📌 Agenda Kota Semarang Bulan Mei 2026
Semenjak kabar peralihan armada BRT Trans Semarang menuju bus listrik mulai berembus, kami selalu penasaran dengan kelanjutan informasinya. Beruntung, sebuah acara menarik hadir dan menjadi momen berharga bagi kami untuk menggali lebih dalam seputar perkembangan transportasi di Kota Atlas. Sebuah forum diskusi bermutu yang hampir saja kami lupakan ke dalam draf, padahal kami sempat hadir langsung di sana.
Semua bermula di bulan Februari 2026. Saat pamflet acara bertajuk "Elektrifikasi Trans Semarang: Jalan Menuju BRT Ramah Lingkungan & Tangguh Iklim" lewat di beranda Instagram, kami tanpa pikir panjang langsung mendaftarkan diri. Bersyukur, kami lolos kurasi dan berkesempatan menjadi salah satu peserta yang hadir pada Sabtu siang, 14 Februari 2026.
Awalnya kening kami sempat berkerut melihat lokasi acaranya. Tempatnya terbilang baru dan belum pernah kami datangi sebelumnya. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Sayangnya, kali ini kami tidak memilih opsi bersepeda—yang biasanya jadi moda transportasi andalan kami saat menghadiri kegiatan di dalam kota.
Lantaran terlalu asyik beraktivitas di depan layar laptop hingga memotong estimasi waktu perjalanan, kami terpaksa memesan transportasi online demi mengejar waktu agar bisa tiba tepat waktu di lokasi.
Jujur saja, melihat daftar pembicara yang ada di poster, tidak ada satu pun wajah yang familiar bagi kami. Maklum, sebagai blog independen yang lebih sering mempublikasikan konten seputar pariwisata, kuliner, dan event komunitas, jangkauan kami terhadap para pakar transportasi memang masih terasa berjarak.
Namun, karena agenda kali ini mengupas tuntas masa depan Trans Semarang, kesenjangan informasi tersebut tidak menyurutkan langkah kami. Terlebih lagi, forum bertajuk Angkot (Ayo Ngobrolin Kota) edisi ke-12 ini membawa gerbong kolaborasi dari berbagai pihak yang solid mengawal isu transportasi publik. Sebut saja FDTJ (Forum Diskusi Transportasi Jakarta), Transport for Semarang, ITDP Indonesia, Dishub Kota Semarang, Trayek, BAHANA, Clean Mobility Collective, hingga SEAMA.
Sebelum masuk ke inti pembahasan teknis seputar armada bus listrik, forum sore itu dibuka dengan sebuah pemaparan yang cukup membanggakan bagi warga Kota Atlas. Berdasarkan visual data yang ditampilkan di layar monitor, Kota Semarang ternyata baru saja memboyong penghargaan internasional pada September 2025 lalu di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam ajang Southeast Asia Mobility Award (SEAMA) 2025, Semarang sukses meraih predikat Most Promising Public Transport Commuter-Friendly City. Penghargaan ini merupakan pengakuan regional atas keunggulan Semarang dalam aspek pengembangan aksesibilitas, aspek keamanan, serta kenyamanan sistem transportasi umum massal. Di kancah nasional, Semarang bersanding dengan Jakarta dan Surabaya yang meraih penghargaan serupa di kategorinya masing-masing.
Menariknya, slide presentasi sore itu tidak hanya memajang urusan bus kota. Ada sub-kategori lain yang cukup menarik perhatian kami, yaitu Bicycle-Friendly City—sebuah penghargaan khusus untuk kota-kota yang dinilai progresif dalam mendorong kebijakan ramah pesepeda serta penyediaan sarana-prasarana jalur sepeda yang aman. Untuk perwakilan Indonesia, penghargaan pesepeda ini sukses diraih oleh Jakarta dan Bandung.
Melihat rekam jejak positif di sepanjang tahun 2025 inilah, kami merasa langkah diskusi mengenai elektrifikasi Trans Semarang menjadi sangat relevan. Prestasi internasional yang sudah digenggam tentu harus terus dirawat, dan transisi menuju armada ramah lingkungan adalah lompatan besar berikutnya yang wajib dikawal bersama.
Menemukan titik lokasi Collabox Creative Hub di Jalan Indraprasta No. 74 sebenarnya tidak terlalu sulit. Hanya saja, karena saat itu sedang ada pengerjaan renovasi gedung, akses pintu masuk utamanya dialihkan. Kami pun sempat berputar sekali sebelum akhirnya berhasil menjejakkan kaki di area dalam.
Begitu melangkah masuk, atmosfer ruangan langsung terasa selaras dengan tema hijau yang diangkat. Desain ruangan yang didominasi jendela kaca besar berpadu apik dengan dekorasi tanaman hijau yang menjuntai dari langit-langit. Kombinasi ini menghadirkan ambience yang adem dan menyegarkan mata.
Format talkshow dikemas secara kasual dan intim. Kursi para pembicara ditata sejajar di barisan depan tanpa pembatas yang kaku dengan audiens. Tepat di samping area utama, berdiri sebuah standing banner yang memuat kutipan menohok:
“You can’t understand a city without using its public transportation.”
Sebuah kalimat reflektif yang langsung terasa mak jleb bagi siapa saja yang membaca. Sore itu, deretan kursi hitam yang disediakan panitia tampak terisi penuh oleh antusiasme anak muda, penggiat komunitas, serta warga kota yang menaruh perhatian lebih pada denyut nadi transportasi massal di Semarang.
Meskipun Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang berhalangan hadir, jalannya diskusi tetap berbobot dan padat informasi karena diwakili langsung oleh Bapak Haris Setyo Yunanto, S.STP., M.Si. selaku Kepala BLU UPTD Trans Semarang. Sebagai motor penggerak operasional di lapangan, kehadiran beliau justru krusial untuk menjawab rasa penasaran publik terkait peta jalan peremajaan armada, kesiapan rute koridor, hingga tantangan investasi infrastruktur berbasis listrik (Electric Vehicle).
Dimensi teknis dan makro kemudian diperluas oleh Ciptaghani Antasaputra (Senior Transport & Design Engineering Associate ITDP Indonesia) yang membedah cetak biru perancangan sistem BRT listrik yang ideal dari sudut pandang rekayasa desain. Sementara itu, jaminan inklusivitas layanan dari kacamata pengguna dikawal ketat oleh Theresia Tarigan (Founder Komunitas Peduli Transportasi Semarang) bersama Ma'ruf Tsaghani Purnomo (Ketua Divisi Kajian Forum Diskusi Transportasi Semarang).
Menariknya, salah satu momen paling berkesan sore itu justru lahir dari bangku penonton. Duduk membaur bersama peserta lain, tampak hadir sosok pengamat senior Pak Djoko Setijowarno, Pengajar Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Walau tidak duduk di jajaran podium utama, Pak Djoko turut memperkaya khazanah diskusi dengan mempresentasikan draf slide bertajuk “Musim Semi Pembangunan Bus Kota Modern di Indonesia”.
Paparan ringkas dari beliau sukses membuka mata kami mengenai peta persebaran sistem bus trans dan adopsi bus listrik yang tengah berjalan di berbagai wilayah Nusantara. Salah satu fakta menarik yang baru kami ketahui adalah kota Medan yang ternyata sudah melangkah lebih awal dalam menguji coba armada bus bertenaga listrik ini di luar pulau Jawa.
Melihat tingginya dinamika tanya jawab sepanjang acara, ada secercah optimisme bahwa proyek elektrifikasi Trans Semarang bukan sekadar pemanis di atas meja seminar, melainkan bagian dari cetak biru panjang menuju kota yang tangguh iklim.
Sebagai penutup yang manis, seluruh peserta yang hadir tidak pulang dengan tangan kosong. Panitia membagikan sebuah peta saku transportasi umum massal Semarang terbaru. Sebuah panduan taktis yang sangat fungsional, tidak hanya bagi warga lokal yang ingin bermobilitas harian, tetapi juga bagi para pelancong yang ingin menjelajahi sudut-sudut eksotis Kota Semarang menggunakan BRT.
Materi yang dipaparkan oleh masing-masing pembicara sore itu sejatinya terlalu luas jika dirangkum dalam satu halaman. Bagaimana kesiapan teknis dari pihak pengelola Trans Semarang? Dan sekaya apa data persebaran bus listrik di Indonesia yang sempat dibagikan oleh Pak Djoko Setijowarno hingga memicu keinginan kami untuk mengulasnya secara khusus?
Kami akan membedah poin-poin krusial tersebut menjadi artikel terpisah pada publikasi berikutnya. Pantau terus pembaruannya di blog ini!
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment