📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026
Setelah sekian lama absen, tahun 2026 ini akhirnya kami memastikan diri untuk ikut berpartisipasi dalam tradisi Ketuk Pintu. Ritual tahunan ini biasanya digelar tepat setelah prosesi Selametan di Klenteng Tay Kak Sie. Kehadiran beberapa rekan sesama blogger dan penghobi foto membuat langkah kaki kami terasa lebih bersemangat menyusuri aspal Pecinan edisi kali ini.
Bagi yang belum familiar, Ketuk Pintu adalah ritual khas masyarakat Tionghoa di Semarang sebagai penanda dimulainya rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek dan gelaran Pasar Imlek Semawis. Tradisinya memiliki magis tersendiri. Jika prosesi Selametan terasa khidmat dan puitis, maka Ketuk Pintu adalah bentuk "permisi" yang sangat santun—sebuah penghormatan kepada leluhur dan dewa-dewi tuan rumah sebelum keriuhan festival dimulai.
Aktivitas ini sejatinya menyerupai kirab atau arak-arakan dengan berjalan kaki. Di tengah modernitas Kota Semarang, melihat para tokoh masyarakat dan warga berjalan dari satu klenteng ke klenteng lain terasa seperti melintasi jembatan waktu. Ada nilai kerendahan hati yang tersirat di setiap langkahnya.
Yang menarik perhatian kami tahun ini adalah dominasi kaum perempuan dalam barisan komunitas. Tampak rekan-rekan dari Komunitas Diajeng Semarang (KDS), Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Cabang Semarang, dan berbagai komunitas lainnya. Tak ketinggalan, jajaran Pemerintah Kota Semarang pun turut melebur, salah satunya terlihat Kepala Dinas Pariwisata, Ibu Iin, yang ikut berjalan kaki meski di akhir rute sosoknya mulai tak terlihat di antara kerumunan.
Hadirnya perempuan berkebaya di antara bangunan-bangunan tua Pecinan menciptakan estetika visual yang kuat. Kehadiran para fotografer yang sigap membidik kamera pun seolah memberi panggung tambahan bagi mereka untuk tampil lebih percaya diri menunjukkan identitas budaya Indonesia.
Energi arak-arakan dipicu oleh suara nyaring grup kesenian Barongsai dan Liong yang selalu berhasil mencuri perhatian warga maupun pengguna jalan yang melintas. Rute dimulai dari Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, lalu bergerak menuju Jalan Gang Pinggir.
Persinggahan pertama adalah Klenteng Tong Pek Bio. Di sini, tidak semua peserta masuk; perwakilan seperti Ketua Komunitas Pecinan Semarang (Kopi Semawis) menjadi garda depan untuk memberi penghormatan. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Klenteng Ling Hok Bio dan Klenteng Tek Hay Bio. Ritualnya konsisten: singgah, memberi hormat, lalu beranjak.
Kejutan muncul saat rombongan tidak berbelok ke Jalan Wotgandul Timur seperti dugaan kami, melainkan lurus menuju Jalan Sebandaran. Meski wilayah ini sangat familiar, masuk ke Jalan Sebandaran I membuka mata kami pada sisi lain Pecinan.
Kami menemukan Klenteng Hwi Wie Kiong dan Klenteng See Hoo Kiong. Sebagai blogger yang sudah 16 tahun aktif mencatat dinamika Semarang, kami cukup malu karena baru menyadari keberadaan dua bangunan megah ini sekarang. Benar-benar sebuah hidden gem yang selama ini luput dari radar pencatatan kami.
Di Klenteng See Hoo Kiong, rombongan mengambil jeda istirahat. Namun, alih-alih hanya duduk diam, suasana justru pecah oleh aksi flash mob yang dihadirkan oleh komunitas. Halaman klenteng yang sangat luas ini mendadak berubah menjadi panggung pertunjukan yang ceria dengan iringan audio yang sudah dipersiapkan panitia.
Di tengah kegiatan, kami juga sempatkan mengeksplorasi arsitektur See Hoo Kiong yang menawan. Ada banyak detail gambar dan ukiran menarik di sini yang rencananya akan kami unggah secara khusus di postingan berikutnya. Jadi, pastikan Anda tetap memantau halaman ini.
Setelah energi kembali terisi, perjalanan dilanjutkan menembus Pasar Gang Baru. Pemandangan di sini sangat unik; pasar yang biasanya penuh sesak dengan pedagang, kali ini tampak lengang, menyisakan deretan bangunan ruko tua yang eksotis.
Titik terakhir adalah Klenteng Hoo Hok Bio di Gang Cilik. Setelah ritual ramah tamah singkat dengan pengelola di sana, kami pun kembali ke rute awal melalui Jalan Gang Warung menuju titik akhir di Gang Lombok.
...
Rute perjalanan kali ini lumayan menguras tenaga, namun antusiasme membuat rasa lelah itu baru terasa saat barisan geulis dan barongsai membubarkan diri. Beruntung, panitia menyediakan kupon makan siang sebagai penawar lapar yang pas.
Pengalaman Ketuk Pintu 2026 ini meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Ada energi yang menular di sepanjang jalan; sekat antara peserta parade dan penonton seketika luntur. Inilah sisi interaktif yang selalu kami rindukan—sebuah pertunjukan jalanan yang cair, di mana semua orang bisa menjadi bagian dari kemeriahan, bukan sekadar penonton di balik layar ponsel.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment