📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026
Ada satu pemandangan menarik di balik layar meriahnya sambutan masyarakat saat acara penutupan Dugderan di area Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tahun 2026 kemarin. Bus listrik yang digadang-gadang akan menjadi salah satu armada masa depan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang turut hadir memeriahkan suasana. Ini adalah kali pertama kami melihat penampakannya secara langsung di tengah kerumunan warga.
Senin sore (16/2), kami sendiri tidak menyangka jika rombongan Pemkot Semarang yang dihadiri langsung oleh Ibu Wali Kota datang dengan membawa unit andalan terbaru untuk melengkapi jajaran Trans Semarang. Riuhnya masyarakat yang menunggu prosesi budaya tentu menjadi panggung yang pas untuk sekalian mempromosikan bus listrik yang dalam beberapa waktu belakangan mulai intens melakukan uji coba.
Kami sendiri sebenarnya bukan pengamat moda transportasi profesional, namun dalam berbagai kesempatan, kami selalu mengandalkan Bus Trans Semarang untuk menghadiri acara-acara di sudut kota yang tidak bisa kami jangkau dengan bersepeda. Kehadiran bus listrik tentu menjadi kabar baik bagi kami dan warga Semarang yang sering terpapar isu kebisingan suara mesin serta pekatnya asap knalpot.
Berdasarkan informasi yang kami himpun, Pemkot Semarang sebenarnya sudah memulai langkah uji coba ini sejak November 2025. Saat itu, ada dua nama besar yang digandeng untuk penyediaan armada, yaitu VKTR dan Karoseri Laksana. Dua unit yang dihadirkan memiliki kapasitas berbeda, yakni bus besar dan bus sedang.
Bagi kami yang awam, pemilihan dua nama ini tentu bukan tanpa alasan. Karoseri Laksana yang berbasis di Ungaran merupakan kebanggaan lokal dengan standar internasional, sementara VKTR membawa teknologi elektrifikasi yang mumpuni. Keduanya diharapkan mampu menaklukkan kontur jalanan Semarang yang bervariasi—mulai dari aspal datar di pusat kota hingga tanjakan-tanjakan ikonik di wilayah atas.
Memasuki Februari 2026, kolaborasi ini semakin nyata. Dua unit bus listrik tersebut resmi mulai beroperasi sebagai bagian dari uji coba lanjutan untuk melihat ketangguhan baterai dan efisiensi operasionalnya di medan asli Kota Atlas.
Meski sudah sering lalu lalang, kami akui hingga saat ini kami belum sempat merasakannya langsung—bagaimana suasana kabinnya yang katanya senyap atau sehalus apa getarannya saat berjalan.
Dalam tahap awal ini, bus listrik tersebut ditempatkan pada Koridor 1 dengan rute utama Terminal Mangkang – Simpang Lima – Terminal Penggaron. Secara tampilan, bus ini tetap menggunakan identitas warna biru khas Trans Semarang, sehingga sepintas mungkin terlihat serupa dengan bus lainnya di rute yang sama.
Pemilihan Koridor 1 sangatlah vital karena rute ini adalah urat nadi yang menghubungkan sisi Barat dan Timur Semarang. Jalur ini melewati pusat ekonomi, keramaian Simpang Lima, hingga pusat pemerintahan di kawasan Balaikota. Jika transisi di koridor tersibuk ini berhasil, tentu akan menjadi preseden bagus untuk koridor lainnya.
Target jangka panjangnya pun cukup ambisius. Pemkot berencana mengonversi sebanyak 281 unit bus diesel Trans Semarang menjadi armada listrik secara bertahap. Jika ini terwujud, Semarang jelas akan naik kelas sejajar dengan kota-kota besar dunia yang sudah lebih dulu mengadopsi transportasi hijau.
Sebagai pemula yang baru memperhatikan tren ini, kami melihat ada sisi teknis yang krusial, yaitu infrastruktur pendukung. Bus listrik tidak lagi butuh solar, melainkan "minum" daya listrik.
Pemkot Semarang kabarnya menerapkan skema Buy The Service (BTS). Melalui skema ini, pemerintah membayar layanan per kilometer kepada operator, sementara urusan perawatan armada dan pengisian daya menjadi tanggung jawab penyedia jasa. Strategi ini terbilang realistis untuk menjaga performa bus tetap prima tanpa membebani teknis di lapangan.
Kesiapan charging station di terminal besar seperti Mangkang dan Penggaron kini menjadi kunci utama. Konon, dalam sekali pengisian daya penuh, bus ini mampu menempuh jarak antara 250 hingga 300 kilometer. Jarak tersebut lebih dari cukup untuk melayani penumpang bolak-balik rute kota dalam sehari penuh.
Kehadiran bus listrik sebenarnya membawa pesan yang lebih dalam. Ini adalah wajah nyata dari transisi energi yang sedang diupayakan di tingkat lokal. Selama puluhan tahun, nadi transportasi kita berdenyut lewat pembakaran fosil dengan suara mesin yang kasar. Kini, Semarang sedang belajar memutus ketergantungan tersebut.
Kota kita bukan lagi sekadar penonton dalam isu perubahan iklim global. Dengan mengadopsi teknologi baterai, kita sedang membangun fondasi ekonomi hijau. Bayangkan setiap kilometer yang ditempuh bus ini tanpa emisi gas buang; itu adalah investasi untuk kualitas udara yang lebih baik di area padat.
Namun, transisi ini memang bukan soal membalik telapak tangan. Ini adalah perjalanan panjang tentang kesiapan infrastruktur dan bagaimana energi tersebut dihasilkan. Melihat bus listrik mulai melintas adalah pengingat bahwa Semarang sedang bertransformasi secara "senyap". Kita tidak lagi hanya bicara soal memindahkan orang, tapi bagaimana melakukannya tanpa membebani masa depan lingkungan.
...
Perjalanan bus listrik di Kota Semarang sangat menarik untuk terus diamati. Apalagi belakangan ada beberapa pemain baru seperti INVI yang turut memeriahkan uji coba armada listrik di kota ini.
Kami juga penasaran ingin melihat langsung bagaimana wujud titik pengisian listrik (charging spot) yang ditempatkan di koridor-koridor terpilih. Mari perlahan kita ikuti perkembangannya. Semoga langkah ini berdampak positif bagi kualitas hidup kita semua di Kota Semarang.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment