Bulan Juni 2026 kali ini terasa jauh lebih spesial bagi kami. Istimewanya, awal bulan ini jatuh pada hari Senin yang langsung disambut dengan tanggal merah memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah awal minggu yang tenang sebelum kita kembali bersiap meramaikan berbagai aktivitas di sudut-sudut Kota Atlas. Namun, bukan hanya libur awal bulan yang membuat Juni ini berbeda. Tepat pada tanggal 10 Juni nanti, kita semua akan memperingati Hari Media Sosial. Sebuah momentum yang rasanya sangat lekat dengan keseharian kita saat ini, tak terkecuali bagi masyarakat yang tumbuh, bekerja, dan menetap di Kota Semarang. Oleh karena itu, tema besar yang kami bawa untuk mengantar daftar agenda bulan ini adalah refleksi seputar dunia media sosial lokal. Lompatan Lanskap Digital di Kota Semarang Jika menengok ke belakang dan melakukan kilas balik, lanskap digital di kota ini sudah melompat sangat jauh. Media sosial di Semarang bukan lagi sekadar ruang pamer aktivitas pribadi, tempat pamer foto estetik,...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Event Cap Go Meh di Semarang 2017
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Satu lagi event yang bakal mengisi buku agenda kota Semarang untuk menarik kunjungan wisatawan. Menurut kami, acara Cap Go Meh yang berlangsung di Balaikota ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Semarang. Seperti apa panitia mengemas acara ini.
Perayaan cap Go Meh di Semarang digelar minggu malam atau tanggal 19 Februari 2017. Rencana awal lokasi yang digunakan adalah halaman Masjid Agung Jawa Tengah, karena banyak pertimbangan, lokasi pun dipindah ke sini - Balaikota.
Agak lambat memang kami menuliskannya di blog dotsemarang, namun buat yang mantau media sosial kami, khususnya Twitter @Livedotsemarang, kami hadir secara langsung dan mengabarkannya pada waktu acara sebelum dimulai sampai berakhir. Lihat di sini yang sudah kami rangkum dalam bentuk momen.
Suasana
Setiap pengunjung yang datang, mereka dipersilahkan mengambil bingkisan yang terdiri dari makanan dan minuman, plus kaos. Untuk makanan, disediakan Lontong Cap Go Meh yang nantinya akan disaksikan tim Museum MURI yang bakal menghitung untuk mendapatkan rekor. Panitia sudah memiliki persiapan baik tentunya.
Langit malam selama acara rupanya kurang bersahabat. Beberapa kali turun gerimis, tapi itu tidak menyurutkan peserta yang sudah hadir. Baik di dalam tenda maupun yang berkerumunan di luar tenda.
Sambil menunggu undangan yang terdiri dari Walikota dan tokoh-tokoh hadir, panggung besar yang sudah dipersiapkan, memainkan perannya menghibur masyarakat. Ada hiburan musik, tarian, dan atraksi Barongsai yang mencuri perhatian.
Berhasil Pecahkan Rekor MURI
Pada akhirnya, sesi yang paling ditunggu tiba juga. Acara ini berhasil memecahkan rekor MURI kategori menyajikan lontong Cap Go Meh dengan jumlah porsi sebanyak 11.760
Dengan pencapaian ini, Semarang berhasil memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Kabupaten Berau, Kalimantan Tengah dengan jumlah penyajian 11.000.
Seperti ini penampakan Lontong Cap Go Meh yang disajikan pada saat acara yang terdiri dari ayam, sayur lodeh, bubuk koya dan beberapa menu lainnya yang kami lupa namanya.
Dari MURI diwakilkan oleh Sri Widayati selaku Eksekutive Manager yang menyerahkan piagam penghargaan kepada beberapa pihak, sebelah Walikota Semarang.
Acara Cap Go Meh Semarang ini sendiri dilaksanakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jateng.
"Bukan soal 10 ribu, 11 ribu, atau 12 ribunya (orang yang hadir, red.), tetapi kami ingin mewartakan betapa indahnya harmoni yang ada di Semarang ini. Bagaimana kebersamaan dalam kebhinnekaan dalam keindahan budaya Semarang," Ketua PSMTI Jateng Dewi Susilo Budiharjo.
...
Acara Semarang Cap Go Meh di Semarang ini sendiri mengusung tema 'Pelangi Budaya Merajut Nusantara'. Rangkaian acaranya berupa penampilan tari-tarian, musik, Barongsai dan yang utama, makan lontong Cap Go Meh.
Tahun depan, acara ini diharapkan menjadi salah satu agenda kota di Semarang. Kami harap begitu, dan perlu menambah beberapa acara agar lebih menarik lagi.
Sore itu, lini masa kami tak sengaja terpapar unggahan dari akun Instagram @kawisata tentang peluncuran Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026. Jujur saja, ini sebuah kejutan yang menyenangkan. Mengetahui gelaran malam peluncurannya dilaksanakan langsung di pelataran Lawang Sewu dengan gegap gempita, atmosfernya terasa begitu magis dan masif. Festival film pendek ini kembali menyapa setelah edisi pertamanya di tahun 2025 lalu sukses kami dokumentasikan di blog. Jika tahun lalu malam puncaknya berlokasi di Gedung Baru Ki Narto Sabdo, Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), tahun ini LOFF mengambil langkah berani dengan menempati ikon sejarah paling populer di Kota Atlas. Malam pembukaan yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026 kemarin pun tidak main-main. Agenda yang sebenarnya sudah masuk dalam radar kalender acara kami ini kembali dihadiri langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, serta turut dimeriahkan oleh kehadiran aktris nasional sekelas Nirina Zubir. Sebagai p...
Hari ini (12/6), kami mendadak terkejut melihat aktivitas Bitly yang tidak seperti biasanya. Karena penasaran, kami langsung memeriksa kotak masuk. Ternyata benar, ada pemberitahuan kabar terbaru yang datang ke email dotsemarang. Sepertinya kali ini kami harus pergi meninggalkan platform pemendek URL tersebut setelah bertahun-tahun setia menggunakannya. Ada yang mengalami hal serupa? Ini adalah nasib nyata yang harus diterima oleh para pengguna yang mengandalkan layanan gratisan. Tiba-tiba saja, platform mengubah kebijakannya secara sepihak. Sebuah langkah agresif yang tentu sangat berdampak bagi pengguna yang enggan atau belum siap beralih ke fitur berbayar. Bagi kami, sebagai blogger independen atau pembuat konten yang aktif membagikan tulisan di media sosial, Bitly sudah seperti menu sarapan harian. Platform dengan logo ikan ikonik ini selalu menjadi andalan utama untuk merapikan tautan panjang dari blog agar terlihat manis, ringkas, dan estetik saat disodorkan kepada pembaca. Namun...
Semarang tidak pernah kehabisan cerita tentang keberagaman. Di balik riuh rendah aktivitas kota bawah, kontur perbukitan Kota Atlas menyimpan sebuah pesona spiritual yang megah. Tempat ini bukan saja menjadi Pura terbesar di Kota Semarang, melainkan juga yang terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Berlokasi strategis di kawasan Jalan Sumbing, Pura Agung Giri Natha tidak hanya berdiri tegak sebagai pusat peribadatan suci, tetapi juga menjadi referensi kuat sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang ramah untuk dikunjungi masyarakat umum. Setelah sekian tahun berlalu, akhirnya kami kembali lagi melangkahkan kaki ke sini. Momentum kembalinya kami ke pura ini terasa pas karena bertepatan dengan adanya acara menarik dari rekan-rekan mahasiswa Universitas Semarang (USM). Melalui program studi kreatif mereka yang bertajuk 'Perjalanan Napak Tilas' , agenda tersebut sukses digelar pada hari Sabtu, 6 Juni 2026. Kunjungan kali ini sekaligus menjadi pengingat berharga akan memori masa lalu...
Piala Dunia 2026 tinggal hitungan jam saat kami menulis halaman ini. Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang berujung jadi konten. Gara-gara sedang berselancar di Instagram dan menemukan unggahan dari akun resmi TVRI Jawa Tengah yang membagikan daftar lokasi nonton bareng (nobar) resmi, kami langsung tergerak untuk membawanya ke blog. Lagi-lagi ini menjadi ide dadakan. Entah kenapa ingatan kami langsung terlempar pada bulan Februari kemarin, saat kami sedang bersepeda santai menuju Car Free Day (CFD) Simpang Lima. Waktu itu, kami sempat berpapasan dengan kampanye promosi berbau Piala Dunia 2026 . Aktor di balik layarnya ternyata masih sama: TVRI Jawa Tengah, sang pemegang hak siar resmi lewat program global mereka yang bertajuk "Bola Gembira" . Karena gelaran sepak bola terakbar ini hanya datang empat tahun sekali, kami pikir tidak ada salahnya ikut memeriahkan euforianya lewat coretan di blog. Apalagi aturan hak siar dan izin nobar sekarang semakin ketat. Membagikan tempat...
Rasanya sudah biasa (normal), mal-mal sekarang hanya melayani pembayaran parkir kendaraan tanpa uang fisik. The Park Mall Semarang pun menerapkan hal yang sama. Namun meski begitu, pengguna kendaraan roda dua memiliki alternatif lain. Mari bicarakan itu nanti, fokus di pembayaran non tunai untuk kendaraan roda dua. Bagaimana dengan roda 4? Ya, sama saja. Pokoknya masuk ke bangunan parkir di The Park Mall, harus pakai pembayaran non tunai. Siapkan kartu pembayaran non-tunai Parkir di The Park Mall Semarang hanya melayani 2 kartu pembayaran non tunai, seperti Flazz BCA dan e-money. Oh, bukan 2 ternyata . Kartu Brizzi dari BRI juga bisa, termasuk Tap Cash dari BNI. Jadi, ada 4 kartu yang dapat dilayanin di sini. Karena pengalaman kami lebih untuk kendaraan roda dua, maka gambar yang kami tampilin di sini adalah suasana parkir roda dua. Yang belum tahu atau baru pertama kali ke The Park Mall menggunakan sepeda motor, parkirnya masuk sisi kiri. Cari saja arah masuk kendaraan masuk. Te...
Comments
Post a Comment