📌 Agenda Kota Semarang Bulan Mei 2026
Nama bangunan Monod Diephuis & Co tentu tidak asing bagi kami yang kerap lalu lalang di kawasan Kota Lama Semarang. Namun, untuk mengenal sejarahnya lebih dekat secara mendalam, baru kali ini kesempatan itu datang. Sebuah tur lanjutan dari agenda yang pernah kami ikuti sebelumnya, kini bergeser ke gedung ikonik yang usianya sudah berdiri satu abad lebih. Mari ikuti catatan perjalanan kami.
Saat pertama kali mendapatkan informasi dari sesama rekan blogger tentang acara bertajuk Heritage Walking Tour ke-2, kami langsung dibuat penasaran dengan tema yang diangkat. Apalagi kali ini destinasinya berfokus pada salah satu sudut historis di Kota Lama.
Mengingat agenda tur pertama sebelumnya, kami sempat diajak
Seperti biasa, tur edukatif ini mengambil titik kumpul di Rumah PoHan. Acara yang digelar pada hari Minggu siang, 26 April 2026, mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB ini, dibuka secara cuma-cuma alias gratis dengan kuota peserta yang terbatas. Tentu saja, mengikuti tur sejarah seperti ini jangan berharap lebih untuk mendapatkan fasilitas makan siang. Sebagai gantinya, kami justru disuguhi "asupan" narasi sejarah berbobot yang sukses memperkaya wawasan.
Inisiatif keren ini digagas oleh Widya Khoirunnisa bersama komunitasnya, Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang. Pada edisi kedua ini, mereka berkolaborasi apik dengan Kalam Semasa, sebuah platform kolektif kreatif yang jeli mengemas riset sejarah kaku menjadi aktivitas walking tour yang segar, interaktif, dan digemari generasi muda. Tidak ketinggalan, agenda ini turut menggandeng Rumah PoHan serta Sanggar Monod Laras sebagai mitra ruang sekaligus narasumber utama.
Setelah sesi saling berkenalan antarpeserta di Rumah PoHan dan pemaparan singkat mengenai maksud serta tujuan acara, panitia segera mengajak kami semua untuk beranjak pergi berjalan kaki menuju bangunan utama Monod Diephuis & Co.
| Cek Instagram @kalamsemasa untuk event lainnya. |
Jarak dari Rumah PoHan menuju Gedung Monod terhitung sangat dekat, kurang dari 300 meter dengan waktu tempuh berjalan kaki santai sekitar 3 menitan saja. Karena lokasinya yang berdekatan ini, sepeda yang kami kendarai untuk menuju ke lokasi sementara waktu diparkir dengan aman di area Rumah PoHan, yang bangunannya terintegrasi menjadi satu kesatuan dengan Tekodeko.
Akhirnya kami tiba tepat di muka bangunan putih yang berdiri kokoh dan megah di salah satu sudut strategis kawasan Kota Lama Semarang. Pilar-pilar vertikalnya yang tegas langsung mengingatkan pada karakteristik gaya arsitektur kolonial yang mengutamakan fungsi ruang. Di sinilah, tepat di depan fasad Gedung Monod Diephuis, lini masa cerita masa lalu mulai dibuka.
Saat melangkah masuk menuju bagian dalam interior gedung, pemandu tur kami—seorang mahasiswi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tampil rapi mengenakan almamater kuning khasnya—mengajak seluruh peserta untuk berhenti sejenak di depan sebuah plakat marmer kuno yang tertanam kuat pada dinding pembatas.
Plakat tersebut rupanya merupakan sebuah prasasti peresmian atau yang jamak dikenal dengan istilah gevelsteen (batu penanda). Di atas permukaan marmer tersebut, tertulis sebaris kalimat menggunakan guratan bahasa Belanda kuno yang kondisinya kini sudah mulai memudar dimakan usia:
"Deze laatste steen werd ingemetseld door Maryke Kerlen op den 18den September 1921." (Artinya: Batu terakhir ini dipasang oleh Maryke Kerlen pada tanggal 18 September 1921).
Menatap barisan huruf tersebut seketika melempar imajinasi kami kembali ke suasana satu abad yang lalu, membayangkan kesibukan aktivitas perdagangan di masanya.
Puas mengamati detail prasasti misterius Maryke Kerlen, langkah kaki kami kemudian diarahkan untuk berkumpul di area ruang tengah gedung yang berukuran cukup luas. Atmosfer klasik di dalam ruangan yang didominasi oleh ubin lantai tegel lawas serta deretan jendela kayu berukuran besar nan estetik itu seketika berubah hening saat seorang tokoh sepuh berjalan bersahaja melangkah ke tengah-tengah kerumunan peserta tur.
Beliau adalah Pak Tjahjono Rahardjo, seorang arsitek, akademisi, sekaligus pakar sejarah tata kota Semarang kawakan yang dalam kesempatan kali ini bertindak sebagai pembimbing dari Sanggar Monod Laras.
Dari penjelasan mendalam Pak Tjahjono mengenai prasasti di depan tadi, kami menyelami sebuah fakta sosiologis yang sangat unik. Beliau menceritakan bahwa berbeda jauh dengan kondisi zaman sekarang di mana seremoni peresmian atau peletakan batu pertama sebuah gedung bertingkat hampir selalu diidentikkan dengan kehadiran jajaran pejabat formal maupun direksi pria, di era kolonial abad ke-19 hingga awal abad ke-20 silam, tradisi meletakkan batu pertama (eerste steenlegging) atau batu terakhir (laatste steen) justru kerap kali dipercayakan kepada kaum perempuan atau anak perempuan dari sang pemilik firma dagang.
Dalam kacamata budaya masyarakat Eropa kala itu, sosok perempuan dipandang secara filosofis sebagai simbol domestik penentu keharmonisan, pembawa doa, sekaligus perlambang "kesuburan". Pak Tjahjono menjelaskan bahwa dengan melibatkan perempuan dalam peletakan batu tersebut, terselip sebuah harapan besar agar bisnis komoditas yang dijalankan di dalam gedung dapat berkembang subur, mendatangkan keberuntungan, serta memiliki fondasi yang berumur panjang.
Sebuah kontras pergeseran budaya yang menarik untuk dicermati; melihat bagaimana sebuah seremoni konstruksi bergeser dari simbol harapan domestik yang hangat menjadi urusan formalitas birokrasi modern.
Tidak berhenti di situ, melalui untaian kalimat penuturan yang disampaikan secara lugas, sebuah kejutan sejarah baru yang tak terduga akhirnya diungkap oleh Pak Tjahjono. Gedung putih yang kini dialihfungsikan menjadi ruang kreatif bagi Sanggar Monod Laras tersebut ternyata menyimpan guratan cetak biru arsitektur dari sang maestro legendaris bentukan Hindia Belanda, Herman Thomas Karsten!
Bagaimana mungkin sebuah firma perdagangan yang awalnya bergerak di sektor makelar komoditas hasil bumi seperti Monod Diephuis & Co bisa berjodoh dengan visi tata ruang modern ala Thomas Karsten? Lalu, apa hubungan erat yang mengikat antara struktur ruang di dalam gedung ini dengan kemegahan desain "kolom cendawan" di bangunan Pasar Johar Semarang yang sangat melegenda itu?
Hubungan arsitektural dan kuliah kilat sejarah dari Pak Tjahjono ini akan kami ulas secara lengkap pada artikel bagian kedua. Tunggu kelanjutannya!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment