Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Semarang Night Carnival 2017
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Semarang Night Carnival 2017 atau SNC memang berjalan sukses, terutama di panggung utama dimana dihadiri pejabat pemerintah, tamu undangan dan masyarakat. Kami tentu sangat senang dan bangga dengan event yang tahun ini sudah berjalan ketujuh kalinya. Apalagi, SNC masuk daftar agenda Nasional.
Bagaimana kabar malam minggu kalian pada tanggal 6 Mei 2017? Kami sendiri sedang berada di atas jembatan, BCA Pemuda, yang sedang menyaksikan Semarang Night Carnival 2017. Lautan manusia mengurai jalanan yang akan dilalui parade kostum. Luar biasa antusiasnya.
Meski begitu, kami harus menunggu beberapa jam parade ini melintas. Sabar adalah kunci di sini, sambil melirik kendaraaan yang terus melintas tanpa merasa bersalah, sehingga jalanan menjadi macet dan tidak enak dilihat.
Alasan kami mengambil dari jembatan karna ingin melihat sesuatu yang berbeda. Lokasi titik utama di nol kilometer, keberangkatan, sudah banyak bloger dan awak media yang meliput. Kami memang punya id card, tapi tetap saja ini kurang menarik.
Tema Semarang Night Carnival 2017
Tahun ini, SNC 2017 mengusung tema 'Paras Semarang' yang identik dengan Semarangan. Ada 4 penampilan kostum yang dipertunjukkan seperti Defile burung Blekok yang diambil dari burung sejenis bangau yang biasa ditemui di Semarang bagian atas. Lalu, defile kembang sepatu yang diambil dari bunga khas Semarang berwarna merah, defile kuliner yang menampilkan makanan khas Semarang seperti Lunpia, Wingko Babat, Gandjel Rel dan sebagai. Terakhir, defile lampion yang diambil dari khas Semarang sekitar tahun 1942 bernama dian kurung.
Selain parade kostum, karnival juga dimeriahkan marching band dari Taruna Akmil Lokananta Magelang, tamu dari luar kota hingga dari mancanegara yang turut ambil bagian dengan menampilkan budaya mereka juga. Dari luar kota, ada Sawahlunto yang menampilkan kostum dengan bentuk bunga matahari. Lalu ada juga dari Jember, Jepara, dan Kendal.
Sedangkan yang dari luar negeri ada Taiwan yang menampilkan atraksi tarian dan Liong, Thailand dengan tarian, Korea Selatan dengan aksi menabuh genderang dan Sri Lanka juga dengan tarian. Oh ya, masih ada Vietnam yang ikut ambil bagian juga.
Antusias yang tinggi dari masyarakat
Gambar di bawah ini sudah sangat berbicara bagaimana masyarakat Semarang begitu antusias menyaksikan SNC 2017. Apalagi pada malam hari, SNC sudah menjadi kebanggaan buat semua orang, termasuk kami.
Di tengah masyarakat yang mengerubuni jalur yang dilintasi parade, kami yakin para kontestan sangat bangga dengan malam yang terjadi pada mereka. Mereka pasti melupakan sejenak bagaimana beratnya kostum yang digunakan, molornya waktu pelaksanaan, masalah-masalah kecil yang mempengaruhi perform mereka dan sebagainya.
Apalagi malam ini tidak seperti malam-malam tahun sebelumnya yang identik dengan hujan yang menyelimuti acara. Sepertinya tahun ini, SNC yang dimulai pukul 8 malam direstui banget untuk lebih sukses dari tahun sebelumnya.
Koreksi event buat selanjutnya
Kami tidak bermaksud untuk meruntuhkan suka cita kalian yang begitu bangga dan menyenangkan melihat SNC ini. Apalagi mesin pencari yang sangat ramah dengan keberhasilan gelaran tiap tahun yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Semarang.
Tidak ada yang sempurna, kutipan yang sering kami baca untuk menggambarkan event ini dari sudut pandang kami yang sedang berada di atas peserta karnival dan masyarakat (jembatan).
