Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Februari 2026

Image
Memasuki bulan Februari 2026, atmosfer Kota Semarang terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Bukan sekadar rutinitas awal bulan, tapi ada semacam "tabrakan budaya" yang unik. Jika biasanya event besar datang bergantian, tahun ini warga Semarang seolah diajak merayakan semuanya sekaligus: menyambut Tahun Baru Imlek sekaligus mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadan. Hari ini, tepat tanggal 1 Februari yang jatuh pada hari Minggu, cuaca di Kota Semarang tampak cerah merona dari pagi hingga menjelang sore. Meskipun begitu, bulan Februari disebut-sebut masih menjadi puncak musim penghujan. Cuaca memang masih sulit diprediksi; bisa saja terik di siang hari, namun seketika hujan lebat saat malam menyapa. Dua Hajatan Besar dalam Satu Pekan Bulan ini, Ibu Kota Jawa Tengah punya dua agenda besar yang waktunya saling berhimpitan. Ada Pasar Imlek Semawis yang menjadi ruh perayaan Tahun Baru Imlek di Pecinan, dan ada Dugderan yang menjadi tradisi wajib warga Semarang menyambut bula...

Petualangan Futsal di Metro Sports Puspowarno: Rumah Baru Tim Kami?

Gara-gara Metro Sports Sriwijaya berencana mengubah lapangan futsal jadi lapangan padel, tim Kamis kami terpaksa cari tempat baru. Pilihan jatuh ke Metro Sports Center Puspowarno, yang masih satu manajemen dengan Sriwijaya di bawah Metro Corp. 

Jaraknya sih lumayan jauh dari rumah kami dibandingkan Sriwijaya yang di pusat kota, bikin agak deg-degan mikirin pengalaman baru. Tapi semangat tim untuk tetap ngegas di lapangan nggak surut, jadi kami putuskan coba!

Perjalanan Malam ke Puspowarno

Kamis akhir Juli jadi debut kami di Jl. Puspowarno Selatan No.26, Salamanmloyo. Rutenya melewati Simpang Lima, Tugu Muda, dan Banjir Kanal Barat—bayangin naik sepeda malam-malam, angin Semarang menerpa, kayak lagi syuting film petualang! 

Dari luar, tempatnya agak gelap, dengan bangunan memanjang mirip gudang besar. Begitu masuk, kami lihat ada lapangan padel—ooh, pantes Sriwijaya juga mau bikin, ternyata Puspowarno udah duluan.

Lewat bengkel mobil antik di samping, akhirnya kami sampai di gedung futsal. Ada tiga lapangan indoor dengan layout unik, mirip huruf S kalau dibayangkan. Yang bikin beda, sebagian sisi lapangan pakai tembok sebagai pembatas. Tiap bola kena tembok, bunyinya kenceng banget, kayak efek suara di game action!

Musik, Rumput Gundul, dan “Salam Perkenalan”

Satu hal yang bikin kami kaget: ada musik mengalun selama main! Ini nostalgia banget, dulu waktu kecil main futsal selalu ditemani musik. Tapi tenang, bukan dangdut, melainkan lagu-lagu internasional yang bikin suasana lebih seru. 

Sayangnya, nggak semua pengalaman di sini mulus. Ketiga lapangan pakai rumput sintetis, tapi di lapangan yang kami sewa, rumputnya sudah gundul-gundul. Akibatnya? Sepatu kami ada yang sobek, solnya berlubang kecil. 

Belum lagi lengan kami lecet gara-gara aksi diving jadi kiper. Rasanya kayak lapangan ini ngasih “salam kenal” yang lumayan nampol, haha. Adaptasi dulu, deh!

Dua Kali Main, Tetap Pengap

Kesan pertama tim kami masih oke, meski pilihan lain belum ada selain Puspowarno. Minggu berikutnya, kami balik lagi ke lapangan 1—sebelumnya main di lapangan 3. 

Tapi, suasana pengapnya bikin keringat kami ngucur deras, padahal cuma lari-lari kecil. Konon, ventilasi di lapangan 2 dan 3 kurang oke, lebih pengap dari Sriwijaya yang kami kira udah juara pengapnya gara-gara mini soccer.

Dentuman bola ke tembok juga masih bikin kaget, suaranya lebih nyaring dari teriakan kami. Tapi, suasana di sini rame banget! Tiga lapangan full booked sampai jam 9 malam. 

Setelah kami selesai, lapangan masih ramai dengan warga sekitar yang main santai, tanpa sepatu atau jersey khusus. Melihat mereka, kami teringat masa kecil main futsal di kampung, bebas tanpa beban.

Puspowarno vs. Sriwijaya: Komunitas vs. Kota

Puspowarno punya daya tarik sendiri. Lokasinya di perkampungan Salamanmloyo bikin suasana lebih hidup dibandingkan Sriwijaya yang di tengah kota. 

Sriwijaya sepi akhir-akhir ini, mungkin karena tren padel atau lokasinya yang terlalu mainstream. Di Puspowarno, vibe komunitasnya kuat, apalagi dekat warung-warung lokal—perfect buat nyemil soto atau gudeg habis main.

Belum Jadi “Rumah”, Tapi Layak Jajal

Semarang punya banyak lapangan futsal, tapi setelah bertahun-tahun setia sama Sriwijaya, kami butuh waktu untuk nyaman di Puspowarno. Lapangannya punya karakter, tapi rumput gundul dan hawa pengap masih jadi PR. 

Oh ya, booking lewat WhatsApp (0878-0022-7888) lebih gampang, meski ada aplikasi Laparaga yang belum kami coba. Harga sewa mulai Rp35.000 per jam, tapi parkir mobil kadang kena biaya random Rp3.000-Rp5.000—siapin receh, ya!

Buat pecinta futsal Semarang, Puspowarno patut dicoba kalau kamu suka suasana ramai dan nggak keberatan adaptasi. Kalau kamu juga doyan futsal, apa lapangan favoritmu di Semarang? Share pengalamanmu di kolom komentar, dong!

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

Kenapa Paket Xtra Combo Flex Tidak Ada di Aplikasi MyXL ?

🎡 Dugderan Semarang 2026: Harmoni Tradisi di Tengah Riuhnya Sambut Imlek dan Ramadan

🏮 Daftar Acara Pasar Imlek Semawis 2026: Kuda Datang, Sukses Menjelang

🏛️ KOV Koffie Heritage: "Kopi Seperak" yang Mengguncang Sudut Kota Lama

AMOLI, Laptop Buatan Mana?