Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Mei 2026

Image
Kota Semarang memasuki usia ke-479 tahun ini. Sebuah angka yang menandai kematangan perjalanan panjang sejak disahkan oleh Sultan Hadiwijaya pada tahun 1547 silam. Memasuki bulan Mei, atmosfer perayaan sudah terasa di berbagai sudut kota. Bagi warga maupun wisatawan yang berencana berkunjung, inilah momen terbaik untuk ikut larut dalam kemeriahan Hari Jadi Kota Semarang (HJK) . Mari tandai kalender Anda, berikut adalah rangkuman agenda yang akan mewarnai Kota Atlas sepanjang bulan Mei 2026. Tema HJK 479: Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat Tahun ini, Pemerintah Kota Semarang mengusung tema "Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat" . Narasi yang dibawa bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ajakan kolektif. Kami melihat adanya upaya kuat untuk menyatukan gerak antara pemerintah dan warga. Fokus utamanya adalah integrasi nilai sejarah dengan transformasi modern. Ambisi yang ingin dicapai cukup tinggi: mewujudkan Semarang sebagai kota yang bersih, sehat, cerdas, dan ...

Take Away Kala PPKM Darurat

Kami sedang menunggu pesanan kami selesai di depan pintu sebuah tempat makan. Beberapa pengemudi ojek online juga sedang menunggu. Pembatasan kali ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya, sangat ketat. Bahkan tidak ada kendaraan yang lewat di depan rumah makan ini.

PPKM Darurat resmi diberlakukan tanggal 3 Juli kemarin. Dan dengar-dengar bakal diperpanjang hingga 6 minggu ke depan. Kabar buruk bagi pelaku usaha dan para pekerja. Ah tidak, semua sektor terdampak. 

Momentum

Ketika orang-orang dibatasi untuk tidak keluar rumah, tingkat konsumsi masyarakat tentu berpengaruh. Namun dari kacamata kami yang sekedar pengamat, PPKM Darurat adalah momentum.

Seperti yang kami lakukan saat sedang menunggu makanan yang dipesan. Di pintu rumah makan tersebut dituliskan 'Take Away Only' atau bawa pulang. 

Konsep ini bukan sesuatu yang baru, hanya saja kala PPKM Darurat hampir semua pemilik bisnis yang berhubungan dengan makanan, baik restoran hingga mal, menerapkan hal ini.

Kami pikir ini adalah momentum bagi pemilik bisnis yang terkait makanan atau yang berhubungan dengan kebutuhan lainnya. Sudah saatnya bagi yang belum menerapkannya. 

Belajar dari pemain besar seperti restoran cepat saji semacam KFC atau McD. Tentu tidak mudah, tapi tetap harus dicoba.

Apalagi dengan bantuan aplikasi pemesanan online yang sudah menerapkan pesan makanan lewat pengemudi mereka. 

Meningkatkan kualitas

Sudah waktunya mengikuti perkembangan zaman, di mana kemudahan dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Memang mudah mengatakannya, tapi inilah yang terjadi saat ini.

Bila PPKM Darurat benar-benar diperpanjang, pemilik bisnis sudah saatnya meningkatkan kualitas pemesanan produk mereka kepada pelanggan.

Jangan sampai pelanggan yang sudah bertahun-tahun, harus pergi karena restoran yang mereka sukai tidak meningkatkan kualitas, seperti tidak menerima pesanan atau bungkus pesanan dibuat sembarangan.

Pemilik bisnis tidak perlu mengubah banyak hal atau hal besar, mulailah yang sederhana. Mungkin belum mendaftarkan ke aplikasi pemesanan. Atau malah berinisiatif membangun bisnis lewat media sosial. 

Tingkatkan kemasan tempat makanan lebih baik. Dari sisi desain, bungkusan dan memberikan sesuatu yang tak pernah dipikirkan para pelanggan.

Perlu diperhatikan juga soal waktu, lebih cepat lebih baik. Bukan untuk menurunkan kualitas, tapi melihat  bagaimana cara berpikir pelanggan atau pemesan (driver ojol) yang sedang menunggu.

...

Tidak mudah, tapi setidaknya bisa dicoba. Sedangkan yang sudah menerapkannya, lebih banyak dipromosikan. Khususnya media sosial. Buat strategi pemasaran yang menarik dan unik.

PPKM Darurat adalah kesempatan dan juga tantangan.

Artikel terkait :

Comments

Popular posts from this blog

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Mei 2026

Kenapa Paket Xtra Combo Flex Tidak Ada di Aplikasi MyXL ?

⚡ Wajah Baru Sudut Brigjend Katamso: Saat Lokasi Strategis Menjadi Saksi Evolusi Elektrik

🏙️ HUT Kota Semarang ke-479: Absennya Tradisi Lomba Logo, Fokus ke Layanan Publik?

🥐 Toko Kue Gambang: Antara Ganjel Rel Modern dan Riuh Media Sosial