Memasuki bulan Agustus, atmosfer di sudut-sudut Kota Semarang mulai terasa berbeda. Kibaran bendera merah putih, umbul-umbul yang mulai menghiasi jalanan protokol, hingga gapura kampung yang bersolek cantik menandai dimulainya bulan kemerdekaan. Semarak Agustus selalu menjadi daya pikat tersendiri yang dinanti setiap tahunnya. Sebagai blog yang terus memantau pergerakan aktivitas lokal, kami pun tidak sabar membagikan daftar acara menarik apa saja yang bakal memeriahkan kota sepanjang bulan ini. Salah satu magnet utama yang paling ditunggu-tunggu adalah perayaan tahunan kirab budaya yang berpusat di Sam Poo Kong. Event akulturasi budaya berskala besar tersebut dipastikan akan menjadi daya tarik utama, baik bagi warga lokal maupun wisatawan yang sedang berkunjung ke Kota Atlas. Bagi yang sedang menyusun rencana akhir pekan atau mencari hiburan di sela-sela aktivitas harian, berikut adalah kalender agenda, acara, festival kuliner, dan kegiatan komunitas di Kota Semarang sepanjang bulan ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Andai Konsep Pameran Komputer dan Gadget di Semarang Seperti IFA 2015
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Gambar : Google
Saya sedang membaca tabloid Sinyal edisi 233/XI yang terbit tanggal 25 Sept - 8 Oktober tentang perhelatan acara IFA 2015 yang berlangsung di Messe Berlin (4-9 September). Banyak ide menarik yang dapat dapat menambah referensi dan sayang dibuang begitu saja.
Mungkin bila tidak membaca kolom dari mas Andra Nuryadi, editor In Chief, tersebut saya tidak tahu tentang IFA atau Internationale Funkausstellung Berlin. IFa sendiri merupakan acara pameran teknologi terkini yang sangat populer.
Acara dilaksanakan di gedung Messe Berlin, bentuknya kubik namun melingkar dengan beberapa lantai. Ditengahnya ada taman sangat luas dihias rumput dan pepohonan, namanya Sommergarden. Bisa dibayangkan bukan semenarik apa tempat ini. Tapi lupakan, saya tertarik dengan konsepnya saja.
Masuk bayar
Saya baru tahu acara pameran komputer maupun gadget di Jogja ada yang berbayar bila ingin masuk. Sama seperti IFA yang juga menerapkan tiket masuk dari jam 10 pagi hingga jam 6 sore. Harga tiketnya tahu berapa?? Dari 17 euro (Rp. 278 ribu) hingga 8 euro (Rp. 131 ribu). Termahal sampai 1/2 juta untuk satu keluarga. Nyesek dengarnya kalau ini diberlakukan di Semarang.
Harga segini dapat dimaklumi mengingat IFa sendiri merupakan acara Internasional dan merupakan ajang pameran terbesar dan tertua di kawasan Eropa. Tahun ini saja diikuti sekitar 1.500 peserta yang berasal dari 50 negara. Wuih!
Konsep yang boleh dicoba
Nama-nama perusahaan besar tidak diragukan lagi untuk tampil di sini. Pengunjung selain dapat melihat pameran juga dapat bertransaksi langsung. Selain jadi ajang pameran produk terkini yang membuat masyarakat rela hadir adalah konsep yang dipadukan dengan festival.
Ya, yang saya tahu festival identik dengan musik dan stan-stand kuliner maupun sponsor. Mereka menerapkan hal ini di sana. Untuk menambah pemanis, ada juga artis lokal yang digandeng. Ini mengingatkan saya tentang acara Jateng Fair sepertinya.
Tidak ketinggalan pula kehadiran komunitas yang meramaikan suasana. IFA 2015 turut menghadirkan perform seperti atraksi BMX, basket dengan DJ perform dan masih banyak lagi.
Mengutip kolom halaman 42 tabloid Sinyal, bagi pejabat pemerintah dan warga Berlin, IFA adalah maskot pameran sekaligus magnet yang menarik ratusan ribu pengunjung untuk menikmati Berlin sebagai kota wisata.
