Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan September 2026

Image
Selamat datang bulan September 2026 di Kota Semarang! Memasuki bulan kesembilan ini, ibu kota Jawa Tengah langsung bersiap menyambut gelombang agenda skala besar yang silih berganti mengisi akhir pekan maupun hari kerja. Dari perhelatan budaya, religius tingkat nasional, hingga pameran otomotif dan festival musik, semuanya siap tumpah ruah meramaikan sudut-sudut kota. Bagi para pelancong, pemburu visual, maupun warga lokal yang ingin merencanakan agenda bulanan agar tidak kecele dengan jadwal padat, berikut adalah rangkuman daftar agenda acara di Kota Semarang sepanjang bulan September 2026. Agenda Besar Utama September 2026 Festival Kota Lama 2026 Waktu: 4 – 20 September 2026 Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang (termasuk titik-titik ikonik seperti Gedung Yayasan Kanisius, area Metro Point, Fasad Marba, hingga Gedung Oudetrap). Catatan: Kembalinya titik keramaian ke area Gedung Yayasan Kanisius diprediksi bakal membuat selebrasi heritage tahun ini semakin meriah dan meluas. MTQ Nasio...

Alasan Penonton Indonesia Pergi ke Bioskop, Cuma Bentuk Hiburan?


Survei yang melibatkan 1.100 responden dari 9 kota di Indonesia ini sangat menarik. Bisa menggambarkan apa yang selama ini jadi kendala para pelaku film khususnya film Indonesia.

Mengutip dari laman Lampost.co (29/11), dituliskan disana tentang alasan masyarakat Indonesia yang pergi ke bioskop yang dibuat oleh Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ) pada September hingga Oktober 2015.

Terungkap bahwa, sebanyak 46 persen penonton film memilih film berdasarkan cerita. Kemudian, sebesar 24 persen orang menonton film Indonesia dengan alasan genre dan jenis film.

Film sebagai hiburan

"Persentase ini menunjukkan bahwa penonton film Indonesia masih menganggap film sebagai bentuk hiburan. Penonton Indonesia belum melihatnya dari sisi sinematis," ungkap Mohamad Ariansah, Dosen FFTV IKJ, di IKJ, Jakarta, Sabtu (28/11/2015).

Film merupakan hiburan yang bisa membuat penonton lepas dari kehidupan sehari-hari. Ini menjadi alasan kuat bagi para penonton datang ke bioskop.

"Penonton film tidak mau melihat keseharian yang mereka lihat dalam berita, muncul di film yang mereka tonton. Ada pekerjaan imajinasi di sana yang penting," ujar Budi Wibawa, Dosen FFTV IKJ.

Alasan lain adalah karena aktor dan aktris sebesar 12 persen, trailer yang menarik sebanyak 12 persen, faktor sutradara 1 persen, dan sampling eror 5 persen.

Yang bisa kita petik

Dotsemarang lewat kofindo, wadah menonton film Indonesia, kurangnya animo masyarakat untuk genre-genre tertentu memang perlu jadi perhatian. Bioskop Semarang hanya ada 1 tempat yang nayangin film-film Indonesia yaitu di Mall Ciputra.

Bila kurang mendapat apresiasi, jumlah penonton sepi, film Indonesia dipastikan hanya bertahan kurang dari seminggu. Kesadaran ini juga membuat kofindo terus berupaya memberikan review film untuk memberikan gambaran-gambaran seperti apa film yang sedang tayang.

Buat pelaku film, mungkin data ini bisa sebagai referensi. Buat komunitas film, mungkin bisa jadi bahan diskusi menarik. Beberapa komunitas memang selalu membuat screening film di luar bioskop. Mungkin saja pihak bioskop mau bekerjasama untuk memberikan tempatnya buat komunitas.

Bagi kofindo sendiri, ini bisa menjadi strategi baru untuk lebih banyak mengeksplor konten-konten yang lebih menarik. Terutama edukas dan referensi.

Sumber dan referensi :  Lampost.co
Gambar : Ilustrasi



Informasi Pemasangan Iklan

Hubungi @dotsemarang
Email : dotsemarang [@] gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

💻 Menilik ASUS ExpertBook B9450: Laptop Eks Kantor Jepang 7 Jutaan

📌 Agenda Kota Semarang Bulan September 2026

🏛️ Menelusuri FKL 2026 di Pagi Menjelang Siang: Usia ke-15 yang Senyap di Balik Bayang-Bayang MTQ Nasional

📌 Pembaruan Kebijakan & Privasi X Terbaru (September 2026): Apa Artinya Buat Kita dan Akun Komunitas Lokal?

🚲 Evolusi Nyess di Semarang: Jajakan Sensasi Segar ala Gerobak Kekinian dengan Tagline "Segernya Sama, Serunya Beda"