Bila di titik nol Kilometer jalannya acara berjalan sukses, namun tidak demikian koreksi kami di sini. Sebaiknya jalur yang akan dilewati peserta harus benar-benar steril dari kendaraan. Terutama jalur jalan Pemuda di mana kami berada seperti gambar di bawah.
Meski ada panitia berjaga, lalu lintas yang memang dibuka karna peserta karnival belum melewati akhirnya membuat jalanan semakin kurang sedap dilihat saat parade sampai di jalur yang kami lihat.
Tahun depan, ini bisa jadi masukan yang sangat baik untuk terus menyempurnakan Semarang Night Carnival 2018 dan memasuki tahun ke 8. Karna bila jalur bebas dari kendaraan, bukan saja nyaman buat masyarakat yang melihat tapi juga buat jalur peserta yang membuat mereka lebih nyaman saat melintas.
...
Semarang Night Carnival tahun ini mengambil rute dari Titik Nol Kilometer Semarang sampai ke Lawang Sewu dengan jarak sekitar 1,3 Kilometer. Di Twitter sendiri, SNC menjadi trending untuk Indonesia.
Untuk jumlah peserta, SNC tahun ini diikuti 400 peserta plus dari undangan dari dalam maupun luar negeri. Sayangnya kami tidak mengikuti hingga pengumuman kostum terbaik Semarang Night Carnival 2017 ini berakhir.
Meski ada koreksi tentang rute yang dilewati kurang sedap dipandang mata, Semarang Night Carnival tetap saja membius ribuan masyarakat yang menyaksikan. Dan menurut Wali Kota Semarang, SNC sudah masuk dalam agenda Wisata Nasional atau Indonesia.
Kamu yang ingin melihat lebih banyak foto dokumentasi Semarang Night Carnival 2017 kami yang diambil dari jembatan, bisa mengunjungi halaman Photoblog yang sudah kami posting duluan di sini.
Selamat Hari Media Sosial, warga Semarang! Tidak terasa, setiap tanggal 10 Juni kita kembali diingatkan bagaimana platform digital telah mengubah cara kita menjalani hidup sehari-hari. Bagi kita yang menetap dan tumbuh di Kota Semarang, media sosial bukan lagi sekadar ruang pamer foto estetik, melainkan penggerak utama dari langkah kaki kita di sudut-sudut Kota Atlas. Mengingat momen ini, kami mendadak teringat dengan tulisan kami tepat setahun yang lalu ( Hari Media Sosial 2025: Mal Semarang Jago Main IG ). Saat itu, kami memberikan apresiasi tinggi kepada tim kreatif dan admin mal di Semarang yang makin jempolan mengelola Instagram. Mereka sukses mengubah akun mal menjadi pusat agenda kota yang interaktif, estetik, dan sangat fast response . Kami bahkan menyarankan pentingnya dorongan konten dan strategi digital untuk meramaikan tempat yang sepi. Setahun berselang, di bulan Juni 2026, lanskapnya ternyata sudah melompat jauh lebih ekstrem. Bukan lagi sekadar jago membuat konten agenda...
Piala Dunia 2026 tinggal hitungan jam saat kami menulis halaman ini. Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang berujung jadi konten. Gara-gara sedang berselancar di Instagram dan menemukan unggahan dari akun resmi TVRI Jawa Tengah yang membagikan daftar lokasi nonton bareng (nobar) resmi, kami langsung tergerak untuk membawanya ke blog. Lagi-lagi ini menjadi ide dadakan. Entah kenapa ingatan kami langsung terlempar pada bulan Februari kemarin, saat kami sedang bersepeda santai menuju Car Free Day (CFD) Simpang Lima. Waktu itu, kami sempat berpapasan dengan kampanye promosi berbau Piala Dunia 2026 . Aktor di balik layarnya ternyata masih sama: TVRI Jawa Tengah, sang pemegang hak siar resmi lewat program global mereka yang bertajuk "Bola Gembira" . Karena gelaran sepak bola terakbar ini hanya datang empat tahun sekali, kami pikir tidak ada salahnya ikut memeriahkan euforianya lewat coretan di blog. Apalagi aturan hak siar dan izin nobar sekarang semakin ketat. Membagikan tempat...
Setiap kali melintas dan memotret megahnya bangunan SMC RS Telogorejo Semarang dari luar, terselip tanya dalam hati: kapan ya ada kesempatan untuk menengok bagian dalamnya? Maklum, jika tidak ada kepentingan medis yang mendesak, tentu rasanya canggung untuk sekadar berkunjung. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebuah momentum menarik datang bersamaan dengan digelarnya sebuah acara yang materinya sangat bersinggungan dengan aktivitas olahraga yang rutin kami geluti. Semesta seakan merestui rasa penasaran kami. Pihak rumah sakit menggelar hajatan besar bertajuk The Spark of Healthy Life: 3 in 1 Mega Seminar & Talkshow 2026 . Begitu pendaftaran dibuka melalui akun Instagram resmi @rs.telogorejo, kami langsung mendaftarkan diri. Beruntung, nama kami lolos kurasi untuk hadir pada hari kedua, Jumat, 22 Mei 2026, yang bertempat di Auditorium Lantai 3 Gedung Cattleya. Namun, tantangan langsung menghadang tepat di hari H. Hujan deras mendadak mengguyur Kota Semarang, memaksa kami untuk menerjang...
Pertengahan tahun di Kota Semarang rasanya belum lengkap kalau belum membahas kompleks PRPP Jawa Tengah di kawasan Anjasmoro. Ya, gelaran pesta rakyat terbesar di Jawa Tengah, Jateng Fair 2026, sudah resmi masuk dalam radar agenda kota bulan ini. Bagi kamu yang sudah mulai mencari tahu kapan event ini dimulai, catat tanggalnya: Jateng Fair 2026 akan berlangsung selama 10 hari, mulai dari tanggal 26 Juni hingga 5 Juli 2026. Format durasi yang lebih padat ini tampaknya kembali dipertahankan oleh pihak penyelenggara, PT PRPP Jawa Tengah. Sama seperti tahun lalu, kebijakan tiket masuk gratis juga kembali diterapkan untuk menarik antusiasme masyarakat secara massal ke area pameran . Namun, perlu dicatat ya! Gratis di sini hanya berlaku untuk memasuki area kompleks pameran dan stan Jateng Fair saja. Bagi kamu yang mengincar keseruan panggung hiburan musiknya, tetap diwajibkan mengantongi tiket masuk berbayar. Dengan target yang dipatok hingga 300 ribu pengunjung, apakah Jateng Fair t...
Setelah euforia hari pertama soft opening berlalu, kami penasaran untuk menjajal nekat bersepeda menuju kawasan POJ City. Tujuannya apalagi kalau bukan melihat langsung mal yang digadang-gadang terbesar di Jawa Tengah, Mal 23 Semarang . Tantangannya tentu lebih seru kali ini karena kami datang dengan cara gowes. Siapa sangka pada Minggu pagi, 24 Mei 2026, kami benar-benar melakukannya. Meski ini bukan kali pertama kami bersepeda ke arah pesisir, tetap saja semangat dan antusiasmenya terasa berbeda karena ada magnet baru di sana. Jika biasanya rute Minggu pagi dihabiskan ke CFD Simpang Lima, kali ini kemudi sepeda kami arahkan menuju kawasan Marina. Jaraknya dari pusat kota sendiri berkisar sekitar 8,7 km. Di media sosial, pembicaraan tentang 23 Semarang Shopping Center memang luar biasa masif. Tidak heran begitu kami tiba di lokasi, suasananya persis seperti yang dibayangkan: ramai dan penuh antusiasme. Beberapa waktu belakangan, tren FOMO (Fear of Missing Out) di Kota Semarang memang...
Comments
Post a Comment