Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Kakak
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Ada yang berani tinggal di rumah sendirian dengan berbagai peristiwa yang tak masuk akal? Film dengan durasi 85 menit ini mengajak penontonnya bertegang ria. Film Kakak resmi tayang di bioskop tanah air tanggal 5 November 2015.
Animo penonton Semarang di awal film ini rilis masih seperti biasa, standar. Kurang dari 20 penonton di jam pertama seakan menggambarkan bagaimana wajah perfilman tanah air masih belum maksimal. Meskipun demikian, film ini setidaknya lebih baik dari film yang juga sama-sama tayang, film Misterius.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang kehidupan suami istri yang masih muda harus menghadapi kenyataan bahwa rumah yang mereka tempati ternyata ada penunggunya yang berwujud anak perempuan.
Jangan berpikir negatif dulu tentang film ini. Berikut beberapa hal menarik dari film Kakak yang perlu Anda ketahui sebelum pergi ke bioskop akhir pekan ini.
Hantu baik
Hal pertama yang ingin disampaikan lewat film ini adalah ini berbeda dengan film-film yang bergenre sama yaitu horor. Jarang-jarang sih melihat cerita yang ingin memberikan sisi lain soal perwujudan dengan hal positif. Film garapan Ivander Tedjasukmana ini menurut saya sukses melakukannya.
Melihat akting Laudya Chintya Bella tanpa kerudung
Meski harus diterpa isu yang kurang sedap, Laudya Chintya Bella yang setahun belakangan ini muncul di film layar lebar dengan kerudung, lewat film ini, Bella harus menerima kenyataan bahwa ia tidak berkerudung.
Banyak orang bertanya soal ini dan tanpa sadar menaikkan citra film ini yang ternyata film ini mengambil syuting sebelum Bella menggunakan hijab. Entah mengapa baru sekarang film ini keluar. Apa karena jadwal teratur film Indonesia yang tayang?
Totalitas para pemain
Bila Laudya Chintya Bella berhasil menarik minat penonton film karena isu yang tak sengaja tersebar sendiri, maka penonton juga harus melihat bagaimana totalitas Bella dan Surya Saputra bermain di film ini sangat baik.
Saya melihat biasanya genre horor identik dengan Shandy Aulia yang sudah menjadi ikonnya, tapi melihat Bella bermain genre ini rasa penasaran pun timbul begitu saja. Apalagi disandingkan dengan Surya Saputra yang menjadi suami di film produksi Firefly Cinema ini.
Beberapa adegan profesional pun dilakukan untuk menghidupkan suasana. Makanya tidak disarankan Anda membawa anak-anak dibawah usia 17 tahun karena film ini bercerita sepasang suami istri.
Chintya Bella benar-benar menjadi pembeda di film ini. Dan kita tidak tahu lagi kedepannya apakah ia akan tetap menerima film bergenre horor kembali mengingat ia sekarang sudah menggunakan hijab yang identik dengan drama asmara.
Bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Yang membuat rasa penasaran tentang film ini adalah penyelesaian cerita. Anda akan merasa membosankan di awal-awal cerita karena alur yang dibawa sangat pelan. Beberapa saat naik namun tidak besar kemudian datar kembali dengan waktu yang cukup lama.
Bagian akhir film ini menjadi bagian yang dinanti untuk membuat Anda tetap bertahan. Suasananya sudah dapat nih, bumbastis audio yang membuat sebagian penonton histeris ketakutan juga berhasil dan penampakan sesekali yang tidak sering pun membuat adrenalin naik turun.
Pada akhirnya, Chintya Bella yang berperan sebagai Kirana telah memiliki anak kandung. Seringnya mengalami keguguran menjadi masalah dalam keluarga ini selain mertua yang sering ikut campur. Lalu, bagaimana sosok perwujudan yang menunggu rumah yang memiliki sisi positif?
Kesimpulan
Film yang menarik dari segi kekuatan cerita dan akting para pemain. Lagi-lagi membawa latar rumah sebagai background utama film ini. Dan juga, ini merupakan kisah nyata yang terjadi di sekitar masyarakat kita.
Meski saya sudah menyebutkan kelebihan film Kakak, film ini juga memiliki kekurangan. Alur cerita yang banyak datarnya ini membuat rasa bosan sangat mengganggu. Entah karena ingin ceritanya dapat atau karena standar durasi film.
Selamat berakhir pekan dan tetap menonton film Indonesia! Cek jadwal film Indonesia yang tayang di bioskop Semarang DI SINI.
Sore itu, lini masa kami tak sengaja terpapar unggahan dari akun Instagram @kawisata tentang peluncuran Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026. Jujur saja, ini sebuah kejutan yang menyenangkan. Mengetahui gelaran malam peluncurannya dilaksanakan langsung di pelataran Lawang Sewu dengan gegap gempita, atmosfernya terasa begitu magis dan masif. Festival film pendek ini kembali menyapa setelah edisi pertamanya di tahun 2025 lalu sukses kami dokumentasikan di blog. Jika tahun lalu malam puncaknya berlokasi di Gedung Baru Ki Narto Sabdo, Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), tahun ini LOFF mengambil langkah berani dengan menempati ikon sejarah paling populer di Kota Atlas. Malam pembukaan yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026 kemarin pun tidak main-main. Agenda yang sebenarnya sudah masuk dalam radar kalender acara kami ini kembali dihadiri langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, serta turut dimeriahkan oleh kehadiran aktris nasional sekelas Nirina Zubir. Sebagai p...
Hari ini (12/6), kami mendadak terkejut melihat aktivitas Bitly yang tidak seperti biasanya. Karena penasaran, kami langsung memeriksa kotak masuk. Ternyata benar, ada pemberitahuan kabar terbaru yang datang ke email dotsemarang. Sepertinya kali ini kami harus pergi meninggalkan platform pemendek URL tersebut setelah bertahun-tahun setia menggunakannya. Ada yang mengalami hal serupa? Ini adalah nasib nyata yang harus diterima oleh para pengguna yang mengandalkan layanan gratisan. Tiba-tiba saja, platform mengubah kebijakannya secara sepihak. Sebuah langkah agresif yang tentu sangat berdampak bagi pengguna yang enggan atau belum siap beralih ke fitur berbayar. Bagi kami, sebagai blogger independen atau pembuat konten yang aktif membagikan tulisan di media sosial, Bitly sudah seperti menu sarapan harian. Platform dengan logo ikan ikonik ini selalu menjadi andalan utama untuk merapikan tautan panjang dari blog agar terlihat manis, ringkas, dan estetik saat disodorkan kepada pembaca. Namun...
Semarang tidak pernah kehabisan cerita tentang keberagaman. Di balik riuh rendah aktivitas kota bawah, kontur perbukitan Kota Atlas menyimpan sebuah pesona spiritual yang megah. Tempat ini bukan saja menjadi Pura terbesar di Kota Semarang, melainkan juga yang terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Berlokasi strategis di kawasan Jalan Sumbing, Pura Agung Giri Natha tidak hanya berdiri tegak sebagai pusat peribadatan suci, tetapi juga menjadi referensi kuat sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang ramah untuk dikunjungi masyarakat umum. Setelah sekian tahun berlalu, akhirnya kami kembali lagi melangkahkan kaki ke sini. Momentum kembalinya kami ke pura ini terasa pas karena bertepatan dengan adanya acara menarik dari rekan-rekan mahasiswa Universitas Semarang (USM). Melalui program studi kreatif mereka yang bertajuk 'Perjalanan Napak Tilas' , agenda tersebut sukses digelar pada hari Sabtu, 6 Juni 2026. Kunjungan kali ini sekaligus menjadi pengingat berharga akan memori masa lalu...
Piala Dunia 2026 tinggal hitungan jam saat kami menulis halaman ini. Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang berujung jadi konten. Gara-gara sedang berselancar di Instagram dan menemukan unggahan dari akun resmi TVRI Jawa Tengah yang membagikan daftar lokasi nonton bareng (nobar) resmi, kami langsung tergerak untuk membawanya ke blog. Lagi-lagi ini menjadi ide dadakan. Entah kenapa ingatan kami langsung terlempar pada bulan Februari kemarin, saat kami sedang bersepeda santai menuju Car Free Day (CFD) Simpang Lima. Waktu itu, kami sempat berpapasan dengan kampanye promosi berbau Piala Dunia 2026 . Aktor di balik layarnya ternyata masih sama: TVRI Jawa Tengah, sang pemegang hak siar resmi lewat program global mereka yang bertajuk "Bola Gembira" . Karena gelaran sepak bola terakbar ini hanya datang empat tahun sekali, kami pikir tidak ada salahnya ikut memeriahkan euforianya lewat coretan di blog. Apalagi aturan hak siar dan izin nobar sekarang semakin ketat. Membagikan tempat...
Rasanya sudah biasa (normal), mal-mal sekarang hanya melayani pembayaran parkir kendaraan tanpa uang fisik. The Park Mall Semarang pun menerapkan hal yang sama. Namun meski begitu, pengguna kendaraan roda dua memiliki alternatif lain. Mari bicarakan itu nanti, fokus di pembayaran non tunai untuk kendaraan roda dua. Bagaimana dengan roda 4? Ya, sama saja. Pokoknya masuk ke bangunan parkir di The Park Mall, harus pakai pembayaran non tunai. Siapkan kartu pembayaran non-tunai Parkir di The Park Mall Semarang hanya melayani 2 kartu pembayaran non tunai, seperti Flazz BCA dan e-money. Oh, bukan 2 ternyata . Kartu Brizzi dari BRI juga bisa, termasuk Tap Cash dari BNI. Jadi, ada 4 kartu yang dapat dilayanin di sini. Karena pengalaman kami lebih untuk kendaraan roda dua, maka gambar yang kami tampilin di sini adalah suasana parkir roda dua. Yang belum tahu atau baru pertama kali ke The Park Mall menggunakan sepeda motor, parkirnya masuk sisi kiri. Cari saja arah masuk kendaraan masuk. Te...
Comments
Post a Comment