📌 Agenda Kota Semarang Bulan Oktober 2026
Berdiri di tepi jalan kawasan POJ City sembari memandangi alur sungai yang mengalir menuju laut lepas, ada pemandangan kontras yang menyita perhatian
Sebuah pusat perbelanjaan yang posisinya cukup unik karena berada tepat di kawasan pesisir Kota Atlas
Sebuah pengakuan jujur: kami sempat merasa menjadi "orang paling bodoh" ketika memutuskan datang ke area mal ini mengayuh sepeda di pertengahan bulan Juli lalu. Cuaca pesisir Semarang di siang hari memang tidak pernah bercanda. Sengatan teriknya langsung membakar semangat begitu roda sepeda berputar mendekati area pantai.
Namun, rasa gerah itu terbayar dengan lanskap visual yang jarang didapatkan di tempat lain. Melihat bangunan mal modern dari seberang kanal sungai menyajikan sudut pandang yang terasa begitu lokal sekaligus kontemporer.
Pengalaman melangkahkan kaki ke dalam bangunannya sendiri sudah kami rasakan lebih dulu, tak lama setelah momen soft opening di bulan Mei. Imfresi pertama yang langsung terasa adalah ukurannya yang masif dan layout bangunannya yang melingkar (loop circulation).
Menelusuri setiap sudutnya membuat kami merasa hanya berputar-putar saja—sebuah rute yang sebenarnya sangat mengasyikkan untuk dijadikan sarana olahraga jalan kaki. Berbeda dengan mayoritas mal di Semarang yang mengusung koridor lurus sehingga pengunjung harus berbalik arah begitu sampai di ujung jalan, di Mal 23 pergerakan terasa mengalir tanpa sudut mati. Mau menjelajah lantai paling bawah hingga lantai atas, ritme jalannya sama saja: terus mengalir.
Atrium utama mal ini terbilang sangat lapang. Namun, magnet utamanya jelas berada pada keberadaan Dauntown Park. Konsep taman terbuka hijau di dalam area mal ini seolah menjadi standar baru pusat perbelanjaan modern. Konsep serupa memang terasa sudah diadaptasi oleh tempat lain seperti DP Mall, tetapi skala dan nuansa di Mal 23 ini terasa lebih besar serta terintegrasi.
Hanya saja, ada catatan realistis yang perlu diingat. Karena posisinya yang berdekatan dengan laut, suasana taman terbuka ini tidak bisa membohongi faktor alam: kalau siang rasanya cukup menyengat dan panas. Pengunjung memang butuh timing yang tepat untuk bisa menikmati keindahan spot ini secara maksimal, seperti saat sore menjelang matahari terbenam atau ketika angin malam mulai berembus adem.
Naik ke Lantai 2, kami disambut oleh food court bernama Eateria. Arena kuliner di sini punya skala space yang sangat luas jika dibandingkan dengan food court di mal-mal Semarang lainnya. Ukurannya yang lapang memberikan kenyamanan ekstra buat pengunjung yang mau menikmati beragam sajian tanpa perlu merasa berdesak-desakan di tengah hiruk-pikuk jam makan.
Satu hal menarik yang sempat menjadi perbincangan hangat di awal mula soft opening adalah urusan jaringan seluler. Saat itu, banyak pengguna mengeluhkan buruknya sinyal HP di dalam gedung akibat adanya pembatasan jaringan.
Kehadiran fasilitas WiFi mal di sini jadi penolong krusial. Dalam era pembayaran serba digital seperti sekarang, koneksi internet yang stabil adalah kebutuhan mutlak—terutama ketika pengunjung hendak melakukan transaksi menggunakan QRIS di kasir. Beruntung, isu kendala sinyal seluler ini perlahan mulai surut dan tidak lagi menjadi bahan perbincangan utama seiring pembenahan infrastruktur di dalam area gedung.
Pada akhirnya, Mal 23 Semarang bukan sekadar hadir menambah deretan tempat belanja di Kota Atlas, melainkan memberikan alternatif ruang publik bertema pesisir yang menawarkan pengalaman arsitektur berbeda bagi warga Semarang.
Artikel terkait:
Comments
Post a Comment