Favorit

📌 Agenda Kota Semarang Bulan November 2026

Image
Bulan November selalu lekat dengan ingatan kolektif kita pada Hari Pahlawan tiap tanggal 10 November. Jika bulan Oktober sebelumnya sempat mengajak kita menengok kembali riuhnya sejarah lewat napas Pertempuran 5 Hari di Semarang , maka bulan November ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan arti kepahlawanan dalam bentuk yang lebih luas—terutama lewat karya, konsistensi, dan pergerakan orang-orang yang terus menghidupkan sudut-sudut kota. Ya, perjuangan hari ini tidak selalu tentang bambu runcing. Di Semarang, denyut itu justru terasa lewat geliat para pegiat literasi, komunitas kreatif, peracik kopi, hingga ribuan pasang kaki yang meramaikan jalanan lewat deretan fun run dan festival akhir pekan. Kota ini terus bergerak karena ada banyak tangan yang tak lelah merawatnya. Nah, buat pembaca setia yang sedang mencari referensi kegiatan, akhir pekan mau kemana, atau sekadar ingin melihat bagaimana Semarang berdenyut sepanjang bulan ini, berikut adalah rangkuman agenda Kota Semar...

Penonton Remaja yang Jadi Raja di Bioskop Semarang


Film Aach.. Aku Jatuh Cinta tidak seperti yang diharapkan bahwa film ini akan bertahan lebih lama. Nyatanya hanya seminggu bertahan di bioskop Semarang, menurut pengamatan kofindo.

Selera penonton di bioskop Semarang akhir-akhir ini turun naik. Sempat naik di akhir tahun, kemudian redup sejenak. Film yang dianggap memuaskan selera mereka seperti Ngenest sukses memuaskan hasrat mereka. Kemudian animo yang sempat redup kembali, lagi-lagi naik saat film London Love Story diputar di bioskop yang ada Mal Ciputra ini.

Beberapa pekan, film LLS berhasil mengambil jatah teater lebih banyak dan bahkan bioskop di luar jaringan 21 pun turut ambil bagian. Ini mengingatkan saya tentang film 'Jomblo'.

Yang ringan-ringan saja

Ada artikel yang menarik dari laman metrotvnews.com, (15/2), tentang selera penonton film Indonesia. Disebutkan di sana bahwa penonton lebih menyukai kisah yang ringan dan mudah dicerna, Hanung Bramantyo.

"Sekitar 34 persen penonton film, sesuai dengan riset IKJ adalah (orang dengan tingkat pendidikan) SMA dan S1. That's why, film London Love Story laku."

"Begitu dikasih film yang lebih mikir sedikit, itu (kalangan orang berpendidikan) S2 yang nonton. Penonton S2 hanya 4 persen. That's why filmnya Angga, Surat dari Praha cuma dapat 50 ribu penonton. Siti cuma dapat 20 ribu penonton. Penonton Siti dan Surat dari Praha itu penonton S2. Anak S1 suka yang fun. Makanya, saya bikin formula Talak 3," kata Hanung.

Remaja adalah raja

Disebutkan Hanung bahwa penonton S1 termasuk bagian dari riset 34% bersama para pelajar. Dan menurut pengalaman Kofindo, saat film Indonesia tayang, bila film tersebut banyak mengangkat soal anak muda, pasti penontonnya banyak.

Dan cara menaklukkan penonton Semarang pun sepertinya sudah diketahui beberapa pihak film. Mereka yang berhasil rata-rata sutradara baru dan sangat terkenal sebagai Comic. Selain film mereka menyasar remaja, kehadiran mereka pun jadi kunci juga keberhasilan film-film mereka sukses.

Nah, bagaimana pembuat film. Mau menaklukkan Semarang sekarang? Segmen remaja sepertinya masih dianggap raja dan oleh karena itu, taklukkan dulu rajanya tersebut.

Sumber klik di sini
Gambar : suasana saat film LLS tayang perdana di Semarang.

Artikel terkait :
...

Informasi Pemasangan Iklan

Hubungi @dotsemarang
Email : dotsemarang [@] gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026

📌 Agenda Kota Semarang Bulan November 2026

🎯 Kisah Oktober: Pas Paket XL Nonaktif, Google AI Plus Pun Ikut "Masuk Angin"

🎟️ Cinema Day 27 Oktober: Strategi Baru Pengusaha Bioskop Menggaet Penonton?

🚗 Pengunjung GIIAS Semarang 2026 Tertahan di Angka 28 Ribuan, Ada Apa?