Efeknya multi. Perusahaan rental mobil, show, lighting, konstruktor stage, catering, dan banyak lagi mengais rejeki di IFA. Menurut mas Andar, mengemas pameran seperti ini harus diawali dengan konsep kuat. IFA menetapkan Consumer Electronic sebagai objek.
Ada puluhan segmen yang mereka kemas dalam area-area berbeda. Tidak dapat dikotomi antara pebisnis dan rakyat biasa. Toh, ini bukan BtoB, tapi juga BtoC Exhibition. Tetapi tak dikemas asal-asalan dan melulu penjualan produk. Ada berbagai info teknologi, sekaligus bisa dicoba karena ada demo. Intip videonya yang saya temukan di Youtube.
Kesimpulan
Memang sudah dari sono-nya, IFA sudah menarik perhatian dan menghadirkan ratusan ribu pengunjung. Ini tidak mungkin dilakukan. Tapi menurut saya ini menarik dicoba.
Hanya tinggal mematengkan konsep dan mulai melihat berbagai potensi yang dapat dikembangkan semisal ingin dilakukan di Semarang atau kota lainnya. Kebiasaan pameran selalu identik dengan mall (karena di sana banyak masyarakat yang datang), mengapa tidak dilakukan di tempat lain. Toh, bila gagal ini merupakan awal.
Enak ya, kalau cuma ngomong. Hehe..
Saya cuma berharap saja pameran komputer dan gadget memiliki agenda setahun sekali di kota Semarang yang sangat besar. Tentu didukung pemerintah kota bila melihat efek IFA terhadap perkembangan wisata (baca kunjungan).
Konsepnya seperti festival dimana di dalamnya banyak konten-konten yang menarik seperti stand kuliner, musik artis, komunitas perform, dan tentu harus bayar. Tapi bukan Jateng Fair lho, tapi khusus pameran komputer dan Gadget saja. Hehe.. Hanya sebuah gagasan sederhana untuk dicoba bila ingin terlihat nyata. Namanya juga belajar dari yang sudah ada.
Menurut cnnindonesia.com (4/9/2015), IFA adalah salah satu ajang pameran terbesar dan tertua di kawasan Eropa. Pertama kali perhelatan ini digelar pada 1924 dengan nama International Radio Exhibition Berlin alias Berlin Radio Show, dan saat itu bukan pameran rutin seperti sekarang.
**Andai tahun depan bisa datang ke acara IFA 2016 :)
Bagi sebagian besar pengamat dunia maya atau pegiat media lokal, musim pameran otomotif skala nasional di daerah selalu membawa euforia tersendiri. Deretan mobil listrik terbaru, panggung megah, hingga gemerlap peluncuran produk baru seolah menjadi magnet tahunan. Namun, di balik kemegahan pameran yang dihelat di gedung-gedung megah seperti Muladi Dome, ada realitas lain yang sering luput dari pandangan: benturan antara birokrasi korporat dengan napas ekosistem kreator independen. Baru-baru ini, email masuk membawa pengingat tahunan itu—pendaftaran ID Media GIIAS Semarang 2026 telah dibuka. Dan seperti dugaan, persyaratannya tetap berdiri kokoh sebagai tembok pemisah yang tidak ramah bagi penulis blog mandiri. Tembok Birokrasi Bernama "Susunan Redaksi" Membaca kembali lembar persyaratan registrasinya terasa seperti deja vu dari tahun-tahun sebelumnya. Ketika sebuah ajang pameran otomotif nasional mensyaratkan pelampiran masthead atau susunan redaksi formal, otomatis format ...
Di tengah era banjir informasi seperti sekarang, kampanye melawan hoaks murni mungkin sudah sering kita dengar . Namun, belakangan muncul bentuk penyesatan informasi yang jauh lebih halus dan berbahaya: misleading content (konten menyesatkan). Jika hoaks murni umumnya berisi 100% berita bohong atau fabrikasi tanpa dasar, misleading content justru berdiri di area abu-abu . Ia hadir dengan formula 50% fakta asli + 50% manipulasi framing . Karena membawa potongan fakta atau kenyataan di awalnya, pagar kewaspadaan publik lebih mudah jebol dan menganggap narasi tersebut sebagai kebenaran utuh. Mengapa Misleading Content Sangat Efektif Menjebak? Ada alasan mengapa konten menyesatkan menyebar sangat cepat di media sosial . Penyebarannya memanfaatkan tiga kombinasi utama: Algoritma Platform + Reaksi Emosional + Kecenderungan Psikologis 1. Algoritma Pengincar Engagement : Platform media sosial dirancang untuk memprioritaskan konten yang memicu interaksi tinggi tanpa mempedulikan akurasi rea...
Kami tidak menyangka bisa masuk ke dalam tempatnya juga setelah bulan April lalu hanya bisa mendokumentasikan bagian luarnya lewat tulisan di blog. Seperti apa pengalaman kami di PlayFix dan iFixied Semarang ini? Rasa penasaran tersebut akhirnya terjawab saat berkunjung langsung ke dalam untuk memperbaiki perangkat seperti tablet Samsung dan iPhone 5S di bulan Juli kemarin. Pengalaman langsung ini memberikan gambaran utuh mengenai kualitas layanan yang ditawarkan. Suasana Ruang Tunggu dan Alur Layanan Begitu melangkah melewati pintu kaca, interior yang disuguhkan jauh dari kesan sumpek seperti tempat servis konvensional. Ruangan didominasi warna hitam dan putih minimalis dengan hiasan dinding bertema sirkuit elektronik. Sistem antrean menggunakan nomor tiket fisik yang terintegrasi dengan layar monitor informasi, didukung kursi tunggu panjang yang empuk. Suasana tersebut terasa mirip dengan ruang tunggu diler mobil resmi atau perusahaan operator telekomunikasi. Catatan Kejujuran Serv...
Sebagai pengguna Chromebook , kami sedikit kaget saat membaca kabar di salah satu media online baru-baru ini. Narasi yang diangkat seolah memberi sinyal bahwa nasib Chromebook bakal segera berakhir setelah Google mengumumkan perangkat baru bernama Googlebook. Bikin penasaran, sebenarnya apa sih yang sedang disiapkan Google? Seliweran artikel bertebaran dengan judul dramatis yang mengesankan "kematian" Chromebook sudah di depan mata. Namun, apakah Chromebook memang benar-benar langsung disuntik mati dan digantikan total oleh Googlebook? Ini kali pertama kami mengulas topik seputar Googlebook di blog. Kalau dibedah lebih tenang tanpa keriuhan judul yang sekadar mengejar clicks , fakta di baliknya justru jauh lebih menarik dari sekadar drama pergantian nama. Bukan Menggantikan, Tapi Evolusi Ekosistem Googlebook jelas bukan sekadar rumor kosong, melainkan langkah strategis Google dalam merombak fondasi sistem operasi laptop mereka. Selama ini, Chromebook berjalan di atas ChromeOS...
Momen 17 Agustus 2026 kemarin menjadi kesempatan bagi kami untuk kembali menginjakkan kaki di lapangan sepak bola Kick Off POJ Semarang. Setelah ulasan pertama kami publikasikan pada April 2025 lalu, pengalaman kali ini menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari biasanya: menjajal lapangan full size ini pada malam hari. Sebenarnya, kami sudah berniat berangkat naik sepeda dari kawasan Gajah Raya menuju POJ. Rute yang lumayan jauh itu ingin kami manfaatkan untuk berburu dokumentasi perjalanan malam, termasuk mengabadikan suasana di depan Mal 23 Semarang. Namun, rencana gowes tersebut batal karena ada rekan senior yang mengajak berangkat bareng naik mobil. Karena tidak enak menolak ajakannya, kami memutuskan mengalah. Sisi positifnya, fisik kami jadi lebih hemat energi sebelum bertanding di lapangan besar. Penerangan Maksimal dan Visual Malam yang Lega Sesampainya di lokasi, lampu penerangan lapangan langsung mencuri perhatian. Cahaya lampu sorotnya sangat terang dan merata di setiap ...
Comments
Post a Comment