Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Mustika Rasa On Stage Kota Semarang: Kembali Ke Siklus Lokal
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Menutup akhir tahun 2021, Kota Semarang didapuk menjadi kota pertama acara yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menghadirkan Mustika Rasa On Stage. Seperti apa acara berlangsung dan suasananya?
Entah apakah ini semacam kebetulan atau keberuntungan, tempat yang digunakan untuk acara adalah tempat yang sudah beberapa kali kami kunjungi sebelumnya. Jodoh?
Jumat siang (24/12), bertempat di Oud En Nieuw, kami turut hadir yang di mana undangannya sebagian besar di dominasi awak media dan beberapa bloger seperti kami. Tentu, ada pejabat juga yang hadir dan beberapa undangan lainnya yang namanya tidak asing di telinga, seperti PHRI atau Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Semarang.
Kick Off
Yang membuat kami bangga datang ke acara ini adalah Kota Semarang yang dijadikan Kota Pertama dari acara yang akan juga dilaksanakan beberapa Kota berikutnya.
Alasannya, karena Kota Semarang termasuk salah satu kota di Indonesia yang berhasil dalam hal akulturasi budaya. Kami senang mendengarnya.
Identitas Bangsa lewat makanan
Pak Deputi
Dalam acara yang dimulai pukul setengah dua siang ini, bahkan disiarkan langsung via Zoom, ada beberapa nama yang dihadirkan.
Ir, Prakoso,M.M, Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan.
JJ Rizal, Sejarahwan.
Hardian Eko Nurseto, finalis Master Chef Indonesia Season 8.
Kami jadi teringat dengan spanduk-spanduk di beberapa ruas jalan yang mempromosikan kuliner dari negara lain. Rasanya seperti diberi pencerahan datang ke acara ini untuk kembali mencintai kuliner lokal atau Nusantara.
Paragraf di atas mendadak hadir saja dalam pikiran kami saat sambutan pembicara menyeletuk tentang 'kebanyakan kuliner dari luar negara, di mana kuliner di negeri sendiri".
Lalu, bagaimana dengan kaitannya dengan Pancasila? Awalnya kami masih memperhatikan buku yang sangat tebal yang berada di meja para pembicara dan Wakil Wali Kota.
Buku yang berjudul Mustika Rasa adalah kumpulan resep masakan dari berbagai daerah di Indonesia. Buku yang lahir atas gagasan Presiden Ir. Soekarno ini berisi 1.600 lebih resep masakan.
Bisa kebayang, andai saja kami dapat menghapal semua resep, ah tidak sebagian saja itu sudah cukup, rasa cinta terhadap Bangsa Indonesia begitu besar. Dari sisi makanan saja, yakni dengan mengenal pangan seluruh tanah air, ada rasa bangga yang hadir sebagai warga negara Indonesia.
Sepertinya inilah garis besar dari acara yang diselenggarkan BPIP yang ingin melakukan Pembudayaan Ideologi Pancasila dan Gotong Royong lewat pendekatan kuliner.
Kelas memasak
Kami pikir acara akan membosankan seperti biasanya yang kebanyakan hanya mendengar, namun ternyata tidak. Ketika sesi Chef Hardian berbicara, ternyata kami dan undangan langsung diajak mengikuti kelas memasak.
Chef memilih membuat Perkedel Ambon yang diambil dari salah satu resep yang ada di buku Mustika Rasa. Perkedel dipilih karna di dalam buku terdapat 16 resep tentang makanan tersebut. Dan pilihannya jatuh ke perkedel Ambon yang dianggap unik dari sisi bentuk.
Menurut Chef, Perkedel Ambon ini bisa ditemukan juga di Meksiko. Sekilas mirip meski ada beberapa perbedaan dari sisi bahan.
Salah satu rekan bloger kami diundang untuk menemani Chef memasak. Kami pikir rekan kami yang berpengalaman memang mudah beradaptasi. Kami senang mendengarnya saat dipuji dari Mbak Iren, BPIP.
Apa saja diviralkan
Tentang kelas memasak, nanti kami tulis lebih lanjut di halaman berikutnya. Kelas memasak sudah, dan acara berlanjut ke sesi diskusi.
Perkedel Ambon
Saat ini, tren makanan naik. Apa saja di-viralkan. Ada rasa kekhawatiran dari diskusi yang kami dengarkan. Wajar bila budaya luar masuk lewat makanan.
Kita kembali ke siklus lokal. Karena arus balik ini besar, maka kita harus mengelolanya dengan baik. Peran besar dari media dan para blogger sangat berpengaruh untuk ini. Jangan hanya tentang rasa, namun juga bagaimana membangun narasinya.
Ada pertanyaan menarik yang diberikan kepada pembicara tentang bagaimana caranya agar anak makan makanan Indonesia? Ini bisa dimulai dari dapur rumah menurut Chef yang juga mempraktekkan ini pada keluarganya. Orang tua memasak makanan Indonesia
Atau jangan-jangan pengetahuan generasi muda tidak tahu karena orang tuanya tidak memasak, celetuk salah satu pembicara. Apalagi kita tahu, apa yang kita makan adalah simbol identitas sosial.
Live streaming
Woh, sudah sangat panjang sekali kami menulis ini. Bila kamu masih penasaran dengan acara, bisa menyaksikan siaran ulangnya yang sudah diunggah di YouTube di bawah ini.
...
Kami tidak menyangka, berbicara hal tentang makanan atau kuliner, bisa menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan terhadap Bangsa Indonesia. Pengetahuan kami tentang makanan lokal benar-benar masih minim. Kami harap tahun 2022, kami bisa lebih banyak lagi mengangkat soal makanan lokal dari Kota Semarang.
Ah iya, ada senyum merekah dari rekan kami yang tadi menemani Chef memasak. Ia sempat berbicara kepada kami, semoga buku yang ia pegang dari tadi (Mustika Rasa) bisa dimilikinya. Dan kejadian, ia berhak mendapatkannya. Selamat, Mas Nuno.
Membaca kabar mengenai Pemerintah Kota Semarang yang secara resmi telah meluncurkan rangkaian peringatan HUT ke-479 di Halaman Balai Kota baru-baru ini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal bagi kami. Bukan soal kemeriahan acaranya, melainkan soal logo HUT-nya! Tumben sekali kami sampai melewatkan informasinya, atau memang sengaja tahun ini hadir tanpa prosesi lomba desain logo Hari Jadi Kota (HJK)? Tahun 2026 ini, Kota Semarang menginjak usia ke-479. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu momen yang paling kami tunggu-tunggu sebagai pengelola blog ini adalah kemunculan visual identitas resmi Hari Jadi Kota Semarang (HJKS). Namun, ada yang terasa sangat berbeda kali ini. Jika biasanya sejak bulan Februari atau Maret lini masa media sosial sudah riuh dengan pengumuman lomba desain logo yang memancing kreativitas warga, tahun ini suasananya justru senyap. Tidak ada sayembara, tidak ada kompetisi ide, dan tentu saja tidak ada pengumuman pemenang seperti yang rutin kami dokumentasikan ...
Semenjak kembali menggunakan layanan internet operator dari XL Axiata bulan Juli kemarin , ada pertanyaan besar dipikiran kami tentang paket Xtra Combo Flex yang tidak tersedia di aplikasi MyXL. Apakah hanya kami saja yang kebingungan? Dikenalkan sejak bulan Maret 2022, paket Xtra Combo Flex ternyata sangat menarik dari sisi pembagian kuota, seperti bonus hingga gratis berlanggananan konten Vidio. Tidak ada di aplikasi Hanya saja, sebagai pengguna baru yang membeli kartu perdana yang langsung mendapatkan paket Xtra Combo Flex, kami agak bingung saat mencarinya di aplikasi MyXL. Apalagi bonus-bonus yang harus diklaim lewat aplikasi, mau tidak mau membuat kami harus menginstal aplikasinya ke smartphone. Di mana paket Xtra Combo Flex? Dari daftar paket utama pun tidak ada tersedia sama sekali. Sudah kami cari-cari dibeberapa menu lainnya, hasilnya tetap nihil. Paket yang tersedia di paket utama (lihat gambar) hanya ada Akrab, Akrab Mini, Xtra Combo Plus, Xtra Combo Mini, Xtra On dan ...
Entah apa yang terjadi dengan semangat kami belakangan ini. Setelah sebelumnya melewatkan Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin , kami kembali harus menerima kenyataan gagal hadir secara fisik pada gelaran Karnaval Paskah Kota Semarang yang berlangsung tanggal 17 April 2026 kemarin. Padahal, suasana kemeriahannya sudah sangat terasa bahkan sebelum acara dimulai. Meski kali ini kami hanya bisa memantau dari kejauhan dan layar digital, ada satu hal yang sangat mencolok: skala acara tahun ini terasa jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan tahun 2025. Perasaan "lebih ramai" itu rupanya bukan sekadar asumsi, melainkan fakta yang tercermin dari data di lapangan. Lonjakan Peserta dan Kehadiran Mobil Karnaval Jika pada tahun 2025 jumlah peserta berada di angka sekitar 10.000 orang, tahun 2026 ini jumlahnya melonjak drastis hingga menyentuh angka 15.000 orang . Kenaikan sebesar 50% ini menjelaskan mengapa arus informasi dan dokumentasi di media sosial terasa jauh lebih masif. Salah sa...
Biasanya, pengalaman menikmati menu berbuka puasa yang mewah identik dengan undangan dari hotel-hotel berbintang di pusat kota. Namun, kali ini ceritanya berbeda. Cardea Semarang , yang baru saja meresmikan cabangnya di kawasan Jangli pada bulan Maret 2026 kemarin, menyuguhkan pengalaman kuliner yang tidak kalah berkelas. Bisa dibilang, menunya sebelas dua belas dengan hotel, lengkap dengan konsep all you can eat yang sangat terasa premiumnya. Kami sempat mengulas mengenai peresmian fasilitas kesehatan dan fisioterapi mereka sebelumnya. Namun, ada cerita di balik layar yang rasanya sayang jika dilewatkan, terutama mengenai bagaimana rencana besar terkadang harus berkompromi dengan alam. Ketika Langit Semarang Tak Merestui Agenda Lari Sejatinya, Cardea ingin menanamkan memori mendalam pada momen grand opening tersebut dengan mengadakan kegiatan lari. Secara konsep, misi ini sangat tepat sasaran mengingat lokasinya berada di jalur favorit para pegiat olahraga di Semarang. Namun sayang ...
Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Comments
Post a Comment