📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026
Alasan kuat mengapa kami setiap tahun selalu menyempatkan diri berbuka puasa di Masjid Layur (Masjid Menara) adalah ritual Kopi Arab-nya yang melegenda. Sensasi ikonik ini setara dengan bubur India di Masjid Pekojan; sebuah tradisi yang seolah menjadi menu wajib saat Ramadan di Semarang.
Selain cita rasanya, suasana di dalam masjid ini memang selalu membuat candu. Rasa lelah mengayuh sepeda dari kediaman kami yang lumayan jauh seketika luruh begitu ban sepeda menyentuh area parkir masjid di kawasan Kampung Melayu ini.
Selasa sore (24/2/2026), kami memilih waktu yang agak santai. Beruntung bukan Senin atau Kamis yang biasanya jadwal kami bertabrakan dengan hobi main bola di lapangan mini soccer. Sore itu, Kampung Melayu kembali membuktikan dirinya sebagai destinasi wisata religi yang kuat, terutama dengan sejarah masjidnya yang kini telah genap berusia 224 tahun.
Bagi yang rutin mengikuti postingan kami, mungkin tidak ada yang terlalu "spesial" dari segi fisik bangunan selain statusnya sebagai Cagar Budaya. Namun, kesederhanaan itulah letak kekuatannya. Ubin lantai dengan garis hitam ikonik, jendela kayu berwarna hijau tosca, hingga rak buku tua di sudut ruangan menyatu menciptakan kehangatan lintas generasi yang tidak kami temukan di masjid megah lainnya.
Sambil mendengarkan ceramah menjelang bedug, kesibukan pihak masjid menyiapkan hidangan mulai terlihat. Meski secara ukuran bangunan Masjid Layur lebih kecil dibandingkan masjid besar lainnya di Semarang, urusan menu buka puasa di sini ternyata jauh lebih beragam dan tertata.
Tentu saja, Kopi Arab menjadi primadona yang paling dinanti. Sore itu, kopi rempah yang pekat disajikan dalam cangkir-cangkir kuning yang fungsional. Tak hanya itu, di depan kami sudah tersaji piring hijau berisi takjil tradisional: sepotong kue putu ayu, arem-arem, dan dua butir kurma.
Menariknya, nasi kotak yang disediakan menggunakan wadah transparan dengan stiker "Al Amin Musa'adah". Ada pesan sosial yang kuat di sana—sebuah gerakan berbagi untuk janda, yatim, dan dhuafa—yang membuat santap buka puasa kali ini terasa jauh lebih bermakna. Sebagai penggemar berat Kopi Arab-nya, kami beruntung persediaan masih mencukupi sehingga kami sempat menambah hingga dua kali tuang.
Ada satu hal yang membuat kami tertegun kali ini. Kami baru benar-benar menyadari bahwa Masjid Layur ini sejatinya adalah bangunan berlantai dua. Namun, akibat kepungan rob yang parah di wilayah Semarang Utara selama puluhan tahun, lantai satunya terpaksa ditimbun tanah (diurug).
Artinya, area yang selama ini kami gunakan untuk shalat dan berbuka puasa di atas ubin putih yang bersih ini sebenarnya adalah lantai dua aslinya. Fakta ini menjadi pengingat betapa tangguhnya bangunan ini bertahan melawan waktu dan alam. Ke mana saja kami selama ini sampai baru menyadari detail sejarah tersebut?
Kami berharap Ramadan tahun depan masih diberi kesempatan untuk kembali ke sini. Bagi jamaah perempuan yang mungkin ragu karena jarang terlihat di bangunan utama, tetap bisa ikut bergabung kok. Pihak pengelola menyediakan ruang tersendiri bagi jamaah perempuan meskipun posisinya tidak berada di dalam bangunan inti masjid.
Mari mampir ke Masjid Layur jika ada kesempatan. Menikmati sejarah dalam tiap sesapan kopi adalah cara terbaik merayakan Ramadan di Kota Atlas.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment