Kota Semarang memasuki usia ke-479 tahun ini. Sebuah angka yang menandai kematangan perjalanan panjang sejak disahkan oleh Sultan Hadiwijaya pada tahun 1547 silam. Memasuki bulan Mei, atmosfer perayaan sudah terasa di berbagai sudut kota. Bagi warga maupun wisatawan yang berencana berkunjung, inilah momen terbaik untuk ikut larut dalam kemeriahan Hari Jadi Kota Semarang (HJK) . Mari tandai kalender Anda, berikut adalah rangkuman agenda yang akan mewarnai Kota Atlas sepanjang bulan Mei 2026. Tema HJK 479: Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat Tahun ini, Pemerintah Kota Semarang mengusung tema "Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat" . Narasi yang dibawa bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ajakan kolektif. Kami melihat adanya upaya kuat untuk menyatukan gerak antara pemerintah dan warga. Fokus utamanya adalah integrasi nilai sejarah dengan transformasi modern. Ambisi yang ingin dicapai cukup tinggi: mewujudkan Semarang sebagai kota yang bersih, sehat, cerdas, dan ...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Review Film Bangkit
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Film berdurasi 122 menit ini rilis secara nasional tanggal 28 Juli 2016. Yang menarik dari film yang dibintangi Vino G. Bastian adalah teknologi yang digunakan yaitu CGI (computer-generated imagery).
Penggemar Vino pasti tidak akan melewatkan film ketiganya sepanjang tahun 2016 (Wikipedia; Talak 3 & Super Didi). Lewat film Bangkit, Vino kembali keluar dari pakem aktingnya yang gokil. Film ini benar-benar serius dari awal hingga menjelang akhir. Jadi jangan harap ngeliat Vino membuat Anda tertawa sepanjang film.
Tema Bencana (disaster)
Tidak banyak film Indonesia yang menyuguhkan tema bencana, dan film produksi Oreima Films ini sepertinya yang pertama. Film ini sungguh dasyat dengan gambaran Jakarta tenggelam.
Saya sendiri saat menyaksikannya berada diantara dua sisi. Menerima dengan cara mengikuti alur cerita dan terkagum-kagum akan teknologi yang super dasyat menyerang Ibukota, dan satu sisi melihatnya sebagai buah karya yang secara realita itu hanya terjadi lewat film. Alias no real.
Cerita
Terlepas dari pernak-pernik yang dikemas dengan sangat baik, film ini punya 2 cerita menurut saya. Cerita pertama tentang keluarga dan satunya lagi tentang pasangan yang akan segera menikah tapi gagal. Semuanya berhasil dikemas dengan baik.
Dari awal, film ini sudah dibuat tegang. Banjir yang melanda Jakarta kali ini disertai badai yang digambarkan sangat dasyat. Bangunan banyak yang roboh, rumah tenggelam, jalan layang ambruk dan super dasyat lainnya.
Untunglah ceritanya kuat dikarakter keluarga Vino, sehingga sisi emosional yang diharapkan dapat keluar juga. Saya sangat suka dengan akting istri Vino dan anak-anaknya.
Cerita sebenarnya baru keluar saat beberapa karakter yang awalnya biasa tiba-tiba menjadi kunci. Karena mereka, Jakarta dapat diatasi dengan balutan cerita emosional diantaranya.
Pemain
Tentu, melihat pemeran utamanya adalah Vino yang berperan sebagai Addri, saya pasti menontonnya. Aktor yang sangat berpengalaman ini tidak diragukan lagi untuk mendalami sebuah peran disetiap film yang ia bintangi.
Tapi bukan mas Addri yang membuat saya terkesima dan mencuri perhatian di film Bangkit. Sosoknya jatuh pada istri Addri yang diperankan oleh Putri Ayudia. Wanita berusia 28 tahun ini berhasil membangkitkan sisi emosional yang didapat dari karakternya terutama mimik wajah manusia yang mengalami musibah.
Kehilangan anak sebagai seorang ibu dan menerima pergulatan batin bahwa suaminya yang begitu sibuk menyelamatkan orang lain, mau tidak mau membuat aktingnya lebih menarik buat saya.
Selain keluarga Addri, peran Deva Mahenra sebagai Arifin juga menarik. Aktor ini perlahan - lahan terus menancapkan aktingnya di layar lebar tanah air. Saya masih menunggu film selanjutnya, seperti apa karakter yang akan didapatnya kemudian.
Gagal menaklukkan penonton di Semarang
Menurut situs beritagar.id, film Bangkit menelan biaya total sekitar 12 milyar. Benar-benar proyek besar untuk film yang kali pertama mengangkat tema bencana.
"Ini film biayanya besar. Film termahal dari Oreima Films. Karena kita melibatkan banyak orang. Total hampir 800 orang secara keseluruhan," kata produser Reza Hidayat dilansir Warta Kota (28/5/2016).
Karena biaya besar ini, melihat pergerakan promosi film Bangkit yang begitu gencar tak heran melihatnya. Semua kanal media sosial sepertinya digunakan, promosi road show dibeberapa kota pun dilakukan dan disayangkan Semarang tidak didatangi.
Tayang perdana di Semarang, film ini ditonton kurang dari 30 penonton. Bahkan hingga jam kedua pun penonton tidak begitu besar antusiasnya seperti beberapa pekan sebelumnya.
Memang ini jadi tantangan tersendiri buat film Indonesia, mau yang biaya besar atau sedang. Saat ini, penonton yang biasa didominasi remaja tidak lagi meramaikan bioskop Semarang karena ini bukan hari libur. Jadi wajar, bila sepi penonton.
...
Secara keseluruhan film ini sangat menarik. Kofindo memberikan nilai 8 dari penghitungan 6-10. Film ini dijamin tidak membuat ngantuk karena sudah tegang dari awal hingga akhir.
Kapan lagi melihat ibukota Indonesia terendam banjir yang super dasyat? Apalagi tidak banyak film bertema seperti ini dibuat sineas Indonesia. Untuk yang pertama, film Bangkit akan menjadi pelopor film-film selanjutnya. Atau akan berhenti di sini saja. Semoga tidak.
Sebagai film berbiaya mahal, saya yakin mereka punya target 1 juta penonton. Target yang saat ini menjadi acuan karena banyak film Indonesia sekarang dengan mudah mendapatkannya.
Apakah film Bangkit mampu mendapatkannya? Ditopang aktor berpengalaman seperti Vino, teknologi yang keren, dan cerita yang memiliki kekuatan dikarakter tiap pemerannya, seharusnya bisa (mendapatkan 1 juta penonton).
Meski terdengar optimis, film Bangkit tidak mampu menarik perhatian penonton Semarang di jam perdana pemutaran. Saya pernah berucap pada teman-teman tentang film Indonesia ketika mereka mampu menaklukkan Semarang, filmnya pasti mendapat jumlah penonton besar.
Tapi itu hanya sebuah penyemangat saja, semoga tidak benar. Antusias penonton di Indonesia saat ini sedang memasuki momen yang luar biasa. Saya berharap film Bangkit mendapatkan momennya juga beberapa waktu kedepan, terutama akhir pekan besok.
Baru-baru ini, linimasa media sosial sedang ramai memperbincangkan pengumuman dari Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM RI). Isunya tidak jauh dari regulasi dan penataan platform informasi digital. Bagi sebagian orang, istilah Homeless Media mungkin terdengar baru, namun bagi kami, istilah ini membawa ingatan kembali ke suasana di UP PEAK Hotel bulan Januari lalu. Kami tidak menyangka presentasi dari Mbak Sinta Pramucitra, seorang praktisi Public Relations asal Kota Semarang yang menjadi pembicara saat itu, justru menjadi topik yang sangat relevan dan ramai diperbincangkan secara nasional sekarang. Apalagi slide yang dibawakan beliau membahas secara mendalam tentang 'Understanding Homeless Media: Dari Homeless ke Sustainable' . Saat itu, kami mulai memahami konsepnya, meski jujur saja, sebagai pengelola blog yang sudah eksis belasan tahun, posisi kami tidak berada di dalam kategori tersebut. Acara bertajuk meet up yang diselenggarakan di UP PEAK Hotel pada Selasa pagi (13/1) ...
Kota Semarang memasuki usia ke-479 tahun ini. Sebuah angka yang menandai kematangan perjalanan panjang sejak disahkan oleh Sultan Hadiwijaya pada tahun 1547 silam. Memasuki bulan Mei, atmosfer perayaan sudah terasa di berbagai sudut kota. Bagi warga maupun wisatawan yang berencana berkunjung, inilah momen terbaik untuk ikut larut dalam kemeriahan Hari Jadi Kota Semarang (HJK) . Mari tandai kalender Anda, berikut adalah rangkuman agenda yang akan mewarnai Kota Atlas sepanjang bulan Mei 2026. Tema HJK 479: Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat Tahun ini, Pemerintah Kota Semarang mengusung tema "Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat" . Narasi yang dibawa bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ajakan kolektif. Kami melihat adanya upaya kuat untuk menyatukan gerak antara pemerintah dan warga. Fokus utamanya adalah integrasi nilai sejarah dengan transformasi modern. Ambisi yang ingin dicapai cukup tinggi: mewujudkan Semarang sebagai kota yang bersih, sehat, cerdas, dan ...
Ada pemandangan yang menarik perhatian di tengah kerumunan massa yang sudah menyemut menunggu dimulainya acara. Sebuah mobil pemadam kebakaran tampak bersiaga di tengah jalan. Tak lama kemudian, unit tersebut mulai menyemprotkan air ke aspal, seolah mengonfirmasi bahwa panas di Kota Semarang siang itu memang sudah di luar nalar. Minggu siang (26/4), kami memutuskan untuk meliput gelaran Pawai Ogoh-ogoh 2026 tepat di depan Balai Kota Semarang. Berbeda dengan tahun sebelumnya di mana kami mendokumentasikan acara dari atas Jembatan Pandanaran , kali ini kami ingin merasakan langsung atmosfer di jalur utama. Halaman ini belum sepenuhnya ingin menceritakan tentang kemeriahan pawainya. Kami masih menahan diri untuk mengulas hidangan utamanya. Namun, cerita di balik layar mengenai persiapan jalur ini rasanya cukup menarik untuk dibagikan terlebih dahulu. Fenomena "Satu Orang Satu Matahari" Jika sering berselancar di media sosial, khususnya Threads, jargon "satu orang satu ma...
Sudah cukup lama sejak terakhir kali kami menyematkan label ' Boyolali ' di blog ini. Ingatan terakhir kami tentang Kota Susu ini masih tertuju pada sejuknya Ekowisata Taman Air Tlatar yang kami kunjungi pertengahan 2024 lalu. Ternyata, butuh waktu hampir dua tahun bagi kami untuk kembali mengulas cerita dari sana, meski kali ini sudut pandangnya bukan tentang wisata, melainkan tentang masa depan digital anak mudanya. Baru-baru ini, sebuah informasi datang ke grup media Semarang yang kami ikuti mengenai langkah baru XLSMART (entitas baru hasil integrasi XL Axiata dan Smartfren). Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional 2026, mereka menggelar Workshop Kelas Cerdas Digital di Boyolali. Menariknya, program ini membawa semangat " Teman Pintar "—sebuah inisiatif yang dulunya sangat lekat dengan komunitas Smartfren—yang kini jangkauannya terasa lebih luas dan masif pasca-merger. Bukan Sekadar Akses, Tapi Soal Kompetensi Bagi kami yang sudah belasan tahun berkeci...
Kamis kemarin (7/5), ASUS resmi memperkenalkan ASUS ExpertBook Ultra di Jakarta. Perangkat ini disebut-sebut sebagai tolok ukur baru bagi gaya kerja masa depan. Tidak heran jika kehadirannya di Indonesia disambut dengan peluncuran yang mewah dan penuh pernyataan kuat dari para petinggi industri. Mari kita sambut era baru di mana laptop bisnis tidak lagi sekadar alat ketik, melainkan asisten pintar yang bertenaga. Kami sendiri akhirnya mendapatkan rilis yang dikirimkan secara massal ke berbagai media pasca-acara tersebut. Sayangnya, kali ini kami harus memantau dari jauh karena tidak lagi mendapatkan undangan seperti tahun-tahun sebelumnya. Rasanya seperti menyaksikan sebuah transisi; mungkin era blogger di mata brand memang sedang bergeser, namun antusiasme kami terhadap teknologi terbaru tidak akan pernah surut. Membaca rilis yang kami terima, ASUS tampak sangat percaya diri "meledakkan" pasar melalui visi "The Power of AND" —sebuah komitmen untuk menghadirkan per...
Kalau yang main film ini Reza Rahadian dan Dian Sastro, mungkin nggak ya tembus 1jt penonton?
ReplyDeleteKalau kedua orang itu masuk, karakternya berbeda lagi tentunya. Lagian, mereka pasti lebih mahal dan tidak mudah merekrut mereka bermain di sini. :)
DeleteBagusss,,,, smgt cgi Indonesia 👍
ReplyDelete