Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026

Image
Maret 2026 dibuka dengan sapaan cuaca cerah di hari Minggu, setelah semalam sebelumnya Semarang diguyur "hujan mewah" yang menyisakan genangan di beberapa ruas jalan. Memasuki bulan ketiga ini, intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi hingga akhir bulan. Jadi, sedia payung sebelum hujan tetap menjadi saran paling realistis, meski teriknya matahari Semarang juga siap menemani aktivitas Anda. Momen Puncak: Mudik dan Lebaran 1447 H Ramadan yang masih berlangsung dan berlanjut hingga pertengahan Maret membuat persiapan menjelang Idulfitri kian sibuk. Puncaknya, Idulfitri 1447 H diprediksi jatuh pada sekitar tanggal 20 Maret 2026. Bagi warga lokal, bersiaplah menghadapi "aspal ibu kota" yang semakin padat seiring kedatangan para pejuang rejeki dari perantauan. Bertemu sanak saudara memang menyenangkan, namun saat harus keluar rumah untuk liburan di tengah kemacetan kota, itulah tantangan sesungguhnya. Bagi Anda yang berencana mudik keluar Semarang, manfaatkan progra...

Festival Bubak Semarang: Menyingkap Kembali Kisah Kampung Lama di Tengah Kota

Kampung Sekayu, yang belakangan jarang kami singgahi, mendadak ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di Instagram. Akhir Mei lalu, ada sebuah kegiatan bertajuk Pameran Ruang Publik yang digelar di sana. Seberapa menarik sih acara ini?

Nama Festival Bubak Semarang sebenarnya sudah tak asing lagi. Festival ini sudah beredar sejak awal 2025, bahkan sempat digelar di Menara Syahbandar Semarang pada Januari lalu. 

Sayangnya, kami baru tahu setelah acaranya selesai, padahal beberapa posting di blog kami ada mengambil dokumentasi di area Kampung Sleko (lokasi Menara Syahbandar). Memang belum beruntung, ya.

Memahami Makna di Balik "Bubak"

Karena penasaran dengan jalannya acara, kami pun langsung menyambangi akun Instagram resmi mereka di @festivalbubaksemarang. Di sana, dijelaskan bahwa Festival Bubak Semarang terinspirasi dari kata "Bubak" yang dalam bahasa Jawa berarti "bukak" atau "membuka".

Dari makna tersebut, Gambang Semarang Art Company, sebagai penyelenggara, menjadikan "Bubak" sebagai inspirasi untuk menciptakan sebuah peristiwa budaya. 

Tujuannya adalah mempertemukan tradisi 'bubak' dalam masyarakat Jawa dengan kehidupan masa kini, lalu mengimplementasikannya kembali dengan melibatkan warga dan komunitas pada ruang-ruang publik di Kampung Lama.

Konsep festival ini diarahkan pada unsur-unsur yang turut berperan dalam 'membuka' keberadaan Kampung Lama di Semarang, seperti tokoh leluhur, keberadaan artefak, dokumen sejarah, tradisi lisan, dan sebagainya.

Ketika Rencana Terhalang Hujan

Usai dari Kampung Sleko, Festival Bubak Semarang melanjutkan aktivitas berikutnya di Kampung Sekayu. Keduanya merupakan perkampungan dengan nilai sejarah tinggi di Kota Semarang.

Kampung Sekayu sendiri dikenal dengan ikon utamanya, Masjid Sekayu, yang merupakan salah satu masjid tertua selain Masjid Layur. Dengan sejarah panjangnya, Kampung Sekayu dianggap perkampungan kuno yang masih bertahan hingga sekarang, apalagi letaknya strategis di tengah kota, dekat Mal Paragon Semarang.

Kami sendiri sempat bimbang apakah akan datang atau tidak setelah melihat jadwal acara dari tanggal 30 Mei hingga 1 Juni 2025. Setelah memastikan ingin hadir pada tanggal 31 Mei karena ada acara utama yang digelar Sabtu malam, kami sudah bersiap-siap.

Namun, seketika hujan lebat turun di sekitar tempat tinggal kami, benar-benar meruntuhkan semangat untuk pergi. Bersepeda di tengah hujan terasa sangat merepotkan, apalagi tanpa ada undangan peliputan resmi. Akhirnya, niat kami pun gagal total.

Suasana Hari Terakhir: Sebuah Kisah yang Tak Terduga

Meski tidak bisa mendapatkan momen utama atau "berita panas" dari gelaran acara, kami akhirnya mendatangi Kampung Sekayu pada hari terakhir, yaitu 1 Juni.

Saat tiba di lokasi, suasana pagi yang masih sepi mendadak terasa hidup dan penuh harapan. Itu karena seorang bapak tua yang kami temui langsung antusias bercerita tentang kemeriahan acara semalamnya. 

Kampung Sekayu terasa hidup, bahkan di tengah gerimis yang sesekali datang. "Ini kali pertama rasanya ada kegiatan seperti ini," ujar si Bapak dengan mata berbinar. Pujian dan kekagumannya terhadap acara itu menular pada kami yang masih berkeliling melihat-lihat suasana.

Tidak terasa, lebih dari satu jam kami berada di Kampung Sekayu. Suasana yang disajikan sungguh mengesankan dan penuh warna-warni, dari jejak sejarah hingga program-program menarik yang disuguhkan.

Satu hal yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Dana Indonesiana sebagai sponsor utama. Nama ini memang "menyilaukan mata," mengingat dana tersebut juga digunakan dalam acara-acara besar yang diadakan di Kota Lama.

Melihat kesuksesan di Kampung Sekayu dan jejaknya di Kampung Sleko, kami jadi bertanya-tanya, kira-kira kampung lama mana lagi yang akan "dibukakan" kisahnya oleh penyelenggara berikutnya?

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📍 Cardea Semarang Resmi Buka di Jangli, Hadirkan Konsep Physio-Pilates Pertama

Mengawinkan Modem M3Y dengan Kartu 4G Smartfren

👩‍💻 Hari Perempuan Sedunia 2026: Kabar Galau Gandjel Rel dan Estafet Semangat di SDK Semarang

🕌 Menjemput Maghrib di Jantung Kota: Tradisi Buka Puasa di Masjid Raya Baiturrahman Semarang

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Maret 2026