📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026
Setelah sebelumnya kami membahas betapa prestisiusnya julukan "Raja Terakhir" bagi event Semarang 10K, rasanya kurang lengkap jika kami tidak memotret sisi lain dari keriuhan tersebut. Di balik medali yang berkilau dan foto-foto estetik di Threads, terselip suara-suara jujur dari warga sekaligus peserta yang merasakan langsung dinamika di lapangan.
Kami menyadari bahwa sebuah event berskala nasional pasti membawa dampak bagi aktivitas harian. Namun, tahun 2025 ini menyisakan beberapa catatan penting. Salah satu masukan yang menurut kami sangat tajam dan komprehensif datang dari seorang netizen di platform Threads yang memosisikan dirinya sebagai peserta sekaligus warga lokal:
"Sebagai peserta Semarang10K 2025 dan warga Semarang, sy ingin kasih masukan. Setelah Race Day bnyk sekali keluhan terkait penutupan jalan. Salah satu yg dikeluhkan adalah area Ps Johar dimn aktivitas ekonomi dimulai sjk subuh. Selain itu ada lagi keluhan pengalihan lalin yg krg baik shg yg ibadah gereja pun terganggu. Sosialisasikan pengalihan lalin dg baik, jgn cuma spanduk di pinggir jalan dg tulisan kecil-kecil."
Suara ini mewakili kegelisahan mengenai keseimbangan antara pesta olahraga dan denyut nadi masyarakat Semarang. Mari kita bedah lebih dalam tantangan sosial yang muncul.
Area Pasar Johar menjadi sorotan utama. Sebagai pusat ekonomi yang sudah berdenyut sejak subuh, penutupan jalan di area ini menjadi tantangan besar. Aktivitas logistik pasar yang terhambat bukan sekadar soal kemacetan, tapi soal urusan ekonomi rakyat yang tidak bisa ditunda.
Selain sektor ekonomi, akses menuju tempat ibadah juga menjadi catatan. Mengingat event ini berlangsung di hari Minggu pagi, pengalihan lalu lintas yang kurang tersosialisasi berdampak pada warga yang hendak melaksanakan ibadah gereja di sekitar rute lari. Ketidaksiapan informasi mengenai jalur alternatif membuat niat beribadah justru berujung pada hambatan di jalan raya.
Kami sepakat bahwa sosialisasi tidak cukup hanya dengan spanduk kecil di pinggir jalan. Untuk event sebesar Semarang 10K, kami berharap ke depannya pihak penyelenggara bisa melakukan pendekatan yang lebih inklusif.
Mengundang perwakilan masyarakat terdampak—seperti pengelola gereja, persatuan pedagang Pasar Johar, hingga perwakilan RT/RW setempat—adalah langkah krusial. Dialog sebelum hari-H adalah kunci agar semua pihak merasa dihargai, bukan sekadar "diberitahu" lewat spanduk yang seringkali terlewatkan mata.
Dinamika di lapangan menunjukkan bahwa penegakan Cut Off Point (COP) atau batas waktu lari sangat krusial agar pembukaan arus lalu lintas bisa dilakukan sesuai komitmen. Jika COP tidak dijalankan dengan tegas, arus lalu lintas akan tersendat lebih lama dari jadwal, yang kemudian memicu gesekan antara petugas dan warga.
Kami mendengar adanya keluhan soal intimidasi verbal bahkan hingga kendaraan yang nekat menerobos jalur pelari. Ini sangat membahayakan keselamatan. Memajukan jam flag off (waktu start) bisa menjadi opsi solusi untuk meminimalkan benturan dengan jam sibuk masyarakat di hari Minggu pagi.
Saat ini, muncul narasi negatif di media sosial yang menyerang dunia lari dengan istilah-istilah seperti "pelari kalcer" atau "lari nyusahin orang". Jika persepsi publik sudah terbentuk bahwa event lari hanya membuat kota "lumpuh", maka label sport tourism unggulan akan sulit dipertahankan.
Penyelenggara, baik itu Kompas maupun Pemkot Semarang, perlu menjaga keseimbangan ini agar citra positif Semarang tetap terjaga di mata warga sendiri maupun wisatawan.
Kami sangat mendukung Semarang 10K tetap menjadi agenda tahunan kebanggaan kita semua. Namun, untuk tetap memegang tahta sebagai "Raja Terakhir", kebesaran nama event ini harus berjalan beriringan dengan kenyamanan warga.
Kesuksesan sebuah event bukan hanya diukur dari pecahnya rekor nasional di garis finish, tapi juga dari senyum pedagang pasar dan kelancaran warga yang beribadah. Mari kita tunggu evaluasi dan langkah nyata untuk penyelenggaraan yang lebih baik di tahun depan.
Semarang harus tetap lari, tapi jangan sampai ada warga yang merasa terpinggirkan di rumah sendiri.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment