Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan November 2026

Image
Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...

Berkenalan Dengan Eco Dyeing dari Sumowono Bamboo Garden

Saat memasuki ruangan resto, mata kami teralihkan dengan barang-barang yang dipajang di sebelah kanan setelah pintu masuk. Ada banyak kain dengan motif batik, tapi motifnya berbeda dari kebanyakan. Termasuk warna yang digunakan? 

Eco Dyeing, bukan saja sedikit sulit menyebutnya tapi juga masih asing di telinga kami. Pak Ricky yang menjelaskan saat kunjungan kami ke tempatnya yang dikelola, bahkan menunjukkan hasilnya lewat pakaian yang dikenakan.

Ini limited edition dan hanya satu di dunia kata beliau menerangkan dihadapan peserta famtrip.

Eco dyeing aesthetics textile

Jadi, eco dyeing ini semacam teknik pewarnaan yang ditaruh pada kain. Mirip batik dengan teknik cap. Hanya saja bahan yang digunakan alami, berasal dari alam dan tersedia di Sumowono Bamboo Garden.

Mulai dari daun, tapi tidak semua daun bisa digunakan tentunya. Ada juga serat kayu semacam akasia. Dari bahan-bahan tersebut didapat warna unik yang kemudian diletakkan pada kain.

Mengutip website kompas, kami nggak sempat ikutan wawancara bareng para wartawan karena keterbatasan waktu, kain tadi lalu digulung dan dipanaskan hingga warna daun berpindah ke kain. 

Kemudian dibuka dan dikeringkan. Warna yang keluar adalah warna alami dan asli dan itu tidak diberi tambahan warna lainnya.

Selain mendapatkan warna, ada juga motif yang juga ikut menempel ke kain. Seperti bentuk daun dan tulang daunnya. 

Menurut Pak Ricky, karena motif unik tersebut banyak pelanggan yang memesan datang dari luar negeri, seperti Prancis.

Harga kain

Karena bahan-bahan berasal dari alam, tempat wisata yang dikelolanya seolah ruang penyimpanan yang bakal tak habis-habis.

Kami disuruh melihat kembali hasil dari produk eco dyeing yang berada di dekat beliau. Mulai dari kain, pakaian jadi hingga aksesoris unik lainnya. Oh ya, termasuk bahan-bahan yang digunakan.


Harga untuk sebuah teknik dengan bahan alam ini berkisar 200-400 ribu rupiah. Pak Ricky kembali menginspirasi kami dengan mengatakan

'Jika ingin mencari souvenir unik, datang saja ke sini (Sumowono Bamboo Garden)'.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026

📌 Agenda Kota Semarang Bulan November 2026

🎯 Kisah Oktober: Pas Paket XL Nonaktif, Google AI Plus Pun Ikut "Masuk Angin"

🎟️ Cinema Day 27 Oktober: Strategi Baru Pengusaha Bioskop Menggaet Penonton?

🚗 Pengunjung GIIAS Semarang 2026 Tertahan di Angka 28 Ribuan, Ada Apa?