Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Kakak
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Ada yang berani tinggal di rumah sendirian dengan berbagai peristiwa yang tak masuk akal? Film dengan durasi 85 menit ini mengajak penontonnya bertegang ria. Film Kakak resmi tayang di bioskop tanah air tanggal 5 November 2015.
Animo penonton Semarang di awal film ini rilis masih seperti biasa, standar. Kurang dari 20 penonton di jam pertama seakan menggambarkan bagaimana wajah perfilman tanah air masih belum maksimal. Meskipun demikian, film ini setidaknya lebih baik dari film yang juga sama-sama tayang, film Misterius.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang kehidupan suami istri yang masih muda harus menghadapi kenyataan bahwa rumah yang mereka tempati ternyata ada penunggunya yang berwujud anak perempuan.
Jangan berpikir negatif dulu tentang film ini. Berikut beberapa hal menarik dari film Kakak yang perlu Anda ketahui sebelum pergi ke bioskop akhir pekan ini.
Hantu baik
Hal pertama yang ingin disampaikan lewat film ini adalah ini berbeda dengan film-film yang bergenre sama yaitu horor. Jarang-jarang sih melihat cerita yang ingin memberikan sisi lain soal perwujudan dengan hal positif. Film garapan Ivander Tedjasukmana ini menurut saya sukses melakukannya.
Melihat akting Laudya Chintya Bella tanpa kerudung
Meski harus diterpa isu yang kurang sedap, Laudya Chintya Bella yang setahun belakangan ini muncul di film layar lebar dengan kerudung, lewat film ini, Bella harus menerima kenyataan bahwa ia tidak berkerudung.
Banyak orang bertanya soal ini dan tanpa sadar menaikkan citra film ini yang ternyata film ini mengambil syuting sebelum Bella menggunakan hijab. Entah mengapa baru sekarang film ini keluar. Apa karena jadwal teratur film Indonesia yang tayang?
Totalitas para pemain
Bila Laudya Chintya Bella berhasil menarik minat penonton film karena isu yang tak sengaja tersebar sendiri, maka penonton juga harus melihat bagaimana totalitas Bella dan Surya Saputra bermain di film ini sangat baik.
Saya melihat biasanya genre horor identik dengan Shandy Aulia yang sudah menjadi ikonnya, tapi melihat Bella bermain genre ini rasa penasaran pun timbul begitu saja. Apalagi disandingkan dengan Surya Saputra yang menjadi suami di film produksi Firefly Cinema ini.
Beberapa adegan profesional pun dilakukan untuk menghidupkan suasana. Makanya tidak disarankan Anda membawa anak-anak dibawah usia 17 tahun karena film ini bercerita sepasang suami istri.
Chintya Bella benar-benar menjadi pembeda di film ini. Dan kita tidak tahu lagi kedepannya apakah ia akan tetap menerima film bergenre horor kembali mengingat ia sekarang sudah menggunakan hijab yang identik dengan drama asmara.
Bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Yang membuat rasa penasaran tentang film ini adalah penyelesaian cerita. Anda akan merasa membosankan di awal-awal cerita karena alur yang dibawa sangat pelan. Beberapa saat naik namun tidak besar kemudian datar kembali dengan waktu yang cukup lama.
Bagian akhir film ini menjadi bagian yang dinanti untuk membuat Anda tetap bertahan. Suasananya sudah dapat nih, bumbastis audio yang membuat sebagian penonton histeris ketakutan juga berhasil dan penampakan sesekali yang tidak sering pun membuat adrenalin naik turun.
Pada akhirnya, Chintya Bella yang berperan sebagai Kirana telah memiliki anak kandung. Seringnya mengalami keguguran menjadi masalah dalam keluarga ini selain mertua yang sering ikut campur. Lalu, bagaimana sosok perwujudan yang menunggu rumah yang memiliki sisi positif?
Kesimpulan
Film yang menarik dari segi kekuatan cerita dan akting para pemain. Lagi-lagi membawa latar rumah sebagai background utama film ini. Dan juga, ini merupakan kisah nyata yang terjadi di sekitar masyarakat kita.
Meski saya sudah menyebutkan kelebihan film Kakak, film ini juga memiliki kekurangan. Alur cerita yang banyak datarnya ini membuat rasa bosan sangat mengganggu. Entah karena ingin ceritanya dapat atau karena standar durasi film.
Selamat berakhir pekan dan tetap menonton film Indonesia! Cek jadwal film Indonesia yang tayang di bioskop Semarang DI SINI.
Selamat datang di bulan Oktober! Tidak terasa kita sudah memasuki kuartal terakhir di tahun 2026. Seperti bulan-bulan sebelumnya, Kota Semarang kembali menghadirkan beragam deretan kegiatan menarik yang siap mengisi agenda akhir pekan maupun hari kerja kamu. Kami tak menyangka meninggalkan September dengan banyak kejutan. Mulai dari daftar acara Semarang yang lebih banyak dari Agustus dan kejutan acara yang terus bertambah tanpa kami ketahui. Agenda Besar Utama Oktober 2026 Peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang Tanggal: 14 – 15 Oktober 2026 (Gladi & Puncak Acara) Lokasi: Kawasan Tugu Muda Semarang Deskripsi: Momen bersejarah tahunan Kota Semarang untuk mengenang jasa para pahlawan. Menampilkan drama teatrikal perjuangan kolosal, upacara khidmat, serta penutupan/pengalihan arus lalu lintas sementara di kawasan Tugu Muda. Kali ini, bulan baru, Semarang sudah diramaikan dengan pameran otomotif skala nasional, panggung fashion, gelaran musik komunitas, kumpul sepeda tua, hingga ...
Membahas Media sosial seolah tak ada habisnya. Mulai dari yang sekedar membuat happy maupun yang dibuat serius. Malah terkadang menemukan sesuatu yang tidak Anda duga-duga. Berikut ada 6 tools yang setidaknya dapat membantu memanage akun media sosial Anda lebih menyenangkan. Dikutip dari website jeffbullas.com, dengan judul 6 Amazing Social Media Productivity Tools, Anda kami giring untuk mendapatkan pengalaman baru ber-media sosial lebih mudah dan menyenangkan atau membantu aktivitas Anda lebih serius. 1. Buffer Tampilannya sederhana. Anda dapat login dengan akun media sosial yang Anda miliki. Setelah login, Anda diminta memasukkan email sebagai pelengkap data. Selain masih belum terlalu paham menggunakannya, sedikit kelebihan, alat ini hadir diberbagai site *ekstensi. Kalau masih penasaran, bisa lihat detailnya dibawah. 2. Glyder Saat mengklik halamannya, kami diarahkan sebuah tampilan yang menarik. Profesional sepertinya. Namun, ada hal yang memutuskan kami tidak meneruskannya....
Masih ingat dengan tulisan kami yang mengulas soal bonus Google AI Plus selama 6 bulan dari XL Axiata ? Promo itu didapat setelah kami membeli paket FlexMax 7GB 28 hari seharga 25 ribu rupiah pada bulan Juli kemarin. Nah, ada kejadian unik di bulan Oktober ini. Pas kami memutuskan untuk tidak mengaktifkan paket internet seluler XL, fitur Google AI Plus-nya malah ikut-ikutan nonaktif 😆 Kami tentu tak menduganya dan ini menjadi pengalaman menarik yang ingin kami bagikan di blog. Kan siapa tahu ada pembaca yang mengalami nasib serupa. Alasan kami tidak mengaktifkan paket internet apa pun dari XL Axiata kali ini sebenarnya sederhana: karena harga yang ditawarkan sering berubah-ubah. Sebelumnya, kami sempat mendapat harga yang pas di kantong. Namun, pada bulan berikutnya harga sudah berganti, dan bukannya konsisten, malah cenderung naik. Dari situlah, kami mencoba rehat sejenak dari langganan data. Tak disangka, ada "kejutan" kecil di balik keputusan kecil tersebut. Realita Ekosi...
Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...
Keramaian di lini masa media sosial seperti Threads dan X pada 27 Oktober kemarin menarik perhatian kami. Di antara deretan unggahan peringatan Hari Blogger Nasional , perbincangan tentang tiket bioskop seharga Rp25.000 bergulir begitu masif. Awalnya kami mengira ini sekadar aksi promo berkala dari penyedia layanan e-wallet atau aplikasi ticketing . Namun ketika mengetahui bahwa promo bertajuk Cinema Day ini diusung serentak oleh Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), kami menyadari ada strategi pemasaran menarik yang sedang dimainkan di industri hiburan layar lebar tanah air. Bukan Sekadar Diskon, Ini Soal "Aksi Kolektif" Selama ini, kita terbiasa melihat promo bioskop yang berjalan sendiri-sendiri. Cinepolis punya Tuesday Special , XXI bekerja sama dengan bank tertentu, atau CGV dengan membership card -nya. Strategi individual ini memang efektif menjaga loyalitas basis pengguna masing-masing, tetapi dampaknya terhadap kebiasaan pasar secara luas cenderung t...
Comments
Post a Comment