga ke Jalan Pahlawan memberikan ruang publik yang sangat lapang. Namun, jika kami tidak jeli mengelilingi sudut-sudutnya, mungkin aktivitas unik ini akan luput dari pandangan. Di sinilah, di depan kantor Gubernuran, fenomena "balapan sepeda onthel" ini berpusat.
Sebenarnya kami sudah memantau aktivitas ini sejak beberapa bulan terakhir di tahun 2025. Namun memasuki awal tahun 2026, suasananya semakin masif. Kerumunan anak-anak dengan sepedanya kini tidak hanya menjadi sekadar tontonan, tapi sudah menarik perhatian banyak orang yang melintas.
Ada pemandangan menarik saat melihat mereka berbaris rapi dari pinggir hingga batas tengah jalan, seolah menutup separuh akses. Kami mencoba mendekat dan melihat langsung bagaimana ritme balapan ini bekerja. Formatnya sederhana namun memacu adrenalin: drag race pendek dengan lintasan lurus sekitar 100 meter.
Dalam satu kali start, biasanya ada 3 hingga 5 anak yang bersiap. Begitu aba-aba dimulai, mereka menginjak pedal sekuat tenaga, mengandalkan performa sepeda dan kekuatan fisik murni tanpa bantuan mesin. Setelah menyentuh garis finish, mereka akan memutar balik dan mengulangi proses yang sama terus-menerus selama tenaga masih ada. Bagi mereka ini adalah ajang pembuktian diri yang keren, meski bagi kami tetap ada rasa miris melihat mereka memacu kecepatan tanpa perlengkapan pengaman yang memadai.
Ada hal unik saat kami mengobrol dengan beberapa anak di lokasi. Mereka kompak menyebut kendaraan mereka sebagai "sepeda onthel". Padahal secara visual, yang kami lihat adalah sepeda jenis BMX. Di sini, istilah onthel mengalami pergeseran makna; bukan lagi merujuk pada sepeda tua (sepeda kebo), melainkan istilah lokal untuk menyebut sepeda angin atau sepeda kayuh secara umum.
Modifikasi yang paling ekstrem adalah absennya sadel atau tempat duduk. Membayangkan tiang sadel yang terbuka tanpa alas saja sudah terasa linu, tapi bagi mereka, ini adalah standar balap. Sadel sengaja dilepas agar ruang gerak saat melakukan sprint berdiri menjadi lebih bebas. Soal keamanan barang, mereka cukup solider; sadel-sadel tersebut dititipkan kepada teman di pinggir jalan dan baru dipasang kembali saat mereka hendak pulang ke rumah.
Identitas mereka semakin kuat dengan munculnya komunitas seperti "Onthel Semarang Speed". Ini membuktikan bahwa aktivitas ini bukan sekadar kesenangan sesaat di Minggu pagi, melainkan wadah kumpul bagi anak-anak yang memiliki kegemaran serupa. Bahkan, mulai muncul perlombaan-perlombaan kecil yang mewadahi tipe sepeda hasil modifikasi mereka.
Kami melihat fenomena ini harus mulai dilirik lebih luas oleh para pemangku kepentingan (stakeholders). Alih-alih hanya menjadi "pepesan kosong" atau sekadar hobi jalanan yang berisiko, ruang ekspresi ini bisa diarahkan ke arah yang lebih positif. Misalnya dengan mengadakan event resmi yang lebih mengedepankan standar keamanan dan memberikan apresiasi nyata bagi kreativitas mereka.
Melihat bagaimana 'Onthel Semarang Speed' ini tumbuh, kita diingatkan bahwa ruang publik seperti Jalan Pahlawan bukan hanya milik mereka yang berolahraga secara konvensional. Di sana, ada kreativitas yang lahir dari keterbatasan, ada kompetisi yang jujur, dan ada identitas yang terus dikayuh oleh anak-anak Semarang.
Apakah fenomena ini akan tetap menjadi hobi jalanan atau naik kelas menjadi kompetisi resmi? Yang pasti, aspal Pahlawan sudah punya cerita baru untuk diceritakan.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment