Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Mei 2026

Image
Kota Semarang memasuki usia ke-479 tahun ini. Sebuah angka yang menandai kematangan perjalanan panjang sejak disahkan oleh Sultan Hadiwijaya pada tahun 1547 silam. Memasuki bulan Mei, atmosfer perayaan sudah terasa di berbagai sudut kota. Bagi warga maupun wisatawan yang berencana berkunjung, inilah momen terbaik untuk ikut larut dalam kemeriahan Hari Jadi Kota Semarang (HJK) . Mari tandai kalender Anda, berikut adalah rangkuman agenda yang akan mewarnai Kota Atlas sepanjang bulan Mei 2026. Tema HJK 479: Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat Tahun ini, Pemerintah Kota Semarang mengusung tema "Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat" . Narasi yang dibawa bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ajakan kolektif. Kami melihat adanya upaya kuat untuk menyatukan gerak antara pemerintah dan warga. Fokus utamanya adalah integrasi nilai sejarah dengan transformasi modern. Ambisi yang ingin dicapai cukup tinggi: mewujudkan Semarang sebagai kota yang bersih, sehat, cerdas, dan ...

Parade HUT Jateng: Antara Hujan, Rezeki, dan Mobil Hias Kendal

Malam itu, Kamis (21/8), seakan-akan langit tak merestui niat kami untuk menyaksikan Parade Seni dan Budaya dalam rangka memeriahkan HUT Provinsi Jawa Tengah. Acara yang sedianya bakal membanjiri Jalan Pahlawan, tepat di depan kantor Gubernuran, mendadak buyar dihantam hujan deras.

Demi Parade Seni yang Bikin Penasaran

Jujur, kami sudah tak sabar menanti momen ini. Terutama, arak-arakan keseniannya yang selalu sukses bikin warga Semarang penasaran. Mumpung jadwal futsal lagi kosong, kami langsung tancap gas menuju Jalan Pahlawan. Selain parade, di sana juga ada festival jamu dan kuliner yang siap memanjakan lidah.

Kami tiba dan melihat sebuah panggung megah sudah berdiri gagah. Di sana, para seniman dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah akan menampilkan kebolehannya. Ada barongan dari Kudus, tari kebo dari Cilacap, tari rebana dari Demak, Tari Gladen Prawiratama dari Kendal, sampai tari "Mina Laut" dari Batang.

Sayangnya, kami tak bisa merapat ke area utama karena bukan undangan. Kami memilih mencari posisi strategis yang agak jauh, biar dapat pemandangan yang lebih luas. Namun, setelah puluhan menit menunggu, yang datang bukan parade, melainkan hujan yang mengguyur tanpa ampun.

Hujan Jadi Cerita Tersendiri

Melihat kerumunan yang bubar jalan, kami sempat pesimis. Tapi, di tengah kekacauan itu, para seniman tetap tampil penuh semangat di bawah rintik hujan yang terus membasahi. Kami bersyukur, jas hujan yang sudah kami siapkan di tas akhirnya terpakai juga.

Pemandangan paling menarik justru datang dari para pedagang dadakan yang tiba-tiba muncul. Mereka ramai-ramai mengeluarkan jas hujan plastik sekali pakai dengan harga "murah meriah" dan laku keras. Benar-benar rezeki nomplok! Aksi jual-beli dadakan ini jadi bumbu pelengkap yang bikin malam itu tak terlupakan.

Hujan memang membuat cerita berbeda. Sayangnya, waktu yang molor membuat kami tak bisa berlama-lama mengambil foto dan video. Kami khawatir ponsel kami rusak karena kelamaan merekam di bawah guyuran hujan. Jadi, kami hanya mengambil beberapa momen singkat lalu pulang.


Secara keseluruhan, Parade Seni dan Budaya kali ini bukan hanya soal keindahan seni, tapi juga tentang semangat para seniman dan masyarakat yang tak gentar diterjang hujan. Selamat untuk Kabupaten Kendal yang berhasil mencuri perhatian dan menjadi juara pertama kategori mobil hias terbaik.

...

Beberapa video nanti akan kami unggah di YouTube dotsemarang dan dibagiin di blog galeri foto. Ditunggu saja.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

🏙️ HUT Kota Semarang ke-479: Absennya Tradisi Lomba Logo, Fokus ke Layanan Publik?

🚩 Menengok Kirab Haul KH Sholeh Darat 2026: Antara Teatrikal Kapal dan Deru Kereta Api di Kampung Melayu

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Mei 2026

Kenapa Paket Xtra Combo Flex Tidak Ada di Aplikasi MyXL ?

🏙️ Melihat "RT Online" di Kelurahan Sambirejo Semarang: Inisiatif Smart City yang Menembus Gang