Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Rumah Malaikat
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film Rumah Malaikat rilis secara resmi di bioskop tanah air tanggal 24 November 2016. Film berdurasi 93 menit ini membawa genre horor dan thriler. Penasaran seperti apa cerita yang ditawarkan?
Kamis ini, saya dihadapkan dengan 2 genre film yang paling banyak ditonton, komedi dan horor. Mewakili horor, film Malaikat tayang bersamaan film Maju Kena Mundur Kena Returns yang mengadopsi film lawas dari Warkop. Namun pada akhirnya pilihan jatuh pada genre horor.
Menawarkan ketegangan dari awal
Sangat jarang menaruh banyak anak-anak lewat film bertema horor. Bahkan, keberadaan mereka memberi nuansa serem yang dipadukan musik seperti ciri khas horor Indonesia.
Rasa penasaran film Rumah Malaikat sendiri akhirnya mampu terjawab setelah menontonnya. Jangan berharap bahwa embel-embel Malaikat akan membuat film ini penuh motivasi atau kepahlawan.
Rumah Malaikat merupakan panti asuhan yang menjadi fokus utama dari film ini dan menjadi background secara keseluruhan.
Sejak awal diputar, film ini sudah menawarkan ketegangan yang tidak disangka-sangka. Meski bisa sedikit bernapas saat jeda, film ini terus saja membuat penasaran dengan apa yang terjadi?
Dalam hati saya bilang, saya tidak salah nonton sepertinya. Adrenalin saya naik turun ditengah keriuhan suara penonton yang kali ini cukup ramai. Banyak perempuan generasi Y yang ikut menonton.
Cerita
Datang dengan tugas akhir yang sedang mewancarai anak panti, seorang mahasiswi yang diperankan Mentari De Marelle sebagai Alexandra harus dihadapkan dengan berbagai penampakan.
Bukan hanya 1 atau 2 penampakan, lebih dari itu, suasana yang terbangun memang lebih serem dari yang dibayangkan bahwa mereka adalah anak-anak.
Perlahan - lahan, penonton digiring pada sebuah cerita yang terjadi pada masa lalu dan yang sedang terjadi saat ini merupakan buah dari kejadian yang menimpa penghuni panti.
Alexandra yang berusaha memecahkan, malah tersandera dengan tujuan utamanya yang ternyata bukan sekedar mengerjakan tugas akhir. Ia sedang mencari seseorang yang lama menghilang.
Dalam rumah panti yang bangunannya sangat lama ini, Alex harus berhadapan dengan pemilik panti dan karyawannya. Aktris senior, Roweina Umboh yang berperan sebagai ibu panti rupanya sangat berperan penting untuk semua kejadian.
Disaat sedang berupaya menahan rasa takut dengan suara-suara penonton di belakang tempat duduk saya, cerita tentang anak-anak panti yang tinggal di sana tidak ketinggalan memberi cerita lain yang menarik.
Satu anak laki-laki memiliki kemampuan melihat apa yang tidak terlihat. Konfliknya dengan anak-anak lain menjadi bumbu tersendiri.
Diantara cerita-cerita yang terus memuncak, ada satu tokoh kunci yang sempat luput dari pandangan saya bahwa ia merupakan benang merahnya.
Pada akhirnya, ruangan yang terkunci dan berada di lantai 2 bisa dibuka juga. Saya pikir akan menemukan berbagai potongan tubuh atau sesuatu yang menyeramkan. Ternyata tidak.
Sang sutradara, Billy Christian, akhirnya menutup film ini dengan adegan pertemuan Alex dan seseorang yang dicarinya selama ini. Ibu panti dan karyawannya harus berjibaku dengan sesama dan selesai.
Sebagai pemeran utama Mentari De Marelle sebenarnya sudah bermain dengan sangat baik, tapi tetap saja saya masih menyukai Shandy Aulia untuk genre horor. Entah, apakah ini semacam tantangan untuk Mentari bila melihat beberapa filmnya sebelumnya, genre ini masih baru baginya.
Sedangkan bagi Roweina Umboh, aktis senior ini memiliki pengalaman lebih banyak yang membantunya memerankan tokoh sebagai ibu panti lebih baik.
Para pemain lainnya yang mendukung film ini adalah Dayu Wijanto sebagai tangan kanan atau karyawan ibu panti dan Agung Saga, pria yang bekerja sebagai tukang kebun dan punya kekurangan dalam segi fisik. Untuk nama anak-anak, saya belum mendapatkan detailnya.
...
Saya suka dengan ketegangan yang diberikan dari awal hingga akhir. Ceritanya juga menarik dan sangat jarang menemukan cerita seperti ini (buat saya). Oh ya, saya juga baru tahu kalau sang sutradara Billy Christian aktif di blog, update terbarunya ada project film Jelangkung 13 tahun kemudian. Wah, menarik. Salah satu film favorit juga soalnya.
Catatan untuk film ini meski sudah membuat penonton di Semarang lumayan banyak yang menonton di jam pertama film ini dirilis adalah kurangnya harapan saya tentang bagian akhir cerita. Padahal saya berharap ada potongan tubuh manusia, bukan kulit saja, atau membayangkan film House of Wax, dimana manusia diawetkan.
Padahal kategori umurnya sudah 17 tahun keatas, apakah karna takut ada bayangan larangan badan sensor atau memang cukup aman dengan yang ada.
Saya berharap film ini dapat bertahan lebih sepekan. Selain menawarkan ketegangan dari awal hingga akhir, ceritanya juga menarik dari yang pernah saya tonton.
Semenjak kembali menggunakan layanan internet operator dari XL Axiata bulan Juli kemarin , ada pertanyaan besar dipikiran kami tentang paket Xtra Combo Flex yang tidak tersedia di aplikasi MyXL. Apakah hanya kami saja yang kebingungan? Dikenalkan sejak bulan Maret 2022, paket Xtra Combo Flex ternyata sangat menarik dari sisi pembagian kuota, seperti bonus hingga gratis berlanggananan konten Vidio. Tidak ada di aplikasi Hanya saja, sebagai pengguna baru yang membeli kartu perdana yang langsung mendapatkan paket Xtra Combo Flex, kami agak bingung saat mencarinya di aplikasi MyXL. Apalagi bonus-bonus yang harus diklaim lewat aplikasi, mau tidak mau membuat kami harus menginstal aplikasinya ke smartphone. Di mana paket Xtra Combo Flex? Dari daftar paket utama pun tidak ada tersedia sama sekali. Sudah kami cari-cari dibeberapa menu lainnya, hasilnya tetap nihil. Paket yang tersedia di paket utama (lihat gambar) hanya ada Akrab, Akrab Mini, Xtra Combo Plus, Xtra Combo Mini, Xtra On dan ...
Membaca kabar mengenai Pemerintah Kota Semarang yang secara resmi telah meluncurkan rangkaian peringatan HUT ke-479 di Halaman Balai Kota baru-baru ini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal bagi kami. Bukan soal kemeriahan acaranya, melainkan soal logo HUT-nya! Tumben sekali kami sampai melewatkan informasinya, atau memang sengaja tahun ini hadir tanpa prosesi lomba desain logo Hari Jadi Kota (HJK)? Tahun 2026 ini, Kota Semarang menginjak usia ke-479. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu momen yang paling kami tunggu-tunggu sebagai pengelola blog ini adalah kemunculan visual identitas resmi Hari Jadi Kota Semarang (HJKS). Namun, ada yang terasa sangat berbeda kali ini. Jika biasanya sejak bulan Februari atau Maret lini masa media sosial sudah riuh dengan pengumuman lomba desain logo yang memancing kreativitas warga, tahun ini suasananya justru senyap. Tidak ada sayembara, tidak ada kompetisi ide, dan tentu saja tidak ada pengumuman pemenang seperti yang rutin kami dokumentasikan ...
Memasuki bulan April yang jatuh pada hari Rabu, suasana Semarang biasanya mulai bertransisi. Jika Maret lalu kita khusyuk dengan momen Ramadan dan Idulfitri, bulan ini kota ini terasa kembali bergairah dengan deretan acara yang lebih "berwarna". Hari ini cuaca Kota Semarang terpantau cerah. Entah apakah ini pertanda bahwa musim hujan telah berakhir dan Semarang kembali ke "setelan awal"—yang katanya, tiap orang yang tinggal di sini punya matahari sendiri-sendiri saking panasnya. Suara-suara tentang panasnya Semarang terdengar seru namun terkadang juga haru, terutama bagi mereka yang baru merantau atau tinggal di sini. Padahal, jika mau jujur dan realistis, masih ada kota lain yang jauh lebih panas dibanding Semarang. Menghadapi cuaca dan kondisi ekonomi saat ini memang perlu strategi; tetap kreatif tanpa harus membuat diri sendiri burnout atau kelelahan. Tema Besar: Perempuan Berdaya Jika melihat cover yang kami sematkan di halaman ini, tebakanmu benar bahwa tema ...
Entah apa yang terjadi dengan semangat kami belakangan ini. Setelah sebelumnya melewatkan Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin , kami kembali harus menerima kenyataan gagal hadir secara fisik pada gelaran Karnaval Paskah Kota Semarang yang berlangsung tanggal 17 April 2026 kemarin. Padahal, suasana kemeriahannya sudah sangat terasa bahkan sebelum acara dimulai. Meski kali ini kami hanya bisa memantau dari kejauhan dan layar digital, ada satu hal yang sangat mencolok: skala acara tahun ini terasa jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan tahun 2025. Perasaan "lebih ramai" itu rupanya bukan sekadar asumsi, melainkan fakta yang tercermin dari data di lapangan. Lonjakan Peserta dan Kehadiran Mobil Karnaval Jika pada tahun 2025 jumlah peserta berada di angka sekitar 10.000 orang, tahun 2026 ini jumlahnya melonjak drastis hingga menyentuh angka 15.000 orang . Kenaikan sebesar 50% ini menjelaskan mengapa arus informasi dan dokumentasi di media sosial terasa jauh lebih masif. Salah sa...
Ada hal unik yang kami sadari sejak setahun terakhir menggunakan laptop berbasis Chromebook, terutama jika dibandingkan dengan Windows atau Mac. Biasanya, pada menu tombol power (daya) di laptop Windows, kita akan dengan mudah menemukan opsi Sleep . Namun di Chromebook, opsi itu seolah hilang. Benarkah demikian? Bulan April ini menjadi kali kedua kami mengangkat topik Chromebook di blog. Akhir-akhir ini kami memang sedang bersemangat membagikan pengalaman seputar perangkat ini. Kali ini, kami ingin mengulas sesuatu yang sederhana namun krusial bagi calon pengguna. Filosofi "Instant-On" Bagi pengguna yang baru melirik Chromebook, ketiadaan tombol ini tentu memicu kebingungan. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya banyak di depan laptop dalam durasi lama. Mode sleep (tidur) sangat berguna agar laptop tidak perlu bolak-balik dimatikan melalui shutdown , yang tentunya lebih menghemat waktu. Sebenarnya, alasan utamanya bukan karena fiturnya tidak ada, melainkan adanya perubahan ...
Comments
Post a Comment