Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Winter in Tokyo
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film berdurasi 103 menit ini rilis tanggal 11 Agustus 2016. Dibintangi Dion Wiyoko, Morgan, Pamela Bowie dan Kimberly Rider berikut review filmnya.
Minggu kedua bulan Agustus, sebenarnya ada 3 film Indonesia yang tayang di Indonesia. Tapi hanya 1 film yang tayang di bioskop Semarang dan film ini yang sedang Anda baca sekarang.
Cerita menarik
Diangkat dari sebuah novel, cerita film yang disutradarai Fajar Bustomi ini sangat menarik. Terutama buat remaja. Tayang perdana kemarin, film ini mendapat antusias cukup baik untuk jumlah penonton di jam pertama.
Mengambil setting kota Tokyo - Jepang, Pamela yang berperan sebagai Keiko bertemu dengan pria baru yang pindah ke apartemennya. Ya, pria itu adalah Dion yang berperan sebagai Nishimura Kazuto. Keduanya menjadi inti cerita dari film ini.
Sepanjang cerita, keduanya terlibat kisah asmara yang malu-malu tapi pura-pura mau. Dimasukkannya Morgan sebagai Akira, sahabat dari Dion dan cinta pertama Keiko, alur ceritanya mulai berubah. Saya pikir mereka akan terlibat cinta segitiga.
Bakalan mudah ketebak nih benang merahnya. Saya malah membayangkan film ini adalah film drama Jepang versi Indonesia. Para pemain sangat fasih menggunakan bahasa Jepang, plus dibalut suasana pemandangan kota Tokyo yang indah-indah. Termasuk ramainya masyarakat di sana.
Tapi tebakan saya meleset. Cinta segitiga yang saya anggap akan terjadi konflik malah berbeda dengan alur cerita. Malah jadi kisah cinta berempat. Hadirnya Kimberly membuat suasana lebih sedikit panas. Plus hilangnya ingatan Kazuto setelah dipukuli beberapa orang.
Pamela yang ceria, manja dan gemesin berubah menjadi wanita tegar dan membiarkan semua terjadi begitu saja. Untunglah tidak begitu banyak mendramatisir cerita.
Karakter pemain
Sebelum film ini, saya sangat suka dengan akting Morgan di film Jilbab Traveler. Ada karakter di sana, plus wajah ganteng. Sayang di sini malah tidak begitu terlihat, Morgan yang menjadi dokter dan pria baik seakan menjadi bintang tamu saja.
Paling kuat karakternya di film ini malah Pamela yang punya wajah khas Jepang sekali. Wanita periang, tapi takut akan gelap. Malu-malu tapi berani mengungkapkan sesuatu. Terlihat manja tapi tidak lebay. Saya suka sekali.
Untuk karakter Kazuto, saya melihatnya adalah karakter cool, cuek dan sedikit romantis dengan agak nekat. Dion yang memainkannya buat saya agak kurang untuk aktingnya. Entah mengapa saya berpikir demikian, andai bisa memilih, saya malah inginnya Reza. Mungkin karena yang dicari wajah oriental, memang pilihannya Dion yang terbaik.
Yang lain, seperti Morgan, Brigytha Cynthia, Brandon Salim dan Kimberly Rider sudah cukup melengkapi cerita. Brandon ternyata main satu film bareng ayahnya, Ferry Salim. Semua karakter benar-benar seperti pemain Jepang.
Gambar yang kurang
Beberapa review film Indonesia yang kofindo review sepertinya masalah gambar tidak akan bermasalah. Karena saya yakin, gambar merupakan element penting dan semua sudah belajar dari masa lalu.
Sayangnya tidak demikian di film yang diproduksi Unlimited Production, Maxima Pictures, ada beberapa bagian yang kurang baik atau terdapat noise. Disayangkan sekali, padahal saya suka ceritanya.
Terlepas dari kekurangan tersebut, menonton film ini membuat kesenangan sendiri. Terutama Suasana yang dibangun.
...
Film yang diangkat dari buku memang memiliki basis penonton sendiri. Jadi tak heran saat mengetahui jumlah penontonnya lebih banyak ketimbang film Bangkit di hari pertama tayang dan jam pertama.
Ceritanya ringan dan sederhana, dibalut dengan keindahan suasana Jepang membuat saya sangat menikmati. Anggap saja nonton film drama Jepang ala Indonesia dengan teks dibagian bawahnya, karena para pemain sering banget menggunakan bahasa Jepang.
Ada yang bertanya mengapa judulnya Winter in Tokyo (bukan artinya)? Kalau melihat secara keseluruhan filmnya, kenangan saat menunggu seseorang diwaktu hujan sepertinya itu intinya. Suka, jatuh cinta, penasaran, dan patah hati.
Fenomena ini sejatinya adalah strategi influencer marketing lapis kedua yang digerakkan oleh agensi. Alih-alih menggelontorkan anggaran besar hanya untuk segelintir mega-influencer , mereka memilih menebar jala ke banyak akun kreator melalui sistem crowdsourcing . Syaratnya pun bervariasi, biasanya menyasar akun-akun dengan minimal followers di angka tertentu, misalnya 1.000 pengikut. Dengan mengerahkan puluhan hingga ratusan kreator secara serentak beberapa hari sebelum film rilis, terciptalah ilusi masif bahwa film tersebut sedang menjadi pusat perbincangan. Dari sudut pandang pemasaran, model ini memang sangat efektif mendongkrak awareness dalam waktu singkat. Begitu kami mencoba masuk ke dalamnya, kami biasanya ditarik ke dalam grup koordinasi—yang belakangan kami sadari isinya bukan cuma soal film, tapi juga berbagai penawaran kampanye lain dengan pola serupa. Dari pengalaman pribadi kemarin, perjalanannya ternyata cukup menguras energi hingga akhirnya kami memilih mundur karen...
Niat awalnya sebenarnya cuma mau mengecek info operasional terkait penutupan sementara area Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang pertengahan Juli kemarin. Tapi saat tiba di lokasi, perhatian kami justru teralih pada hal lain yang selama ini terlewatkan: keberadaan akses Wi-Fi gratis milik Pemkot Semarang. Minggu pagi (19/7), usai melipir sejenak menikmati suasana Car Free Day (CFD) di Simpang Lima, setang sepeda langsung kami arahkan menuju kawasan GOR Tri Lomba Juang. Begitu sampai dan merogoh gawai untuk memastikan kabar penutupan kawasan tersebut, kami baru menyadari smartphone sudah otomatis terhubung ke jaringan internet nirkabel. Jaringannya tampaknya terintegrasi dengan akses Wi-Fi publik di Simpang Lima, sehingga gawai yang pernah terkoneksi akan langsung masuk tanpa perlu repot melakukan login ulang. Spot Duduk yang Nyaman dan Teduh Sambil bersiap mengetes kualitas koneksinya, kami mengamati suasana sekitar selasar. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik duduk santai...
Sebagai pengelola blog yang porsinya lebih sering berkelana menyoroti dinamika ruang kota ketimbang mendalami isi piring, urusan kuliner terkadang jadi ranah yang penuh kejutan bagi kami. Seperti Nasi Glewo yang sempat kami ulas sebelumnya, perkenalan kami dengan Petis Kangkung juga berawal dari lini masa media sosial beberapa bulan lalu. Rasa penasaran itu akhirnya membimbing kami secara tidak sengaja ke sebuah kios kecil di Jalan Jolotundo: Warung Pecel & Gudangan Bu Joko . Siapa sangka, di balik kesederhanaan warungnya, tersimpan salah satu kuliner legendaris khas Semarang yang masih eksis merawat lidah warganya. Kejutan Rasa dan Sensasi Pedas yang "Nempel" Porsi petis kangkung yang dihidangkan tampak sederhana di atas piring lidi beralaskan kertas minyak. Kangkung rebus yang masih bertekstur renyah dipadu tauge segar, lalu diguyur bumbu petis udang khas Semarang yang pekat, gurih, dan manis. Namun, ada pelajaran berharga ketika memesan menu ini: jangan anggap remeh p...
Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...
Festival Kota Lama (FKL) Semarang resmi menginjak usianya yang ke-15 tahun pada penyelenggaraannya tahun ini. Digelar lebih panjang hingga 17 hari (4–20 September 2026) demi menyambut perhelatan akbar MTQ Nasional, hajatan budaya ini kembali menyedot perhatian publik sejak malam pembukaannya yang megah. Namun, di balik kemilau panggung utama dan ramainya Pasar Malam Sentiling yang berkolaborasi dengan pasar malam tradisional, ada kontras menarik yang luput dari pandangan mata. Siapa pun yang mampir ke kawasan heritage sejak pagi menjelang siang hari—jauh sebelum gerbang area utama dibuka atau car free night dimulai—mendapati suasana yang berjalan normal seperti hari biasa. Kawasan tampak "hampa atribut" karena aturan ketat konservasi sejarah, ditambah kontras telak gema branding-nya yang seolah tenggelam di bawah bayang-bayang gegap gempita MTQ Nasional. Bagaimana rupa festival di usianya yang ke-15 ini jika diamati dari dinamika kunjungan harian di luar jam operasional ut...
Thanks untuk sinopsis yang lengkap tentang film ini.
ReplyDeleteregards,
Review Film Hollywood
http://reviewfilmhollywood.blogspot.com