📌 Agenda Kota Semarang Bulan Juli 2026
Akhirnya terjawab sudah misteri bangunan yang sempat kami tulis di bulan April kemarin. Bangunan baru yang berada di koridor Jalan Jolotundo Semarang ini resmi dihuni oleh Parjo (Pancong & Burjo) yang berkolaborasi apik dengan Padangju. Kehadiran dual-brand ini otomatis menambah daftar tempat nongkrong baru yang strategis di kawasan yang dekat dengan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
Bulan Juni kemarin memang menjadi momen yang sibuk untuk merampungkan proyek bangunan ini. Sebelum resmi dibuka, kami bahkan sempat menebak-nebak jika tempat luas ini disiapkan sebagai sentra kuliner baru untuk mengakomodasi para pedagang kaki lima yang biasa berjualan di sepanjang Jalan Jolotundo. Entah kenapa pemikiran itu terlintas, mungkin karena kami berharap jalur pedestrian di Jolotundo bisa dimaksimalkan kembali fungsinya untuk masyarakat yang ingin berjalan kaki dengan nyaman.
Namun, prediksi kami meleset total! Saat kami melintas kembali di awal bulan Juli, tempatnya ternyata sudah beroperasi. Satu hal yang langsung mencuri perhatian kami dari jalan raya adalah keberadaan ruang biliar dengan sekat kaca transparan yang ikonik.
Melesetnya prediksi kami tidak berhenti di sana. Tempat baru ini rupanya menjadi ajang ekspansi bagi Parjo yang turut menggandeng Padangju dalam satu atap. Bagi yang sering main ke area atas, nama Parjo tentu sudah sangat familiar. Brand yang besar di daerah Tembalang ini memang sangat identik dengan kultur nongkrong mahasiswa Semarang Atas yang santai, dinamis, dan ramah kantong.
Kehadirannya di kawasan Jolotundo seolah menjadi simbol "invasi" kultur nongkrong Semarang Atas ke area Semarang Bawah yang karakteristik pasarnya jauh lebih heterogen. Tentu ini menjadi hal menarik untuk dipantau ke depan: apakah formula sukses Tembalang bakal sama galaunya di area yang lebih dekat dengan pusat kota dan pemukiman padat ini? Melihat animo pengunjung yang memadati lokasi saat kami mampir, tampaknya respons pasar sangat positif.
Fasilitas biliar yang dihadirkan di sini pun menarik untuk dibedah. Di tangan Parjo, biliar tidak lagi terkesan eksklusif di dalam pool house yang premium atau tertutup, melainkan melebur menjadi satu dengan konsep warung rakyat yang merakyat dan buka 24 jam penuh.
Dari sisi bisnis, ini adalah strategi cross-selling yang sangat cerdas. Padangju biasanya memiliki jam sibuk dan omset kuat di waktu siang hingga malam hari (jam makan siang dan makan malam). Sebaliknya, Parjo dengan menu pancong, mi instan, kopi, dan fasilitas biliarnya akan panen besar sejak sore hingga dini hari. Kedua merek ini saling mengisi kekosongan waktu sibuk (peak hours) masing-masing selama 24 jam non-stop.
Bisa dibayangkan bagaimana konsep one-stop culinary ini menjadi kekuatan utama di Jolotundo. Perpaduan antara camilan manis seperti kue pancong kekinian atau mi instan khas burjo, bersanding dengan opsi makanan berat nasi Padang yang mengenyangkan di bawah satu atap yang luas.
Jika sebelumnya kami hanya bisa memandangi ruang biliar transparan ini dari luar, akhir pekan kemarin (4 Juli) kami akhirnya menyempatkan diri untuk mampir dan melihat langsung dari dekat.
Fasilitas ruang biliarnya sendiri menyediakan 2 meja dengan tarif sewa yang sangat terjangkau, yaitu Rp20.000 per jam. Posisi ruangannya dibuat semi-indoor dengan sekat kaca penuh yang terang benderang. Desain transparan ini sukses memicu rasa penasaran pengunjung di luar untuk ikut mencoba, terutama karena tempat ini beroperasi 24 jam setiap hari.
Keluar dari area biliar, ada ruang tengah utama yang sangat lapang. Konsepnya mengusung gaya semi-outdoor dengan atap galvalum tinggi serta struktur rangka terekspos. Desain atap tinggi seperti ini membuat sirkulasi udara terasa lega, adem, dan bebas pengap untuk tempat nongkrong berkapasitas besar. Instalasi lampu gantung di area ini juga memberikan impresi visual yang modern dan hidup saat malam hari.
Bagi pengunjung yang kurang nyaman dengan asap rokok, Parjo menyediakan ruangan khusus non-smoking area yang dilengkapi dengan AC. Keberadaan ruang ber-AC ini terbilang jenius untuk ukuran warung sekelas burjo atau pancong, karena otomatis menjadi daya tarik bagi kaum pekerja maupun mahasiswa yang membutuhkan ruang nyaman untuk Work From Cafe (WFC) atau sekadar nugas dengan tenang.
Tidak ketinggalan, ada juga area lesehan di ruang utama yang selalu memiliki nilai plus tersendiri di Semarang. Opsi duduk lesehan ini menghadirkan atmosfer yang lebih hangat, akrab, dan bersahaja—sangat cocok untuk rombongan keluarga kecil atau komunitas yang ingin mengobrol santai dalam waktu lama. Sebagai pelengkap hiburan, mereka juga menyediakan fasilitas PS Box bagi pengunjung yang ingin bermain Playstation bersama teman-teman agar tidak bosan saat nongkrong.
Kami menutup kunjungan malam minggu kemarin dengan menikmati segelas Kopi Susu Parjo seharga Rp13.000. Kehadiran pusat tongkrongan baru berskala besar di Jalan Jolotundo ini tentu membawa dinamika baru bagi lanskap kuliner lokal sekitar. Kira-kira, bagaimana kehadiran warung 24 jam dengan fasilitas sekomplit ini akan memengaruhi kedai-kedai kopi lokal yang sudah lebih dulu eksis di sepanjang jalur Jolotundo? Menarik untuk kita ulas di artikel selanjutnya.
Catatan: Parjo cabang Semarang Timur (Jolotundo) ini baru saja melakukan soft opening pada tanggal 30 Juni 2026. Tulisan yang kami bagikan ini murni merupakan ulasan mandiri dan bukan merupakan konten berbayar maupun bentuk kerja sama komersial.
Artikel terkait :
Comments
Post a Comment